Travelista

Danau Toba setelah Silangit Beroperasi

Ahad, 30 April 2017 06:01 WIB Penulis: Fario Untung

MI/FARIO UNTUNG

Kini tak perlu payah menempuh perjalanan darat, dari Bandara Silangit, kurang dari 2 jam saja, sambil menikmati panorama tanah Batak, kita akan sampai di Danau Toba.

KETIKA sinar matahari belum memancarkan sinarnya, rombongan kami sudah bergegas menuju Stasiun Kota Medan untuk menuju Bandar Udara Internasional Kualanamu menggunakan Rail Link. Tujuannya, danau terbesar di Indonesia, Danau Toba.

Perjalanan menuju Danau Toba memang dapat ditempuh dengan berbagai moda, darat dan udara. Namun, kali ini, berhubung keterbatasan waktu, rombongan Media Experience ISS Indonesia 2017 memilih jalur udara dari Kualanamu menuju Bandar Udara Silangit, selama 50 menit.

Menggunakan pesawat jenis ATR, kami pun bergegas meninggalkan Bandara Kualanamu untuk menjumpai salah satu ikon Sumatra Utara itu. Tak memakan waktu lama di atas awan, pesawat kami mendarat mulus di Bandara Silangit.

Bandara yang tampak sedang melakukan aneka renovasi itu tampak tidak begitu ramai, maklum saat itu adalah hari biasa, tak banyak turis yang berkunjung.

Perjalanan kami dilanjutkan bus menuju Parapat, salah satu daerah yang menyajikan pemandangan Danau Toba paling spektakuler. Selama perjalanan, pemandu wisata langsung memberikan sambutan hangat dan tentunya ciri khas Batak.

"Horas, horas, horas," teriak Alusman Sitio, pria asli Kabupaten Samosir tersebut.

Menuju Parapat dari Bandara Silangit menggunakan bus membutuhkan waktu kurang lebih 90 hingga 120 menit. Selama perjalanan itu, rombongan akan disuguhi jalanan berkelok dengan pemandangan nan indah berupa pegunungan, perbukitan, rumah khas Sumatra Utara, dan tak jarang panorama Danau Toba dari kejauhan.

Setelah melewati perjalanan cukup melelahkan selama hampir 4 jam dari Medan menuju Parapat, rombongan tiba di Hotel Inna Parapat. Presiden Indonesia Joko Widodo pernah menginap di hotel yang dibangun pada 1911 ini saat mengunjungi Karnaval Pesta Kemerdekaan HUT Ke-71 RI pada 2016 lalu.

Hotel seabad

Tampak depan, hotel ini punya penanda, rumah adat Sumatra Utara, atapnya segitiga menjulang ke atas.

"Selamat datang di Inna Parapat, selamat menikmati keindahan Danau Toba," tutur salah satu penerima tamu. Tak hanya tampak depan saja yang memesona, panorama dari belakang hotel pun luar biasa. Pengunjung secara langsung diberikan pemandangan Danau Toba yang begitu indah di setiap sudut kamar, tentunya ditambah udara sejuk berembus bebas dari segala arah.

Kami pun tak berlama-lama menghabiskan waktu di hotel karena setelah makan siang di tepian danau, sebuah kapal telah menunggu membawa rombongan berkeliling Danau Toba. Ya, kami akan mengeksplorasi langsung danau seluas hampir 1.130 meter persegi, dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Batu Gantung

Dalam perjalanan menggunakan kapal wisata, Alusman mengatakan kami akan mengunjungi dua ikon Danau Toba. Pertama, Batu Gantung yang jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari dermaga di Inna Parapat Hotel. Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit, rombongan pun diarahkan ke sebuah tepian yang berwujud bukit berwarna hijau, dipenuhi pepohonan. Di atas bukit tersimpan legenda sekaligus salah satu destinasi di Danau Toba.

"Ini adalah Batu Gantung. Konon cerita masyarakat dulu, batu yang menggantung itu adalah perempuan bernama Seruni yang meninggal karena menolak permintaan orangtuanya untuk menikah dengan saudara sepupunya," tutur Alusman.

