WAWANCARA

Berkendara Aman, Nyaman, dan Tetap Gaya

Ahad, 30 April 2017 09:45 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/RAMDAN

HARI itu sekitar pukul 09.00 Media Indonesia sudah berada di sebuah kafe di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, untuk bertemu dengan CEO Queenrides, Iim Fahima. Isu keselamatan berkendara yang semakin urgen di Indonesia serta semakin banyaknya kaum perempuan yang berkendara secara mandiri menjadi perhatiannya agar dapat memberdayakan para perempuan untuk dapat berkendara dengan baik dan aman. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda melihat fenomena pengendara perempuan di Indonesia saat ini?

Pertama kita lihat dari kecenderungan pertumbuhan pengguna ya, pengendara perempuan kan jumlahnya naik signifikan dalam 4 tahun belakangan. Kalau dari data private sector itu sekitar 42%. Tapi pada saat yang sama, angka kecelakaan yang melibatkan perempuan dalam 2 tahun meningkatnya itu 49,5%. Kalau kita bicara angka kecelakaan di Indonesia, itu per jam ada sekitar tiga orang meninggal atau 74 orang meninggal dalam 1 hari, perbandingannya 5:2-nya adalah perempuan.

Itu data dari 2014-2015. Jadi, kalau kita melihat ini fenomena apa, pertama fenomena semakin mandirinya perempuan di Indonesia. Jadi, women empowerment di Indonesia memang berjalan sangat luar biasa, makanya para perempuan bisa beli motor, beli mobil dll.

Itu sejalan dengan hasil surveinya Queenrides yang melibatkan 2.000 perempuan di Indonesia, menyebutkan 80% pengendara perempuan itu menggunakan kendaraannya untuk bekerja mendukung keluarganya, terlepas mereka membeli sendiri atau tidak, tapi mereka menggunakan kendaraan yang mereka punya untuk bekerja.

Apa dampak ke depan terhadap perempuan jika peningkatan angka kecelakaan tersebut tidak ditangani dengan baik?

Balik lagi ke datanya bahwa peningkatan kecelakaan luar biasa 49,5% dalam waktu hanya dua tahun, kalau kita tidak mengangkat isu ini di tengah industri transportasi dan otomotif yang sangat maskulin dan menganggap perempuan hanya sebagai target market. Saya membangun Queenrides, dengan mengangkat satu isu, yaitu women ride safe, ajakan supaya perempuan berkendara dengan aman. Kenapa perempuan, bahkan banyak yang berpikir saya sexist dan itu salah.

Kita mengerti bagaimana berbicara dengan perempuan, di tengah industri otomotif yang begitu maskulin dan tidak mengerti bagaimana berbicara dengan perempuan. Kalau selama ini safety riding mostly dikerjakan dengan bahasa laki-laki, kita mengemas edukasi safety riding in a feminin way dengan approach-nya safety, style and beauty. Makanya kenapa perkembangan Queenrides bisa cepat.

Kegiatan apa saja yang dilakukan Queenrides?

Kita selama 1 tahun 4 bulan sudah lebih 200 ribu perempuan yang bergabung baik offline dan online seluruh Indonesia meskipun kami fokusnya masih di Jabodetabek. Meskipun nanti kita masuk ke wilayah lain di Indonesia. Sekarang kami sudah melakukan edukasi lebih 20 kali dari tahun kemarin.

Queenrides menjadi partisipasi publik yang ikut membantu pemerintah mengedukasi fokusnya di perempuan. Mengapa perempuan bukan semata-mata faktor growth, melainkan juga perempuan adalah sebagai ibu, ibu yang merawat keluarganya, seseorang yang menjadi role model yang intens hubungannya dengan anak-anak mereka yang akan menjadi penerus pesan besar ini ke depannya.

Sejauh mana dampak dari edukasi atau pemberdayaan yang anda lakukan selama ini?

