MI Muda

Komik enggak Jelas, Tujuan Jelas

Ahad, 30 April 2017 02:31 WIB Penulis: Ni Putu Trisnanda/M-1

Dok. Pribadi

Ia sukses memadukan seni dan bisnis, dengan memacu diri agar senantiasa kreatif serta disiplin memenuhi tenggat.

JASMINE Sukartty merintis jalan menjadi komikus sejak SD. Ia berkarya dan sukses menjualnya. Kini, ia bergabung bersama komunitas untuk menambah keterampilan sekaligus berbagi kiat dengan para juniornya.

Selain komik, Jasmine produktif menggarap ilustrasi, desain grafik, film, hingga gim.

Yang paling keren, Jasmine juga aktif mengikuti beberapa workshop atau forum pegiat visual untuk mempersiapkan komikus muda yang ingin berkecimpung di dunia visual.

Simak ya, obrolan Muda dengan penulis Komik ga Jelas ini!

Ceritakan dong perjalanan kamu menjadi komikus?

Enggak kebayang malah bakal jadi komikus, dulu justru ingin jadi astronaut. Ingin sekali, sampai akhirnya aku dinyatakan mengidap skoliosis atau kemiringan pada tulang belakang waktu kelas 5 SD. Akhirnya aku harus terapi dalam jangka waktu lama. Singkat cerita, sejak saat itu, menggambar dan membaca komik menjadi sahabat sekaligus pelarianku.

Setelah itu ya aku jadi terbiasa buat menggambar di mana pun. Malah ada pengalaman unik waktu duduk di bangku SD. Jadi, dulu orangtuaku melarang aku jajan sembarangan, makanya uang sakuku dibatasi. Nah, namanya anak-anak kan bandel. Akhirnya aku bikin komik pertama, judulnya Poni Cantik, lalu aku jual ke teman-teman harganya cuma Rp500 tapi lumayan, aku jadi bisa jajan sering-sering dan nabung buat beli komik. Akan tetapi, aku benar-benar dapat izin untuk jadi komikus setelah lulus kuliah.

Berarti dari sana sudah terampil jualan juga dong?

Bisa dibilang iya, tapi sampai beberapa waktu yang lalu aku masih mengalami beberapa pengalaman kurang mengenakkan di bidang ini, terutama soal hukum. Aturan di industri kreatif Indonesia juga masih abu-abu jadi ketelitian juga pemahaman yang baik saat kontrak itu perlu supaya nantinya sama-sama enak antara aku dan klien.

Apa kamu melanjutkan studi di bidang-bidang tersebut?

Tidak, background aku art, tetapi justru banyak belajar saat tergabung di komunitas. Komunitas aku sekarang, Komikin Ajah, termasuk aktif juga memiliki banyak anggota, jadi di situ bisa sharing pengalaman ke pemula, tapi aku juga bisa belajar dari senior. Bahkan bukan enggak mungkin, aku belajar dari yang pemula juga. Salah satunya adalah forum-forum mingguan rutin serta program Temu Bincang.

Karakter gambar kamu?

Aku sempat mengalami dua fase, waktu SD-SMP aku suka banget manga, makanya komik yang aku jual waktu SD, juga memiliki judul dengan kesan imut.

Akan tetapi, sejak SMA hingga sekarang aku jatuh cinta sama Amerika yang kuat dengan karakter-karakter superheronya. Bisa dibilang kiblat aku Marvel atau DC, tapi aku tetap punya gaya sendiri di tiap karakter.

Ceritakan dong soal Komik ga Jelas?

Komik ga Jelas muncul pada 2014, tujuan utamanya menghibur, terutama untuk anak-anak usia sekolah. Soalnya, aku merasa mereka mulai kesulitan mendapatkan hiburan atau tontonan sesuai dengan usianya.

Jadi obrolan yang hadir di komik itu ya sederhana dan relateable sama kehidupan sehari-hari. Kalaupun ada kritik sosial aku coba sampaikan dengan halus.