Alusman melanjutkan cerita legenda itu, ketika Seruni merasa putus asa karena tidak tahu harus berbuat apa, perempuan itu akhirnya ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Danau Toba dengan membawa seekor anjing peliharannya.

Namun, ketika hendak meloncat, Seruni malah justru terperosok ke dalam sebuah lubang batu besar hingga masuk ke dasarnya.

"Nah selama di dalam lubang itu, Seruni terimpit batu tersebut hingga akhirnya tidak bisa terselamatkan. Dan beberapa saat kemudian, muncullah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba sehingga masyarakat sekitar memercayai batu tersebut adalah jelmaan Seruni dan diberi nama Batu Gantung," jelas Alusman. Dari kejauhan, Batu Gantung yang berwarna abu-abu keputihan itu memang sudah cukup terlihat. Menjulang ke bawah sekitar 1-1,5 meter, batu tersebut memang memiliki perbedaan tersendiri dari sekeliling bahkan wilayah Danau Toba itu sendiri.

Rumah bolon

Destinasi selanjutnya, Huta Siallagan. Bentangan Danau Toba yang begitu luas akhirnya membawa kami ke lokasi ini setelah mengarungi danau selama sekitar 1 jam.

Nakhoda kami berhenti di sebuah dermaga yang tampak terlihat cukup ramai oleh penduduk sekitar. Setelah turun dari kapal, Alusman menyebut jika rombongan akan dibawa ke Huta Siallagan, lokasi rumah adat Sumatra Utara yang terpampang rapi dan terawat baik.

Namun dari kejauhan, tempat tersebut masih belum terlihat dan hanya tampak sederetan kios yang menjajakan suvenir. Kami pun harus berjalan sekitar 100-200 meter untuk bisa sampai ke Huta Siallagan. Karena penasaran, saya bersama rombongan pun mempercepat langkah kaki untuk mengikuti pemandu wisata yang sudah berada di barisan paling terdepan. Hingga akhirnya, kami berjumpa penampakan tembok setinggi hampir 2 meter.

Benar saja, setelah melewati sebuah pintu yang hanya memuat sekitar dua orang itu, kami langsung disuguhi deretan rumah adat Sumatra Utara yang lebih dikenal dengan nama rumah bolon. Arsitektur yang menjadi ciri khas rumah adat tersebut, material kayu cokelat dengan atap segitiga menjulang tinggi.

Sebanyak delapan rumah bolon tampak terjajar begitu rapi dan terawat penghuninya. Yang menarik, di depan salah satu rumah bolon tersebut, terdapat deretan meja dan kursi yang disusun melingkar menyerupai tempat berdiskusi atau rapat.

Christian Siallgian yang menjadi pemandu wisata di Huta Siallagian menjelaskan batu tersebut merupakan kursi persidangan. "Batu ini dimaksudkan raja sebagai tempat menghukum masyarakat yang melanggar aturan kerajaan. Hukumannya bisa berupa hukum pasung atau hukum pancung," kata Christian yang mengaku masih keturunan raja.

"Jadi ini merupakan tempat bagi raja untuk menghukum masyarakat yang melakukan kesalahan atau pelanggaran. Nantinya setelah divonis bersalah, raja beserta para petinggi di sini akan menentukan hari hukuman berdasarkan kalender orang Batak. Nantinya selama menunggu eksekusi, terdakwa akan dibawa ke salah satu rumah bolon ini," tutur Christian.

Menari di Huta Siallagan

Setelah serius mendengarkan penjelasan mengenai sejarah Hutta Siallagan, rombongan kami pun dibuat lebih rileks oleh Christian. Kali ini, rombongan dipersilakan mengikuti adat istiadat daerah setempat, menari mengikuti alunan lagu ciri khas batak serta patung Si Gale-Gale. Nantinya, Si Gale-Gale akan ikut menari dan menunggu untuk disawer para penari.

"Horas, horas, horas," teriak pemandu yang menandakan berakhirnya rutinitas perjalanan di Hutta Siallagan. Hingga akhirnya, matahari yang hendak terbenam itu pun membawa kami kembali menelusuri gang-gang yang berisikan jualan barang-barang suvenir untuk kembali ke dermaga dan melanjutkan perjalanan pulang ke Inna Parapat Hotel. Horas!(M-1)

Komentar