Hiburan

Hari Raya Pecinta Rilisan Fisik

Ahad, 30 April 2017 01:30 WIB Penulis: Thalatie K Yani

DOK. BAGUS

Tahun ini Record Store Day (RSD) mencoba kembali ke esensi awalnya. Merayakan RSD di toko masing-masing.

PULUHAN pemuda dan pemudi terlihat mengantre di lantai teratas sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Sebagian dari mereka terlihat memegang beberapa rilisan fisik mulai kaset pita, CD, hingga piringan hitam. Antrean itu merupakan antrean orang-orang yang ingin membeli album pendek Hertz Dyslexia II milik band rock asal Bandung, The SIGIT, yang dirilis ulang kedalam format kaset pita dalam rangka Record Store Day Indonesia.

Tepat pada Sabtu (22/4), para pecinta rilisan fisik di seluruh dunia merayakan hari raya besar mereka, Record Store Day (RSD). Tahun ini kota-kota besar di Indonesia juga tidak mau ketinggalan, mulai Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga kota di luar Pulau Jawa seperti Palembang, Lombok, dan Padang turut mengadakan acara-acara untuk merayakan pesta RSD seluruh dunia tersebut.

Meski dilaksanakan terpisah, mereka memiliki semangat yang sama, yaitu membangkitkan kembali rilisan fisik di era digital ini. RSD di Indonesia mulai dirayakan pada 2012. Acara yang diprakarsai Hey Folks Shop dan Monka Magic Store tersebut diadakan tepat pada 22 April, berlokasi di Monka Magic Store yang terletak di Kemang.

Diakui atau tidak, Jakarta masih menjadi titik pusat RSD tahun ini. ADa tiga titik perayaan RSD, yaitu di Kuningan City dengan bendera Record Store Day Indonesia, Basement Blok M Square, dan Pasar Santa dengan bendera Record Store Day Jakarta. RSD Indonesia mulai lebih dulu pada Jumat (21/4). RSD Jakarta mulai Sabtu (22/4) selama dua hari.

Selain bazar rilisan fisik, berbagai band merilis album dalam format kaset pita, CD, hingga piringan hitam yang dijual secara eksklusif pada perayaan RSD ini. Sejumlah band indie yang terlibat ialah Mocca, Oscar Lolang, The Trees and The Wild, Polyester Embassy, dan Ramayana Soul. Bahkan legenda progresif rock Giant Step yang digawangi Benny Soebardja menghadirkan album Life is Not the Same. Lebih dari 50 rilisan eksklusif yang bisa didapatkan pada RSD.

Tidak mau ketinggalan grup shoegaze yang baru meluncurkan album perdananya Heals juga berpartisipasi. Pendatang asal Bandung itu merilis ulang album Spectrum ke dalam format kaset pita di bawah label Fast Forward Records. "Kalau kita pilih rilis kaset untuk ikut meramaikan RSD saja. Kenapa kaset, karena menurut kita kaset itu barang yang collectible item sih," jelas Radovan Raynes, 24, manajer Heals saat dihubungi di sela-sela tur Jawa-Bali mereka.

Penjual kaset pita, klaim Radovan, terbilang sukses. Total 100 kaset yang mereka sediakan untuk RSD, ludes dalam dua hari. Bahkan beberapa rilisan band besar seperti The SIGIT dan The Trees and The Wild habis dalam waktu kurang dari setengah jam. "Daripada kehabisan mending gue rela antre sebelum stannya dibuka. Soalnya kalau beli di tengkulak bisa naik sampai tiga kali lipat harga asli," jelas Aryo, 23, seorang mahasiswa yang sudah mengantre sejak pukul 10.00.

Perayaan RSD di Jakarta juga diramaikan penampilan band-band indie. Seperti Ramayana Soul dan Stereomantic di Pasar Santa, dan The Brandals, Ikkubaru, dan Monkey to Millionaire di Kuningan City. Sayang, Giant Step yang didapuk sebagai penampil penutup pada hari terakhir RSD Indonesia harus puas dengan hanya membawakan tiga lagu. Pihak penyelenggara mendapatkan protes dari masyarakat. Padahal, mereka sudah memegang izin keramaian.

Esensi awal

Sejak 2015, RSD di Jakarta menjadi satu bendera dengan RSD Indonesia. Dalam acara yang diadakan di Bara Futsal, Blok M itu bisa dibilang menjadi salah satu puncak kenaikan rilisan fisik di Indonesia. "Itu bisa dibilang salah satu yang paling ramai sih karena memang hampir semua store kumpul semua di sana," jelas Dhanang, 25, karyawan swasta yang sudah empat tahun tidak pernah absen pada acara RSD.

Meski cukup sukses, RSD itu menuai kontra dari beberapa pihak, terutama para pecinta rilisan fisik di luar negeri. RSD Indonesia yang menyatukan berbagai toko musik menjadi satu dianggap tidak sesuai dengan esensi awal adanya RSD. "Banyak kenalan gue yang orang luar nanya, kok RSD di Indonesia kayak gitu sih, mestinya diadain di toko masing-masing," jelas Agus, eks panitia RSD Indonesia, yang menjadi salah satu penyelenggara RSD di Blok M Square.

Jika kita tarik mundur ke-10 tahun yang lalu, di Amerika Serikat akar awal RSD ialah merayakan hari rilisan fisik sedunia yang diselenggarakan di toko rilisan fisik itu sendiri. Maka dari itu tahun ini para penyelenggara yang sebagian besar memang penjual rilisan fisik mulai berusaha mengembalikan esensi awal dari RSD sendiri. Hal itu ditunjukkan dengan mulai mengadakan acara ini di Pasar Santa dan Basement Blok M Square, tempat terdapat banyak toko rilisan fisik. "Jadi kita mau mulai kembali ke roots awalnya. Orang-orang itu ikut acara ini ya datang langsung ke record store-nya gitu," jelas Agus yang juga merupakan pemilik Warung Musik, di Basement Blok M square.

Di samping itu, bila diadakan di luar toko, Agus tidak yakin semua stok di toko bisa dibawa. Karena kapasitas tempat penjualan selalu besar. Seperti tahun ini, di Blok M Square, pedagang-pedagang yang ada di sana lebih senang karena mereka bisa menjual dan mengobral semua barang dagangannya. Menurut Agus juga, tahun ini oplah yang dia dapatkan sekitar Rp22 juta lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.

Namun, Agus tetap mengapresiasi acara yang diadakan di Kuningan City. Menurutnya, hal tersebut memang tetap diadakan karena banyak pedagang yang hanya menjual rilisan fisik secara daring. "Jadi kalau di Kuncit sih kan banyak pedagang online, jadi di sana pedagang-pedagang gitu tetap bisa meramaikan RSD seperti pedagang yang memang punya toko," tutup Agus. (*/M-1)

Komentar