PIGURA

Penyesalan sang Resi

Ahad, 23 April 2017 14:30 WIB Penulis: Ono Sarwono

AMAT menggelitik sanggit dalang Ki Enthus Susmono ketika membawakan lakon Makrifat Dewa Ruci di pelataran depan Kantor DPP PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta, pada Sabtu (8/4), terutama dalam gereget memersonifikasikan resi Durna saat dilanda penyesalan.

Ki Enthus, yang juga Bupati Tegal (Jawa Tengah) itu mengisahkan gejolak hati Durna yang tidak berterima ketika harus 'mengerjai' Bratasena semata atas tekanan politik. Ia menyesali perintahnya sendiri kepada muridnya yang sangat ia kasihi itu.
Saking merananya, Durna digambarkan sampai hilang kontrol diri. Perilakunya, mulai dari berupaya gantung diri hingga ngalor-ngidul (hilir mudik) melantur sepanjang jalan tanpa mengenakan busana.

Sanggit ini bisa ditafsirkan sebagai 'unjuk rasa' terhadap situasi sosial-politik kekinian. Banyak 'guru suci' yang melakukan sesuatu
yang bukan fitrahnya karena kepentingan politik.

Pesan intimidatif

Syahdan, pada suatu pagi Durna sedang memberikan pelajaran budi pekerti kepada sejumlah cantrik di Padepokan Sokalima. Mendadak datanglah nayaka praja Negara Astina, patih Sengkuni. Sang tamu penting itu mengaku diutus Prabu Duryudana.

Setelah berbasi-basi, Sengkuni mengatakan bahwa atas perintah penguasa tunggal Astina, Durna harus menjawab pertanyaan dengan jujur, apakah berpihak kepada Duryudana (Kurawa) atau Pandawa. Sejak pemerintahan Prabu Pandudewanata, Durna didapuk menjadi guru Pandawa-Kurawa.

Tentu saja, bagi Durna, pertanyaan bernuansa intimidatif itu sulit dijawab. Dalam lubuk hatinya, ia sangat sayang kepada Pandawa. Namun, persoalannya ia mendapat jabatan serta kemakmuran atas kebaikan hati Duryudana. Anak tunggalnya pun, Aswatama, juga diberi status sebagai anggota keluarga Kurawa sehingga banyak kenikmatan yang didapat.

Maka, Durna bersandiwara. Ia menyatakan berpihak kepada Kurawa, meski itu bertentangan dengan nuraninya. Sengkuni lalu menyatakan, jika mendukung Duryudana, harus menuruti atau melaksanakan perintahnya. Durna menjawab, itu telah menjadi kewajibannya.

Namun, betapa kagetnya Durna ketika perintah sang raja lewat Sengkuni itu ialah harus mengambil langkah-langkah radikal yang melemahkan kekuatan Pandawa. Bratasena harus disirnakan dari muka bumi.

Ketika itu situasi sosial dan politik memang sedang memanas menjelang pecahnya Bharatayuda. Ini perang antara Kurawa dan Pandawa yang sesungguhnya saudara sepupu. Mereka, sesama trah (keturunan) Resi Abiyasa, baku bunuh di Kurusetra demi singgasana Astina.

Durna menyiratkan gelagat penolakan. Sengkuni langsung menegaskan, bila Durna tidak bersedia pasti akan dijatuhi hukuman. Bukan hanya dicopot dari jabatannya dan dipereteli fasilitasnya, melainkan juga dieksekusi.

Durna terperangah menyimak ultimatum itu. Ia lalu minta waktu guna merenung. Tidak lama kemudian, Durna menyatakan sanggup melaksanakan tugas. Ia bilang akan apus krama (menipu) terhadap Bratasena sehingga putra kedua Pandudewanata itu akan menjemput ajalnya.

Bungahlah hati Sengkuni. Kelegaannya membuatnya buru-buru minta pamit dan meluncur ke istana Astina melaporkan keberhasilannya kepada Duryudana. Sengkuni sempat membisiki Durna, bonus telah menanti.

