Khazanah

Tradisi Mengolah Emas Hijau di Bojonegoro

Ahad, 23 April 2017 15:30 WIB Penulis: M Ahmad Yakub

MEMASUKI bangunan cukup besar itu, bau tembakau begitu terasa. Pada rumah putih berukuran 20 meter x 7 meter itu, puluhan wanita paruh baya bekerja. Mereka duduk berjajar. Di depan sudah siap tempayan bambu berisi racikan tembakau yang siap dilinting.

Puluhan tangan cekatan bekerja. Lembar demi lembar kertas cokelat itu diisi racikan warna hitam kecokelatan. Tak banyak yang ditaburkan. Bagian ujungnya ditata sebesar telunjuk jari. Ujung lain dibuat lebih kecil, hampir lancip. Setelah dirasa cukup padat, lembaran daun jagung cokelat digulung.

Batangan kertas itu selanjutnya dililiti seutas benang sebagai tali pengikat. Demikian dilakukan terus-menerus. Sesekali terdengar canda tawa mereka sekadar mengusir lelah. Di bagian lain, seseorang bertugas mengumpulkan lintingan dengan tempayan bambu.

Tentu setelah jumlah lintingan rokok itu dihitung, setelah tempayan penuh, lintingan itu dijemur dengan posisi berdiri. Beberapa orang juga bertugas mengepak. Setiap lima linting, dibungkus dengan kertas putih.

Ya, itulah sekilas gambaran produksi pabrik rokok kelobot Oeloeng di Kecamatan Sumberrejo. Di pabrik yang sudah berdiri sejak 71 tahun silam itu, ratusan orang menggantungkan hidup di jantung Kecamatan Sumberjo.

Adalah Suwarti, 49, salah satu pekerja sigaret keretek tangan (SKT). Sejak belasan tahun, Suwarti bekerja menjadi pelinting rokok tradisional yang sudah berdiri puluhan tahun silam.
Meski tak banyak, penghasilan yang diterimanya cukup menyokong kebutuhan keluarga. "Sudah puluhan tahun, Mas. Lumayan bisa sedikit membantu uang dapur," ujarnya.

Walau belum musim panen, produksi rokok kelobot (bungkus daun jagung) terus berlangsung. Pabrik sudah memiliki cadangan cukup untuk produksi beberapa tahun kemudian. "Ya, terus nglinting Mas," kata dia.

Mengolah daun tembakau untuk mendapatkan keuntungan finasial bisa dilakukan bengan berbagai cara. Hingga kini, usaha pada sektor ini masih cukup menggiurkan sehingga tak mengherankan, berdirinya ratusan tempat perajangan (pengolahan tembakau dari daun hingga siap kemas).

Tak cuma itu, belasan tempat pengasapan (oven), juga ratusan pabrik rokok dan banyak gudang pengepakan kerosok (daun tembakau kering) didirikan. Termasuk, Pabrik Rokok (PR) Oeloeng merupakan salah satu usaha rakyat yang masih tetap eksis.

Tentu saja tak semua mulus berusaha di bidang ini. Akan tetapi, ada di antaranya yang terpaksa berhenti produksi sejak puluhan tahun silam. Salah satu yang berhenti produksi adalah usaha oven tembakau milik almarhum Mbah Sariman, warga Desa Bungur, Kecamatan Kanor.

Nanang Fahrudin, 36, cucu Mbah Sariman, mengatakan usaha pengasapan tembakau milik buyutnya itu telah berhenti produksi sejak sekitar 1940-an. Menurut cerita, oven tembakau milik keluarganya dahulu menyerap hampir ratusan pekerja.

Tak hanya penduduk setempat, pekerja juga didatangkan dari daerah Jawa Tengah, terutama saat tembakau British American Tobacco (BAT) atau yang lebih dikenal tembakau Virginia masih sangat diminati. "Gudang oven masih terbuat dari kayu di belakang rumah. Katanya dulu puluhan orang menetap di rumah-rumah kecil sekitar oven tembakau," jelasnya.

