KICK ANDY

Dokter Muda Hadapi Parkinson

Sabtu, 29 April 2017 01:55 WIB Penulis: Wnd/M-4

MI/Sumaryanto

INDONESIA memiliki banyak ahli bedah saraf yang tidak kalah dengan luar negeri. Salah satunya, dr Achmad Fahmi yang praktik di wilayah Surabaya, Jawa Timur, tepatnya di National Hospital Surabaya dan RS Dr Soetomo Surabaya.

Laki-laki berusia 36 tahun ini mendapat piagam Muri dengan predikat dokter termuda yang melakukan operasi parkinson di Indonesia.

Salah satu pasien yang dapat ditangani ialah Tan Kwang Hwa, perintis pabrik kertas tisu Tessa.

Tan mengaku mengidap parkinson sejak 2006.

Ia sadar mengidap penyakit itu setelah melihat gerakan tangannya tidak sesuai dengan kehendaknya.

Tan segera berobat dan sempat merasakan masalahnya bisa teratasi sehingga dapat melanjutkan kerjanya.

Hingga di Januari 2016, kondisi kesehatannya semakin menurun.

Anak-anak dan istrinya tak mau putus asa dan mencari dokter ahli yang dapat menyembuhkan Tan, hingga didapat nama Achmad Fahmi.

Mereka langsung menemuinya pada 26 Februari 2016.

Tak perlu waktu lama untuk Tan memutuskan pilihannya.

Tepat pada 8 Maret 2016, ia menjalani operasi parkinson dengan ditempelkan semacam alat yang kabelnya langsung terhubung ke otak.

Seusai operasi itu, Tan sudah bisa kembali beraktivitas.

Terbukti dalam video yang ditayangkan dalam acara Kick Andy, Tan tampak bermain tenis meja.

Achmad Fahmi yang merupakan spesialis Parkinson dan Movement Disorder mengatakan hingga kini penyebab utama penyakit tersebut belum diketahui.

Namun, mekanisme penyakit ini menyerang salah satu organ otak dan membuat zat dopamin menurun.

Penyakit ini bersifat progresif, semakin lama menderitanya akan semakin parah.

Dulu penyakit ini diderita mereka yang berusia 60 tahun. Kini sudah ditemukan penderita parkinson di usia 30 tahun.

Bila dulu penderita tergantung obat, kini ada harapan baru dengan dua metode operasi.

Salah satunya yang Fahmi lakukan kepada Tan, dengan proses penggantian baterai alat sekitar 4-5 tahun.

Sementara itu, metode lainnya dengan membuat lubang sebesar 1 sentimeter di bagian kepala dan memperbaikinya.

Kedua operasi dijalankan secara sadar karena Fahmi akan meminta pasien untuk melakukan satu gerakan untuk menjadi penanda kemampuan sudah lebih baik.

Pria kelahiran Malang, 27 November 1980 itu menyarankan untuk meminimalkan kemungkinan penurunan kondisi tubuh.

Mulai dari mencegah bahan kimia yang masuk ke tubuh, baik melalui makanan, minuman, maupun udara yang dihirup, selalu bahagia, dan menghindari benturan pada kepala.

Ada empat ciri seseorang mengalami parkinson.

Pertama, tremor atau gemetar, dan biasanya terjadi saat diam lalu akan bertambah ketika terjadi stres pada pikiran.

Kedua, badan terasa kaku, leher kaku, hingga masyarakat banyak menyimpulkan sebagai sakit punggung.

Ketiga, gerakan menjadi lambat, dan terakhir ketidakseimbangan pada tubuh.

Saat ini ditempatnya praktik, National Hospital Surabaya, memiliki gerakan yang mengakomodasi pasien tidak mampu untuk penderita parkinson karena untuk biaya yang dihabiskan dalam operasi ini besarannya bisa mencapai lebih dari Rp120 juta.

Komentar