Tidak lama setelah kepergian Sengkuni, datanglah Bratasena. Sejenak saling melepas kangen, kesatria Jodipati tersebut mengungkapkan keinginannya menguasai ilmu sangkan paraning dumadi (asal-usul kehidupan). Ambisi sang murid ini yang kemudian dimanfaatkan sang guru.

Durna menjelaskan, sebelum mendapat ajaran itu, Bratasena harus memenuhi syarat, yaitu mengantongi banyu perwita sari mahening suci. Air suci itu disebut ada di Hutan Tikbrasara di kaki Gunung Reksamuka. Seperti biasanya, tidak banyak bicara, Bratasena lalu mohon pamit dan restu untuk menjelajahi hutan mencari syarat tersebut.

Betapa kecewanya Durna setelah Bratasena pergi. Dalam benaknya, muridnya itu pasti mati. Hutan Tikbrasana merupakan neraka bagi semua makhluk asing. Siapa pun yang masuk ke wana tersebut akan sirna marga layu (mati). Ada dua raksasa siluman menguasai belantara itu.

Durna menangis. Ia menyesali dengan apa yang telah ia perintahkan. Padahal, sesungguhnya hatinya tidak ingin seperti itu. Bahkan untuk menebus kesalahannya, Durna berusaha gantung diri. Namun, upaya itu gagal gara-gara tambang untuk menjerat lehernya kepanjangan.

Ternyata, yang dikhawatirkan Durna tidak terjadi. Bratasena kembali ke Sokalima dalam kondisi segar bugar. Ia mengalahkan dua raksasa, Rukmuka dan Rukmakala, jelmaan Bathara Indra dan Bathara Bayu. Malah dari kedua dewa itu, Bratasena mendapat pusaka cincin sesotya maniking warih. Khasiatnya, bila cincin itu dikenakan, tidak membuatnya tenggelam ketika berjalan di atas air.

Campur aduk hati Durna. Antara percaya dan tidak melihat Bratasena tetap hidup. Sambil mengontrol suasana hati, Durna menjelaskan bahwa syarat yang ia minta memang tidak ada di Hutan Tikbrasra. Namun, air suci itu sesungguhnya berada di dasar samudra minangkalbu. Bratasena bertanya, di mana samudra itu. Durna mengatakan, letak samudra yang dimaksud terserah kepada yang menjalaninya.

Bratasena lalu pamit dan minta doa restu. Lagi-lagi Durna meraung-raung. Ia merasa kembali berbuat sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya sebagai guru. Ia merasa telah menjerumuskan siswanya.

Dikisahkan, Bratasena mengaduk-aduk samudra kidul (selatan). Ia sempat dibelit naga tapi selamat. Setelah terombang-ambing hingga tidak sadarkan diri, Bratasena kemudian merasa melayang dan bertemu Dewa Ruci. Di sanalah ia mendapatkan ilmu sangkan paraning dumadi.

Numpang cari nikmat

Di saat yang bersamaan, di marcapada Durna terus memanggil-manggil nama Bratasena. Ia berlalu lalang di jalan hanya berbalut handuk. Ini menggambarkan penyesalannya atas perintahnya yang mencelakakan.

Hikmah kisah ini ialah Durna tidak berani menegakkan jati dirinya sebagai resi. Ia tidak berkutik oleh kepentingan politik. Ini akibat ia belum kalis dari nafsu urusan fana. Ia menebar tipu muslihat untuk kemenangan elite yang telah berjasa memberi kenikmatan.

Akhir kisah itu, Bratasena, berkat dari kejujuran dan ketekunannya menjalankan perintah guru, mendapatkan impiannya. Ia menjadi Bima suci sehingga menambah kekuatan Pandawa. Ini yang tidak diperkiran oleh Durna dan Kurawa.

Dalam konteks kebangsaan, sanggit Ki Enthus ini tampaknya juga untuk nyemoni (menyindir) terhadap tidak sedikitnya 'orang suci' atau mereka yang mengaku-ngaku 'agamais' dengan segala atribut palsunya, yang wira-wiri numpang mencari kenikmatan duniawi di jalan politik. (M-4)

Komentar