Properti

Depok kian Butuh Hunian Vertikal

Rabu, 26 April 2017 22:58 WIB Penulis: Cri Qanon Ria Dewi

KETERBATASAN lahan membuat Kota Depok membutuhkan hunian vertikal. Di sisi lain, dukungan infrastruktur transportasi dan fasilitas rumah sakit kelas internasional akan beroperasi mulai 2018 dan 2019.

"Depok kian berpotensi untuk rumah susun," kata Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Pemkot Depok, Wijayanto, dalam diskusi bertajuk 'Infrastruktur Depok Topang Kenyamanan Kota', di Depok, Rabu (26/4). Kehadiran rusun tersebut, tambahnya, dapat mendukung Program Sejuta Rumah yang digulirkan pemerintah pusat.

Bagi Direktur Utama Orchid Realty, Mujahid, hunian vertikal menjadi solusi utama di pusat kawasan bisnis (CBD) Margonda, Depok. Di kawasan tersebut harga lahan rata-rata menyentuh Rp20 juta per meter persegi (m2). Dua atau tiga tahun terakhir ada dua tipe apartemen yang paling banyak dipasarkan di Depok, yaitu apartemen untuk hunian mahasiswa dan hunian keluarga.

Permintaan untuk hunian mahasiswa bahkan masih yang paling tinggi, mengingat semakin meningkatnya jumlah mahasiswa yang kuliah di UI dan Gunadarma. "Tipe yang banyak diminati itu tipe studio dengan kisaran harga Rp300 sampai Rp 500 juta," ujar Mujahid.

Di lain pihak, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna menegaskan bahwa aksesibilitas Depok kian maksimal memasuki 2019. Terlebih, tol Cijago seksi dua sudah mulai beroperasi akhir 2017. Kini, progres konstruksi jalan tol yang terdiri dari Margonda-Cisalak dan Margonda-Kukusan itu masing-masing sudah mencapai 68% dan 50%.

Tol Cijago akan terdiri dari tiga seksi. Seksi I (Cimanggis-Jalan Raya Bogor) sudah beroperasi pada 2012, sementara Seksi III (Kukusan-Cinere) masih dalam proses pembebasan lahan. Adapun akses keluar masuk tol akan berlokasi di Jalan Raya Bogor, Margonda, dan Cinere.

Sementara itu, pembangunan jalan tol Depok-Antasari seksi I Antasari-Brigif juga ditargetkan selesai akhir tahun ini. "Sekarang penyelesaian konstruksinya sudah mencapai 49,5 persen dengan pembebasan lahan 97%," ujarnya.

Kenyamanan konsumen properti selain ditopang aksesibiltias, kata Kepala Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Julianto Wicaksono, juga didukung kehadiran RSUI yang mulai beroperasi awal 2018. "RSUI akan sekelas rumah sakit di Singapura, namun dengan biaya berobat yang lebih murah," tutur dia, dalam diskusi tersebut.

Dia menjelaskan, rumah sakit modern berkapasitas 300 tempat tidur tersebut akan menerapkan konsep Academic Health System yang berorientasi sepenuhnya pada penyediaan lahan pendidikan profesional bagi dokter, dokter gigi, keperawatan, farmasi dan kesehatan masyarakat secara terintegrasi.

"Sekarang masih 300 tempat tidur, tapi konstruksinya di tahap kedua akan disiapkan untuk 900 tempat tidur. Ini akan memunculkan nilai sewa tempat tinggal sementara untuk dosen atau keluarga pasien dan tamu. Kalau semua infrastruktur siap, bisnis hospital tourism pasti jalan, termasuk bisnis MICE, karena ada seminar-seminar di RSUI dan butuh penginapan," ujar Julianto. (X-12)

Komentar