Kita setiap memberikan edukasi selalu melakukan survei, dan surveinya mengatakan mereka semula yang zero awareness terhadap road safety sampai akhirnya mereka mau mengubah perilakunya. Mengubah behavior itu ialah proses panjang, setidaknya dari yang semua tidak aware menjadi sangat aware dan mau mengubah itu ialah suatu lompatan yang luar biasa. Saya pikir hal-hal seperti ini yang harus digemakan dengan besar.

Kita juga mengajari perempuan ke bengkel, bukan untuk membuat mereka jago menjadi seorang teknisi, melainkan dalam rangka memberi tahu mereka hal-hal yang harus dilakukan dalam keadaan emergency. Jadi, tahu cara melindungi diri sendiri. Kita juga memberikan pengetahuan soal membuat SIM, karena berdasarkan survei kita, 50% anggota Queenrides itu tidak punya SIM atau kalau punya SIM dengan cara nembak. Makanya angka kecelakaan sangat tinggi, yang kita lakukan ialah meng-encourage perempuan-perempuan tersebut untuk punya SIM dengan menggunakan jalur yang benar, artinya tidak menyogok. Harus tes teori, tes praktik, dan lain-lain.

Bagaimana penerimaannya sendiri seperti apa?

Sangat positif, mereka sangat berterima kasih karena selama ini tidak ada yang memberi tahu mereka sampai sedetail ini. Jadi, sangat mengharukan, apa yang aku punya bisa memberi dampak ke orang lain, itu hal yang besar.

Bagaimana cara mendekati mereka sampai akhirnya mau bergabung?

Pertama memang via media sosial dan website. Saya orang yang percaya dengan kekuatan online dan offline, makanya dari online kita turunkan ke offline. Jadi kombinasikan semua kanal online dan offline.

Kendala-kendala apa saja yang anda temui di lapangan selama ini?

Safety riding perempuan adalah sesuatu yang masih sangat elite, bukan hanya untuk perempuan sebenarnya. Safety riding masih sangat kurang di Indonesia dan fatalitasnya masih tinggi bahkan one of the worst in the world. Menjadikan hal tersebut dekat ke perempuan itu bukan sesuatu yang bisa langsung ke perempuan, jadi kita harus melakukannya dengan berbagai angle, mulai ngopi cantik, beauty class, edukasi pengusaha, dan lain-lain sambil dimasukkan unsur safety riding. Kedua mengubah perilaku bukan hal yang mudah. Contohnya banyak yang salah sangka kalau membuat SIM dengan Queenrides berarti bisa menyogok, padahal tujuan kita bukan mengumpulkan orang untuk ikut SIM, melainkan memastikan mereka melewati proses yang benar. Untuk mengajak orang melewati proses yang betul itu luar biasa, sekarang saya mulai memahami bagaimana pak Jokowi, pak Ahok, dan pejabat lainnya ketika mereka harus mengubah perilaku di masyarakat yang sudah terbiasa bribing dan mengambil jalan pintas.

Apa saja kesalahan yang paling sering dilakukan perempuan dalam berkendara?

Sebenarnya bukan kesalahan juga karena ada satu karakter basic di perempuan, yaitu ketika berkendara kurang percaya diri. Itu balik lagi ke hasil penelitian Australia Automotive Association, ya, karena formasi otak yang mengakibatkan mereka sangat hati-hati dan karena saking hati-hatinya bisa celaka atau malah menjadi korban kecelakaan.

Kalau secara global, bagaimana data dan perkembangan isu-isu mengenai keamanan berkendara?

Kalau isu global itu lebih berbicara tentang perempuan dan transportasi, jadi bagaimana transportasi yang women friendly itu bisa mendukung women empowerment. Kenapa? Karena tren dunia pemimpin perempuan dan pekerja perempuan semakin besar. Mungkin akan ada titik ketika jumlah perempuan yang bekerja jauh lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Income perempuan akan lebih besar dari laki-laki. Untuk itu dibutuhkan sistem transportasi yang lebih women friendly dan segala aktivitas yang mendukung women empowerment menjadi lebih kuat.

Komentar