MI Muda

Bedah Gerobak, Berbagi Suka

Ahad, 30 April 2017 04:01 WIB Penulis: Bagus Patria/M-1

MI/Duta

Dua gerobak, banyak relawan, hasilnya lokasi mencari rezeki, bahkan tempat tinggal yang lebih resik, bersih, dan penuh warna!

BEBERAPA anak muda berkaus putih, didominasi perempuan, sibuk mengutak-atik gerobak di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ada yang sedang mengecat, mengamplas, mengencangkan sekrup, atau sekadar mendokumentasikan pekerjaan teman-temannya menggunakan kamera SLR. Gerombolan anak muda itu menamakan diri mereka relawan gerakan sosial #Diberiuntukmemberi.

Pada Selasa (28/3) tersebut, mereka menggarap program Bedah Gerobak, salah satu program terbaru gerakan sosial #Diberiuntukmemberi. Dalam program Bedah Gerobak, para relawan merenovasi gerobak-gerobak terpilih, mulai membetulkan bagian-bagian rusak, mengecat ulang, hingga mengganti beberapa barang-barang lama.

Menurut pendiri #Diberiuntukmemberi, Hana Hetty Manuella, 24, program merenovasi gerobak dipilih karena banyak orang yang belum sadar, banyak pemiliknya yang butuh bantuan. "Selama ini kebanyakan orang cuma tahu charity itu ya di panti asuhan atau panti jompo, padahal banyak juga orang di luar itu yang butuh bantuan," jelas Hana saat ditemui Muda, Selasa (4/4).

Seleksi gerobak

Pada kegiatan pertama Bedah Gerobak, tim #Diberiuntukmemberi memilih dua gerobak yang telah lolos kualifikasi sehingga layak direnovasi. Gerobak pertama, milik Karniwah di Menteng, dan milik penjaja nasi goreng, Agus, yang berlokasi di sekitar kampus Universitas Moestopo, Senayan.

Tidak asal renovasi, tim Bedah Gerobak merenovasi gerobak sesuai dengan kebutuhan. Mereka melakukan beberapa riset terlebih dahulu sehingga rencana memperbesar gerobak Karwinah yang menjadi tempat mencari nafkah sekaligus tempat tinggalnya agar lebih nyaman justru dibatalkan.

Karwinah menolak dan mengatakan tidak perlu diperbesar karena dia dan suaminya sudah nyaman tinggal di gerobak yang hanya seukuran 1,5 x 3 meter tersebut.

"Jujur saya senang sekali waktu warung ini direnovasi, jadi banyak orang yang datang karena penasaran warung saya lucu banyak dekorasinya gini," Jelas Ibu Karwinah, pemilik warung yang sudah tinggal di dalam gerobak bersama suaminya selama 28 tahun.

Akhirnya, untuk gerobak Karwinah, mereka melakukan pengecatan ulang, pemberian tikar baru, dan bantuan barang untuk dijual kembali. Untuk gerobak nasi goreng Agus, tim Bedah Gerobak melakukan pembetulan seng-seng badan gerobak, kompor dan ban, serta tentunya pengecatan ulang.

Memilih gerobak untuk nantinya direnovasi, diakui Hana, menjadi kendala tersendiri. Beberapa persyaratan yang harus dimiliki gerobak tersebut antara lain tidak berjualan di sembarang tempat, punya izin dagang, dan tidak mengganggu kepentingan umum. Untuk mencari gerobak berizin itulah yang jadi kendala paling berat dalam program ini.

Tim Bedah Gerobak yang berjumlah sekitar 15 orang dibagi menjadi dua agar pekerjaan menjadi lebih efisien. Walaupun terbuka untuk siapa saja, #Diberiuntukmemberi tetap membatasi jumlah relawan di tiap gerobak yang direnovasi.

Hal itu dilakukan agar setiap orang bisa memiliki kontribusi yang cukup dalam proses renovasi gerobak. "Nantinya biar enggak ada yang cuma selfie atau update Instagram Story waktu orang-orang pada kerja," canda perempuan kelahiran Tanjung Pandan itu.

Selain itu, mereka memisahkan orang-orang yang saling kenal. Hal itu bertujuan agar selain melakukan amal, para relawan dapat berkenalan dengan orang-orang baru.

Kurang relawan laki-laki

Sayangnya, pada kegiatan yang mereka sebut jilid pertama ini, Bedah Gerobak sangat kekurangan relawan laki-laki. Dari total 15 relawan, laki-laki hanya berjumlah tiga orang sehingga beberapa relawan perempuan kesulitan mengerjakan pekerjaan berat, pekerjaan yang sifatnya lebih ke teknis seperti pengamplasan dan lain-lain.

Ada pula kendala cuaca. Acara yang awalnya direncanakan pada Jumat (17/3), tetapi saat pagi tiba, cuaca terlihat kurang mendukung karena hujan lebat. Akhirnya, panitia sepakat mengubah jadwal ke minggu selanjutnya.

Beruntung, pada Selasa (28/3) cuaca terlihat cerah dan mendukung sehingga acara bisa dilaksanakan dengan lancar.

Edukasi

Pada awalnya program bedah gerobak ini mendapat beberapa tanggapan buruk dari orang. Banyak yang beranggapan gerobak-gerobak di pinggir jalan banyak yang melanggar aturan. Selain itu, gerobak-gerobak tersebut tidak jarang menghasilkan sampah cukup banyak dan pemiliknya membuang di tempat tidak seharusnya.

Untuk menguranginya, Hana beserta tim Bedah Gerobak tidak hanya melakukan renovasi, tetapi juga edukasi. Masalah sampah memang jadi salah satu fokus mereka dalam memberikan edukasi.

"Contohnya kan Ibu Karwinah jualan kopi. Nah kita kasih dia edukasi kalau lebih baik jangan pakai gelas plastik yang sekali buang. Untuk itulah kita juga ngasih dia gelas plastik yang bisa dicuci agar tidak jadi banyak sampah," jelas Hana saat ditanya soal proses edukasi.

Selain itu, untuk gerobak nasi goreng Pak Agus, tadinya penjual tersebut menjual dengan kemasan styrofoam yang tak ramah lingkungan dan menggantinya dengan kertas nasi. Ada juga pemberian tong sampah untuk setiap gerobak yang dibedah. (M-1)

Bagus Patria, Mahasiswa Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar