Gaya Urban

Sepeda Lanjut Berkemah

Ahad, 23 April 2017 16:30 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK. ANTO PRASANTO, DOK. ARIEF KURNIAWAN

TAS tahan air berwarna kuning menempel di sisi kanan dan kiri belakang sepeda. Tas yang mirip dengan tas di sepeda motor Pak Pos itu menjadi pemandangan wajib di kalangan komunitas sepeda Free Bikers tiap kali mereka akan gowes bersama.

Komunitas dengan pasukan yang berdomisili di Bogor, Jawa Barat, ini memang terbiasa bersepeda jarak jauh atau biasa disebut touring. Sebab itu pula tas sepeda touring selalu ada karena bawaan mereka yang banyak.

Saat isi tas dibuka, tampaklah perlengkapan berkemah, mulai kantong tidur sleeping bag, tenda, hingga kompor. "Jangan kaget kalau kita mau gowes, bawaannya itu banyak banget tetapi tetap harus muat di sepeda masing-masing. Karena jika hendak gowes dan camping (berkemah), otomatis kita juga harus membawa tenda dan perlengkapan lainnya," tutur salah satu pendiri Komunitas Free Bikers, Heru Setiawan, kepada Media Indonesia, Selasa (18/4).
Kegiatan berkemah yang kini menjadi ciri khas mereka, menurut Heru, sebenarnya tidak muncul dari awal. Ketika empat tahun lalu komunitas ini mulai berkegiatan, mereka hanya fokus pada bersepeda saja.

Seiring dengan waktu, para anggota ingin merasakan sensasi dan petualangan lebih. Latar belakang sebagai pecinta alam juga membuat mereka ingin lebih maksimal bertualang di alam bebas. Dari situlah kemudian muncul ide untuk sekaligus berkemah.

Kegiatan ini unik karena membutuhkan persiapan perlengkapan dan fisik yang lebih matang daripada touring sepeda umumnya. Bersepeda jarak jauh hingga bermalam memang bukan hal baru. Namun, kebanyakan komunitas memilih bermalam di penginapan untuk kenyamanan beristirahat dan kepraktisan.

"Serunya camping itu selain pas sudah dilokasi adalah ketika kita membawa barang dan harus meng-gowes sampai ke lokasi. Karena biasanya kita pilih tempat camping di tengah hutan, di atas bukit atau gunung, jadi menuju ke lokasinya itu yang seru dan butuh perjuangan," kata Heru.

Perjuangan jelas tidak sepele jika mengingat kebanyakan anggota sudah berumur di atas 50 tahun. "Bahkan ada beberapa yang berusia 65 tahun dan tetap gowes sejauh 100 kilometer lebih dengan bawaan yang menempel di sepedanya seberat hampir 25 kilogram," tambah Heru.

Maksimal 12 jam

Bersepeda sambil berkemah ini telah membuat banyak pengalaman tidak terlupakan. Anto Prasanto, salah satu anggota Free Bikers, masih ingat keseruan saat menikmati pergantian 2014-2015 sambil bersepeda empat hari dari Jakarta ke Pangandaran, Jawa Barat.
Setelah berkemah di alam terbuka, rombongan mereka memutuskan menginap di rumah penduduk. Hal ini dilakukan selain untuk merasakan pengalaman hidup dengan penduduk juga untuk pertimbangan kondisi tubuh.

Anto menjelaskan, meski menyukai bertualang, mereka juga disiplin menjaga stamina dengan membatasi waktu bersepeda. Dalam sehari mereka paling lama hanya meng-gowes selama 12 jam.

"Kita atur sehari hanya boleh gowes selama 12 jam dan sisanya harus istirahat untuk mengembalikan stamina. Yang tak terlupakan di sini juga ketika istirahat, kita sempat bermalam di jalanan dengan membuat tempat camping sementara serta menginap di rumah penduduk keesokan harinya," kata Anto.

Namun, ada kalanya juga mereka mendapat pengalaman mendebarkan. Ini terjadi ketika touring menuju Curug Malela di Bandung Barat.
Anto mengenang mereka sempat tersesat di dalam hutan. Beruntung mereka ditolong sepasang suami istri dan diizinkan menginap di gubuk.

"Untung kami ditolong Pak Majid dan Ibu Majid. Alhamdulillah akhirnya kita bisa melewati dinginnya udara dengan memakan seadanya yaitu nasi dan garam di dalam gubuh berukuran 2x2 meter yang diisi 10 orang," kenangnya.

Bersatu di alam bebas

Berbagai pengalaman ini tidak hanya menambah keakraban mereka tetapi juga kecintaan mereka pada alam dan kesadaran menjaga kesehatan. Heru menuturkan, selama menggeluti hobi bersepeda sambil berkemah ini, ia merasa lebih sehat, baik fisik maupun psikis.

Keheningan alam dirasakannya membuat pikiran tenang hingga stres pun menjauh. Sebab itu pula Heru maupun anggota Free Bikers lainnya makin bersemangat ketika tujuan gowes mereka adalah tempat yang jarang dikunjungi orang. Kelelahan mereka pun terbayar ketika saat tidur sambil diiringi nyanyian jangkrik dan burung malam.

"Saat camping, kita begitu menyatu dengan alam karena jauh dari polusi dan kebisingan kota. Kita juga bisa lebih akrab berkomunikasi dengan sesama anggota di alam bebas dan menjauhkan diri dari smartphone karena tentu akan sulit sinyal," pungkas Heru. (M-3)

Komentar