KICK ANDY

Pertama di Asia Tenggara

Sabtu, 29 April 2017 01:45 WIB Penulis: Wnd/M-4

MI/Sumaryanto

JIKA pusat dari segala gerak tubuh berasal dari otak, pusat dari otak itu sendiri berada di batang otak yang besarnya kurang lebih seperti ibu jari.

Dilematik, begitu kata dr Eka saat mendapati pasien dengan tumor di batang otak dan pecah.

Hal itu karena dirinya belum pernah melihat batang otak pada manusia hidup.

Selama ini ia hanya mendapatkan pengetahuan dan praktik pada batang otak mayat sehingga tidak diketahui bagaimana jelas hasilnya seusai melakukan operasi.

Ardiansyah, nama pasien pertamanya itu datang dalam kondisi lumpuh parsial, bola mata tidak bisa bergerak, dan mulut menyong sehingga tidak dapat berbicara.

Ia bersama tim pun segera mengambil keputusan untuk melakukan operasi pada pasiennya yang saat itu berumur 23 tahun.

Saat ditanya, dari mana kemampuannya berasal, Eka menjawab dari Tuhan.

Pasalnya, ia tidak bisa bertanya pada siapa pun, tidak memiliki waktu mencari-cari apakah ada dokter lain yang pernah melakukan hal serupa sehingga ketika ia diwawancarai lembaga pimpinan Malaysia, dirinya disebut sebagai dokter pertama di Asia Tenggara yang melakukan operasi batang otak.

Hingga kini, Eka berhasil melakukan operasi pada 50 kasus tumor batang otak dan selamat.

Tak main-main, saat operasi ia harus menjaga ratusan saraf dan pembuluh darah agar tetap selamat dan berfungsi normal.

Sulit memang mendeteksi dari mana asalnya tumor, yang mampu diketahui hanya adanya tumor jinak dan ganas.

Berdasarkan pengalaman, pria yang kini kerap diundang sebagai pembicara dalam forum-forum internasional mengatakan operasi batang otak yang paling aman melalui bagian belakang.

Pendapatnya berbeda dengan pendapat dokter di Eropa, bagian depan merupakan jalur paling aman karena di bagian belakang banyak terdapat serabut yang bisa membuat cacat jika ada tabrakan dalam proses operasi.

Namun, Eka bersama dokter lain di Neuroimaging melakukan pemeriksaan orang dengan metode MRI, lalu bisa merekayasa kabel atau serabut yang selama ini ditakuti orang Eropa tersebut terdapat di mana sehingga pihaknya bisa menghindari menabrak jalur tersebut.

Eka optimistis, dokter bedah saraf di Indonesia bisa menyelesaikan permasalahan otak.

Sejak 1996, ia berprinsip haram hukumnya mengirimkan pasien ke luar negeri karena kita mampu.

Jika Amerika, Jerman, atau negara lain bisa melakukan pembedahan pada otak, Indonesia pasti bisa.

Eka juga berpesan karunia yang diberikan pada seorang dokter memang seharusnya untuk menolong.

Jika pasien tidak mampu bayar, harus ditolong tanpa memungut bayaran sedikit pun.

Sangat buruk, bagi dokter jika menolak operasi karena ketidakmampuan finansial pasien.

Komentar