Tifa

Spirit Kartini dalam Seni

Ahad, 23 April 2017 12:30 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

"TEMAN-TEMAN jangan berfikir kalau ini foto ya," ujar kurator Citra Smara Dewi ketika memasuki ruang pamer ketiga.

Patutlah pesan itu disampakan Citra. Dengan melihat karya Rina Kurniyati, kesan pertama yang akan muncul ialah karya fotografi. Padahal, sebenarnya Rina menggarap karya itu dengan teknik lukis kaca.

Salah satu karya yang menarik berjudul From canvas to glass.
Dalam karya itu, Rina menggambar setiap bagian interior mobil antik. Bagian depan ruang kemudi dilukis dengan sangat detail. Seolah semua presisi dan tak ada beda dengan aslinya, mulai dari dasbor, roda setir, kaca depan, tuas persneling, hingga bahkan panel-panel kecil dalam ruang kemudi mobil.

Satu per satu susunan warna diolah dengan sangat teliti. Menariknya, Rina menggunakan campuran warna yang sangat banyak dalam lukisan itu. Mencapai 498 campuran warna. Kecermatan dan kepiawaian mengolah warna menghasilkan lukisan yang prima dengan dominasi warna merah cerah dan efek kilauan cahaya yang menghadirkan kesan klasik dibalut kemewahan. Sementara deretan mobil-mobil antik sebagai latar belakang karya seolah mampu mempertegas pesan bahwa sang antik itu pernah berjaya pada masanya.

Rina tidak sendiri dalam pameran itu. Masih ada dua seniman perempuan lagi, yakni Neneng Sia Ferrier dan Ika Yuni Purnama yang berunjuk karya. Mereka turut dalam pameran bertajuk Time Lovers-Kreativitas Ibu Sepanjang Masa yang dihelat di Galeri Nasional Indonesia pada 21 April-6 Mei 2017. Sebanyak 21 karya dipamerkan dalam helatan yang dikuratori Citra Smara Dewi.

Pembukaan pameran ini bertepatan dengan Hari Kartini. Spririt Kartinilah yang melatarbelakangi pameran tersebut. Kartini memiliki peran penting dalam membangun kesadaran emansipasi khususnya di lingkungan budaya Jawa. Dahulu peran perempuan hanya dianggap sebagai partner dalam proses reproduksi dan mengasuh anak semata. Berkat perjuangannya melalui Surat-Surat Kartini, saat ini perempuan Indonesia memiliki peran yang siginifikan bukan hanya dalam lingkungan keluarga, sosial masyarakat, dan negara.

Spirit Kartini

Ketiga seniman itu mencoba memaknai spirit Kartini dalam ruang-ruang kreativitas. Mereka hanya segelintir kecil dari jutaan perempuan Indonesia, yang beruntung dapat menghadirkan spirit Kartini dalam ruang imajinasi. Mereka menerjemahkan spirit Kartini dalam karya.

Berbincang tentang tiga seniman perempuan tersebut ada satu hal yang menarik. Tema-tema yang diangkat merupakan hal yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, yaitu mengangkat tema-tema kasih sayang dalam keluarga. Sebagai ibu rumah tangga, ketiga seniman ini mempunyai tanggung jawab mendidik anak. Dalam aktivitas rutin mendidik anak acap kali melihat atau mengamati benda-benda keseharian dalam keluarga.

"Pemilihan material culture berupa benda-benda, mainan anak-anak atau atribut yang terkait dengan aktivitas anggota keluarga tanpa sadar menjadi pilihan sumber inspirasi dalam berkarya sehingga terlihat dominan pada tema-tema yang diangkat ketiga pelukis," begitu menurut Citra dalam kuratorialnya.

Rina, misalnya, ia memiliki dua putra dengan hobi mengoleksi mainan anak-anak berupa mobil-mobilan. Ia tanpa sadar memilih tema otomotif pada awal perjalanan karier sebagai pelukis. Mobil yang dilukis Rina sebagian ialah mobil kesukaan putra keduanya. Ia bukannya tidak bisa melukis objek lain, seperti bunga ataupun pemandangan. Namun, objek mobil baginya selalu menghadirkan tantangan tersendiri.