Ya lumayanlah sekarang sudah dinikmati sama banyak orang. Terbukti dari rilisan komik strip yang aku bukukan pada Oktober 2016, berhasil terjual habis 30 ribu eksemplar selama dua bulan.

Selain buku, ke depannya ada terobosan apa lagi dengan karakter di Komik ga Jelas?

Lumayan banyak PR ke depannya. Komik ga Jelas sebentar lagi bakal ada di stiker di gawai, lalu Agustus tahun ini akan ada gim yang isinya mengenalkan permainan-permainan tradisional Indonesia dengan karakter-karakter dari Komik ga Jelas.

Bisa sampai sejauh ini, promosinya gimana?

Tentu lewat medsos. Selain karena mudah dan murah ya, seperti yang kita tahu konsumen di Indonesia itu aktif banget pakai medsos apalagi target aku yang kisaran usianya 15-24 tahun itu lagi aktif-aktifnya pakai medsos.

Tertarik untuk membuat komik seri?

Untuk saat ini aku masih suka dengan komik strip ya, tapi bukan tidak mungkin ke depannya aku bikin juga.

Berniat menjadikan komik sebagai karier?

Mungkin banget, apalagi kalau memang passion-nya di situ pasti bisa. Akan tetapi, ya, sepengalaman saya, harus giat dan sabar kalau mau jadi komikus.

Karena awal-awal pasti pelan sekali kemajuannya. Lama-kelamaan kalau sudah paham pasar dan rajin, pemasukannya juga lumayan kok.

Saya sudah memeulainya, tapi saya iringi juga dengan kegiatan menjadi ilustrator, concept artist, dan motion graphic. Semuanya sih bidang yang sama, output-nya saja yang berbeda.

Penghasilannya berapa sih kalau jadi komikus?

Selama aku jadi komikus, pemasukan dari komik bisa sampai puluhan juta rupiah per bulan. Akan tetapi, kalau sedang tidak ada sponsor yang mau iklan, ya harus sabar, paling hanya dapat Rp1 juta hingga Rp2 juta saja per bulan.

Sekarang sedang sibuk apa?

Aku sekarang sedang mengelola PT yang akau dirikan, namanya PT JHS Production yang jadi wadah buat proyek sampingan. Lalu ada kerja sama dengan organisasi internasional Girl Effect yang bekerja sama dengan enam komikus negara lain seperti Nigeria, Filipina, Afrika Selatan, Pakistan, dan Kolombia untuk membuat sebuah komik superhero perempuan sebagai kampanye girls' effect. Nantinya akan diberikan kepada anak-anak di penjuru negeri.

Menurut kamu, bagaiana sih potensi komikus Indonesia?

Komikus kita banyak banget dan serbabisa, artinya mau cari yang manga, Marvel, semua ada. Namun, sayangnya kekayaan karya mereka itu tidak diimbangi pengetahuan yang cukup di bidang hukum.

Menurut aku, saat komikus dapat tawaran dari publisher atau klien itu, harus benar-benar dipahami sistem kerja dan kontraknya supaya enggak rugi bandar he he he.

Selain masalah hukum, ada kiat lainkah buat komikus di luar sana?

Ada beberapa poin penting sih. Pertama harus konsisten sama deadline, mau itu deadline dari diri sendiri atau dari publisher, supaya nantinya masyarakat terus ingat sama karya kita dan akhirnya jadi pembaca setia.

Kedua harus rajin riset supaya komik yang sudah jadi punya alur cerita yang menarik dan real.

Ketiga, harus peduli juga terhadap sistem pemasarannya, apa itu dibuat merchandise atau yang lain supaya ada pemasukan walaupun belum dapat sponsor. Terakhir yaitu soal hukum, harus paham!

Kalau peran pemerintah sejauh ini bagaimana?

Kepedulian mereka sudah ada dengan adanya kompetisi dan workshop, tetapi untuk working space gitu-gitu sih aku belum pernah dengar.

Harapannya untuk para komikus pemula?

Harus fight! jangan mudah menyerah! (M-1)

Ni Putu Trisnanda, Mahasiswa Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar