Jendela Buku

Kala Lelaki Menyulap Energi Cinta

Sabtu, 29 April 2017 02:20 WIB Penulis: Furqon Ulya Himawan

CINTA dan kesetiaan. Dua kata itu tepat menggambarkan sosok lelaki yang menjadi tokoh utama dalam novel Cahaya di Penjuru Hati.

Sebuah novel berdasar kisah nyata seorang lelaki dari keluarga miskin yang kelak menjadi sosok pengusaha sukses karena ketekunannya mengejawantahkan makna cinta.

Wim, begitu orang-orang memanggil sosok lelaki yang punya nama lengkap JH Gondowijoyo, memiliki tiga adik, Tiong, Jhon, dan Silvi.

Mereka adalah buah hati dari pasangan Oei Hong Bing dengan Liem Piet Nio. Sebuah keluarga yang tidak terlalu besar, tinggal di rumah pinjaman di daerah Sidoarjo, Jawa Timur.

Kisah Wim diawali dengan cerita kehidupan keluarga miskin.

Ayah berprofesi sebagai sopir truk yang saban hari mengatarkan pekerja pabrik dan ibunya sebagai penjual rengginang dengan penghasilan yang tidak seberapa.

Namun, ketekunan dan kesetiaan orangtuanya kelak menjadikan Wim sebagai pemuda tangguh dan tidak mudah menyerah.

Karakter tak mudah menyerah sudah tampak dalam diri Wim ketika dia mengenal cinta di bangku SMP.

Dua perempuan yang memikat hatinya tak mau menerima cintanya lantaran Wim keturunan keluarga miskin.

Namun, dia tetap tersenyum dan menatap masa depan.

Bahkan Wim mengaku sering berkelahi dengan temannya di sekolah lantaran tidak terima karena melulu dihina sebagai orang miskin dan tak punya apa-apa.

Setamat SMP, mereka berdua hijrah dari Sidoarjo ke Malang untuk melanjutkan sekolah.

Di kota barunya ini, Wim mendapatkan banyak pengalaman dan mulai memiliki cita-cita untuk masa depannya: menjadi seorang dokter.

Namun, cita-cita itu pupus lantaran peraturan baru yang menyatakan hanya jurusan ilmu pasti yang bisa masuk kedokteran.

Meski begitu, Wim dan keluarganya senang karena Wim dewasa keterima di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lalu hijrahlah Wim ke Yogyakarta, kota yang menempanya menjadi lelaki tangguh dan mampu menyulap energi cinta menjadi kekuatan dahsyat untuk terus bergerak dan maju.

Kisah kehidupan Wim ditulis secara apik oleh Alberthiene Endah.

Sejumlah buku profil pun pernah ditulisnya, seperti profil Titiek Puspa dan Chisye.

Secara detil Alberthiene mengulik kehidupan masa lalu Wim dan akhirnya dia menemukan benang merah antara cinta dan kesetiaan.

Kisah itu semua dituliskan secara runtut dan tercetak dalam buku setebal 438 halaman.

Awal kedatangan Wim di Yogyakarta dimulai dengan konflik batin, antara mewujudkan cita-cita dan kondisi kemiskinan yang melilitnya.

Wim harus indekos dan tinggal satu kamar bersama tiga orang: sesak dan tak mengenakkan.

Dia tak mau terus merecoki keluarga dengan uang bulanan, terlebih ketika adiknya tidak lagi melanjutkan kuliah dan memilih kerja menjadi sopir truk menggantikan ayahnya yang fisiknya sudah melemah.

Sejak itulah, dia bertekad perjuangan dan cinta kasih keluarganya di Sidoarjo tak akan disia-siakannya.

Ketika sudah tak punya uang, Wim menjual pakaiannya di loakan.

Konon, pakaian hanya tinggal beberapa helai.

Akan tetapi, dari sini insting bisnisnya mulai dimainkan, dia mulai menjadi makelar jual-beli barang bekas.

Hasilnya lumayan sampai dia mengabari keluarganya di Sidoarjo untuk tidak usah mengiriminya uang.

Sukses makelaran, Wim bersama teman-temannya mulai menjajal peruntungan membuka jasa bengkel dan cuci motor.

Namun, bisnis ini tak berjalan lama dan dia terus menekuni makelaran barang bekas.

Kesibukan Wim mengurus bisnisnya membuat kuliahnya terbengkelai dan itu disadarinya ketika dia mendapati dirinya sudah tidak dapat meneruskan kuliah di UGM.

Namun, untuk membalas perjuangan keluarganya, Wim pindah ke Universitas Atmajaya Yogyakarta dan lulus setelah setahun menempuh studi.

Lelaki dan cinta sejati

Secara runtut Alberthine menuturkan perjalanan hidup Wim.

Secara garis besar, alur ceritanya mengetengahkan perjalanan hidup dan cinta.

Bab demi bab Albehthine tuliskan kisah itu bersamaan secara apik, melompat tapi runtut sehingga alurnya mampu dicerna dengan baik.

Kisah cinta Wim dengan dua perempuan yang menolaknya kala remaja karena dia miskin, dan seorang perempuan yang dia temukan di Yogyakarta.

Perempuan terakhir inilah yang akhirnya menjadi tambatan hatinya, seorang perempuan yang sabar dan pandai memasak serta selalu menyuguhkan hidangan penuh cinta setiap hari.

Cinta inilah yang sekaligus membuat Wim terlecut untuk terus bersaha dan maju.

Pada 1976, Wim menikahi perempuan yang dicintainya, Lili.

Mereka berdua mulai meramu resep kehidupan yang penuh cinta.

Keinginan Wim untuk membahagiakan Lili terus bergemuruh, dia mengubah energi cinta itu menjadi lecut.

Lulus dari Atmajaya, Wim dipercaya kampusnya untuk memegang bagian perlengkapan dan membuatnya sering mengunjungi percetakan untuk urusan cetak buku.

Dari situ Wim banyak belajar dan mulai merintis usaha percetakan sendiri dan berdirilah penerbit dan percetakan bernama CV Andi Offset.

Satu per satu hasil jerih payah perjuangan Wim kecil mulai berbuah, bisa membangun rumah dan memiliki mobil sendiri.

Bersama Lili, Wim dikaruniai tiga anak, yakni Andreas Andi Irawan Gondowijoyo, Yehezkiel Arman Gondowijoyo, dan Christine Sheila Gondowijoyo.

Dramatis memang karena di tengah kebahagiaan yang diraihnya, vonis dokter yang menyatakan Lili terkena liver membuat Wim, lelaki yang dulu tangguh, mulai rapuh.

Wim sadar, meski lelaki adalah orang yang dibentuk kehidupan menjadi sosok yang tangguh, cinta sejati adalah sebuah tonggak.

Sampai akhirnya dia tersadar bahwa Lili sudah tidak lagi di sisinya.

Sempat membuatnya murung, tetapi Wim yang kini menjadi pengusaha; memiliki banyak karyawan; dan memiliki 3 anak, harus terus bangkit dan meneruskan hidup.

Gondowijoyo mengubah energi cintanya terhadap Lili untuk terus melanjutkan hidup menjaga dan mewarawat semua yang telah dibangunnya bersama Lili.

Untuk mengenang Lili, Sugondo menuliskan banyak puisi. Semua kisah tentang cinta dan kerinduan Gondo pada Lili dan di antaranya keinginan Gondo untuk melanjutkan hidup bersama keluarga.

'Aku akan berjalan dengan sisa hidupku menyenangkan hati bapa

Menjaga dan melindungi anak-anak dan cucu-cucu kita.'

Kisah ini memang dramatis, apik, dan sangat inspiratif.

Seorang lelaki yang bergerak maju menapaki bumi meraih kesuksesan.

Perjuangan meraih cinta dan cita dan keberhasilannya mengubah energi keduanya menjadi lecut kehidupan.

Tak berlebihan jika novel ini akan diangkat ke layar lebar.

Ketika lelaki bisa mengubah energi cinta, kesuksesan akan diraihnya. Karena yang terpenting dalam buku ini ialah cinta dan kesetiaan.

"Hidup ini yang terpenting adalah cinta dan kesetiaan," kata Alberthine.

(M-2)

_________________________________

Judul : Cahaya di Penjuru Hati

Penulis : Alberthiene Endah

Penerbit : CV Andi Offset

Halaman : x + 438 halaman

Terbit : April 2017

Komentar