Eksplorasi

Teknologi Rahim Buatan untuk Bayi Prematur

Sabtu, 29 April 2017 05:45 WIB Penulis: Gurit Ady Suryo

INKUBATOR mungkin bisa menjadi tempat yang pas untuk menyelamatkan kehidupan bayi prematur.

Namun, baru-baru ini, tim peneliti dari Rumah Sakit Anak Philadelphia menciptakan teknologi canggih berupa rahim buatan untuk lebih meningkatkan kehidupan bayi prematur.

Kantung plastik itu diisi amnion, cairan yang normalnya juga terdapat di dalam rahim.

Selain itu, kantung terhubung dengan mesin serupa paru-paru yang menyuplai oksigen serta kantung nutrisi.

Emily Partridge, salah satu peneliti, berharap rahim buatan itu bisa menyelamatkan bayi prematur dari ancaman kematian.

Saat ini tingkat kesintasan bayi prematur yang lahir pada usia kehamilan 23 minggu nyaris 0%, usia 23 minggu 15%, 24 minggu 55%, dan 25 minggu 80%.

Normalnya, bayi lahir pada usia kehamilan 40 minggu.

Mereka yang lahir kurang dari periode tersebut berpotensi mengalami kematian dan gangguan perkembangan.

Partridge mengatakan upayanya fokus pada bayi prematur yang lahir pada usia kehamilan 23-24 minggu tidak kurang dari itu.

"Bayi menghadapi tantangan beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim dan menghirup udara langsung. Padahal, mereka belum siap untuk itu," tambahnya.

Dr Alan Flake, Direktur Pusat Penelitian Janin di Rumah Sakit Anak Philadelphia, AS, juga mengatakan, "Bayi-bayi ini memiliki kebutuhan mendesak untuk jembatan antara rahim ibu dan dunia luar."

Tujuan utama penelitian tersebut ialah menyediakan lingkungan untuk bayi prematur yang kecil agar dapat dengan aman mengembangkan paru-paru dan organ tubuh lainnya selama periode kritis dari 23 sampai 28 minggu setelah pembuahan.

Studi pada domba

Bagaimana ilmuwan menguji keefektifan rahim buatan? Mereka melakukan studi pada embrio domba berusia setara dengan embrio manusia berumur 23 minggu. Embrio dimasukkan ke kantung berisi amnion.

Tali pusat (Umbilical cord) dihubungkan dengan mesin udara lewat selang yang berfungsi mirip plasenta.

Rahim buatan itu juga dihubungkan dengan kantung berisi nutrisi, mirip cairan infus.

Lantas, kantung disimpan di lingkungan yang steril dan bersuhu optimal.

Hasil penelitian menunjukkan embrio tampak menikmati lingkungan plastik itu. Matanya terbuka dan bulu pun tumbuh normal.

Setelah 28 hari di dalam rahim buatan, embrio dilepaskan.

Sejumlah embrio dibunuh dengan sengaja agar ilmuwan bisa mengamati perkembangan organnya.

Sejumlah embrio lain dibiarkan hidup dan diberi makan lewat botol, seperti halnya bayi manusia yang diberi susu formula.

"Mereka tumbuh normal. Paru-parunya berkembang sempurna. Otaknya juga. Embrio berkembang normal dalam setiap aspek," kata Alan Flake.

Meski sukses pada domba, bukan berarti prosedur itu langsung bisa dipakai untuk manusia.

Tim masih perlu melakukan eksperimen lain untuk memastikannya.

Dr Flake sangat berharap penelitian itu bisa berkembang sehingga bisa diujikan pada bayi manusia yang lahir prematur.

Meski demikian, dr Flake mengatakan janin domba dan janin manusia sangatlah berbeda.

Flake menambahkan waktu 10 tahun hingga pengembangan rahim buatan sempurna dibutuhkan.

Alat itu diharapkan menjadi revolusi dalam teknologi penanganan bayi prematur, tidak lagi di inkubator, tetapi di lingkungan yang serupa dengan rahim ibu mereka.

(Dailymail.co.uk/BBC/Nature Communications/L-1/M-3)

Komentar