Pekerjanya ratusan orang dari sekitar Kecamatan Kanor hingga Kecamatan Baureno. Bahkan, tak hanya hanya orang dari Provinsi Jatim, tapi juga banyak dari wilayah Jateng. Meski sudah puluhan tahun berhenti produksi, nama kakek buyutnya masih banyak dikenal orang di sekitar tempat tinggalnya. "Terkadang, kalau saya ke Baureno, beberapa orang bertanya keluarga buyut," ungkapnya.
Tradisi mengolah tembakau tak hanya dimonopoli pemilik modal gede. Hingga kini, petani kecil dengan modal terbatas juga masih banyak menekuni bidang ini. Sujiat, 60, misalnya, petani tembakau di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk.

Masa keemasan

Sekitar 2000, industri rokok di Bojonegoro memasuki masa keemasannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, terdapat 114 pabrik rokok di Kabupaten Bojonegoro. Namun, sebagian besar gulung tikar karena harga cengkih yang melambung.

Kini pabrik rokok yang masih berproduksi jumlahnya tinggal tujuh di Kabupaten Bojonegoro. Sebagian besar pabrik menggunakan sistem sigaret keretek tangan (SKT) dan sebagian lainnya dengan sistem sigaret keretek mesin (SKM).

Tujuh pabrik itu meliputi PR Kudu di Desa Canga'an, Kecamatan Kanor, PR Kopi di Desa Pekuwon, dan CV Oeloeng di Kecamatan Sumberrejo, Rodeo di Kecamatan Bojonegoro, 567 di Kecamatan Sumberrejo, PR 399 di Desa Ngemplak, serta PR Galan Desa/Kecamatan Baureno.

Dari tujuh pabrik itu, rokok kelobot CV Oeloeng yang cukup legendaris. Pabrik rokok itu didirikan pada 1946 oleh HM Sahlan, penduduk asli Kecamatan Sumbererejo. "Awal berdiri namannya pabrik ini RIM, singkatan dari Republik Indonesia Merdeka," terang Humas PR CV Oeloeng Sumberrejo, Mahmud.

Menamam tembakau sudah seperti keharusan bagi ribuan petani di Kabupaten Bojonegoro. Datangnya kemarau basah yang berlarut dalam setahun belakangan, bagi petani tembakau, menjadi kendala. Mereka terpaksa mengundur masa tanam.

Meski begitu, bagi sebagian, curah hujan tinggi menguntungkan. Sebagian petani sudah memulai ritual tanam tembakau. Yakni, dengan mengawali membuat gulutan (semacam bedengan). Itu agar tanaman yang hendak dipersiapkan tidak bacek (mati terendam air) mengingat hingga saat ini hujan masih kerap turun dengan intensitas tinggi.

Karmo, 65, salah satu yang mulai membuat bedengan tersebut. Petani di Desa Temayang, Kecamatan Temayang, itu sengaja mengawali nyeket (membuat bedengan) dari bekas lahan tanaman padi yang baru dipanennya dua pekan silam.

Dia adalah satu dari puluhan petani di wilayah setempat yang berusaha menyiapkan lahan untuk tanam tembakau pada musim tanam berikutnya. Maklum, kawasan Kecamatan Temayang wilayah selatan Kabupaten Bojonegoro--bukan dataran rendah sehingga jarang petani setempat bisa menanam padi lebih dari sekali.

Pemerhati budaya Mohamad Sobary menambahkan sejatinya tanaman tembakau menjadi salah penopang hidup bagi kalangan petani Nusantara sejak berabad silam. Tembakau bahkan menjadi salah satu komoditas andalan di Tanah Air. "Jadi menamam tembakau sudah menjadi tradisi petani kita," terangnya.

Dalam kitab-kitab kuno, baik Negara Kertagama maupun Pararaton diketahui, masyarakat sudah mengonsumsi tembakau. Namun, untuk pelengkap mereka mengunyah sirih. Budaya keretek baru dimulai pada masa Mataram Islam. "Tak bisa dimungkiri, keretek itu identitas kita," tandasnya. (M-2)

Komentar