"Saya selalu mendapat tantangan untuk melukis mobil," ujar Rina.
Menurut kurator, pemilihan objek mobil bagi pelukis Rina, bukan sekadar mainan anak-anak yang bisa dijumpai di mal atau pasar tradisional. Ketika Rina melukis sebuah mobil tersirat makna kasih sayang, yaitu rasa cinta kasih yang mendalam seorang ibu kepada anaknya.

"Goresan garis tegas dan warna cemerlang pada lukisan kaca tersebut merefleksikan konsistensi dan kepedulian dirinya terhadap sang anak, khususnya dalam memperhatikan perkembangan anak," terang Citra.

Mengangkat tarian

Lain cerita dengan Ika Yuni yang memiliki putri dengan kesenangan menari balet. Tanpa sadar, ia memilih tema penari dalam karya-karyanya. Hari-hari Ika Yuni dihabiskan bersama sang putri dari mulai mengantar sang putri ke sekolah balet sampai menonton pertunjukan balet. Ternyata, rutinitas itu mengelitik alam bawah sadarnya untuk mulai mengangkat tarian sebagai sumber inspirasi.
Pun demikian, ketika Ika Yuni melukis tarian balet, sosok tiga penari bukan sekadar mewakilkan sebuah bentuk tarian klasik, melainkan tersirat makna yang tersembunyi. Itu menjadi wujud cinta kasihnya kepada putrinya yang sedang menari. Gerakan balet yang dinamis pun merupakan cerminan kehidupan putrinya yang tengah tumbuh remaja dengan berbagai dinamika kehidupan remaja. "Tarian itu menurut saya banyak sisi yang bisa digunakan terutama bagi perempuan menghadapi kehidupan," terang Ika. Lebih dalam, tari balet punya dua hal yang sangat penting, yakni kelenturan dan kekuatan tumpuan. Kelenturan itu bisa dimaknai sikap hidup perempuan yang demikian lentur. Perempuan bisa menjadi banyak figur dalam kehidupan. Misalnya, dalam kehidupan keluarga, perempuan menjadi ibu, guru, bahkan pencari nafkah. "Sedangkan tumpuan kaki dalam balet bisa dimaksudkan sebagai pijakan kukuh perempuan dalam kehidupan," tutur Ika.

Sementara Neneng, selain memilih objek yang melambangkan kasih sayang dan persahabatan, yaitu alat musik seperti gitar, harpa, dan biola. Ia juga menghadirkan tema kebahagian melalui figur sepasang suami istri. Karya Neneng berjudul Love and Happines menggambarkan seorang lelaki dan seorang perempuan duduk berdekatan. Perempuan digambarkan agak condong kearah sosok lelaki. Ia bukan sekadar menggambarkan sosok suami istri. Lebih jauh, Neneng ingin menyampaikan sebuah pesan tentang melabuhkan ketulusan dan keihklasan dalam mencintai keluarga. Energi yang terpancar ialah spirit kasih sayang dan kebahagiaan menjalani hidup bersama seorang suami.

Ketiga seniman perempuan itu juga memiliki kelebihannya masing-masing dalam pilihan garap. Neneng S Ferrier, misalnya, ia punya keunikan dalam melukis figur manusia dengan leher menjenjang, sedangkan Rina Kurniyati punya kepiawaian teknis melukis di atas kaca yang prima. Ia mampu menembus batas tradisi lukisan kaca.
Ika Yuni Purnama memiliki kekuatan karakter dengan pendekatan gaya impresionis. Berbeda dengan Neneng dan Rina yang menekankan pentingnya unsur detail dan kecermatan dalam melukis, bagi Ika Yuni hal tersebut tidak menjadi prioritas utama. Selain itu, kekuatan lukisan Ika Yuni terletak pada keberanian menabrak warna-warna komplementer dalam satu bingkai karya sehingga terlihat sangat dinamis dan energik.

Ketiganya mempunyai kesamaan dalam tekad untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik sekaligus menjadi seniman yang mumpuni. Meski tak jarang mereka harus pintar-pintar bersiasat dengan waktu. Seperti ketika Ika Yuni berhenti sementara ketika harus menunaikan kewajiban terhadap suami dan anak. Rina menggunakan dapur sebagai studio lukis. Ia menyatukan keduanya seperti melakoni bareng antara peran ibu dan seniman. Neneng memulai terjumn melukis ketika anaknya dewasa. Mereka membuktikan diri sebagai Kartini masa kini. (M-2)

Komentar