KICK ANDY

Angkat Sel, Kurangi Kejang

Sabtu, 29 April 2017 02:35 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Sumaryanto

EPILEPSI atau penyakit yang kerap ditandai dengan kondisi kejang-kejang sudah dialami Aditya Subekti sejak usia sembilan tahun.

Setiap penderita mengalami kejang, ada bagian otak yang ikut rusak.

Laki-laki penyuka piano itu pun sampai tak lagi bisa mengingat siapa pun, kecuali kedua orangtuanya.

Tentu, berbagai upaya penyembuhan ke dokter sudah dilakukan keluarganya, banhkan hingga Singapura.

Namun, tetap saja Adit akan kejang seusai minum obat.

Perjuangan mencari kesembuhan belum pupus.

Berbekal mencari info di media daring, kedua orangtua Adit memperoleh dokter bedah saraf yang bertugas di Semarang.

Berbekal keyakinan, mereka pun datang ke dokter tersebut.

Adit pun lantas menjalani operasi epilepsi pada usia 14 tahun.

Dokter lucu yang kerap membuat guyonan perihal otak itu bernama Zainal Muttaqin.

Ia menyimpulkan Adit kebal terhadap obat.

Diketahui, populasi pengidap epilepsi kebal obat mencapai 30%.

Bedah epilepsi sudah didalami dokter kelahiran Semarang, 24 November 1957, itu sejak 15 tahun lalu.

Hingga kini ayah dua anak itu telah melakukan sekitar 520 pembedahan.

Zainal mulai melakukan operasi pertama epilepsi di Indonesia pada 1999.

Setiap tahun terdapat 10 pasien yang ditanganinya.

Namun, pada rentang lima hingga enam tahun terakhir ini, jumlahnya mencapai 40-50 pasien per tahun yang berasal dari seluruh Indonesia.

Rusak Sel

Bagi Zainal, jika dibiarkan, serangan kejang akan merusak sel otak yang hingga saat ini belum bisa diregenerasi.

Sementara itu, untuk penyebabnya, Zainal mengatakan 8% berasal dari faktor genetik, sedangkan 92% disebabkan ada kerusakan pada otak saat pembentukan di fase kehamilan usia satu hingga dua bulan.

Ketika ibu hamil tidak menyadari sedang mengandung, asupan gizi jadi tidak terpenuhi, lalu muncul demam tinggi dan flu berat.

Konsumsi obat secara sembarang menjadi salah satu pemicu timbulnya epilepsi.

Tak hanya itu, proses persalinan yang sulit sehingga membuat bayi berada lebih lama di jalan lahir juga menjadi pemicu lantaran pasokan zat asam terganggu.

Karena itu, dokter yang sedang mengembangkan pusat epilepsi di Indonesia itu menyarankan, apabila sudah terkena epilepsi, penderita harus menghindari faktor-faktor yang bisa membuat penyakit kambuh, seperti kelelahan dan silau.

Namun, bukan berarti ia tak boleh beraktivitas. Semua boleh dilakukan asalkan penderita tahu batasan.

Tindakan operasi, imbuh suami Nadhiroh, bukan berarti akan membebaskan penderita dari obat-obatan.

Penyebabnya, sekitar 50% penderita tetap harus mengonsumsi obat seumur hidup.

Tujuan operasi ialah mengangkat bagian otak yang menyebabkan kejang tanpa menyebabkan gangguan pada bagian otak lain.

Namun, sebelum operasi dilakukan, lokasi sumber kejang harus dipastikan dulu. Setelah itu, cari cara agar dapat mencapai sumber itu tanpa mengenai bagian otak yang sensitif. Kalau tidak diangkat, sumber kejang itu akan menciptakan titik-titik baru.

Kini Adit sudah bisa berkegiatan normal, bisa kembali bermain piano.

Namun, Adit tetap mengonsumsi obat-obatan dari Zainal.

Hanya setiap tahun Zainal akan mengevaluasi pemberian obat.

Bila tidak ada serangan dalam setahun, konsumsi obat akan diturunkan secara perlahan.

(M-4)

Komentar