Jeda

Yang Muda yang Mencegah

Ahad, 23 April 2017 15:00 WIB Penulis:

TINGGINYA angka perkawinan anak di Indonesia memicu perhatian anak muda Tanah Air. Salah satunya Nurul Indriyani, mahasiswa semester 4 jurusan Public Relation di Universitas Diponegoro Semarang. Sejak SMP ia mengampanyekan pencegahan perkawinan anak. Pasalnya, ia merupakan anak dari perkawinan anak yang dilakukan orangtuanya.

"Ibuku dulu menikah umur 15 tahun dan melahirkanku umur 16 tahun. Umur bapakku waktu itu hanya berbeda 9-10 tahun dari ibuku," jelas Nurul kepada Media Indonesia, Kamis (20/4).

Meski begitu, orangtua Nurul ingin anaknya bersekolah tinggi dan meraih cita-cita tidak seperti ibunya yang berhenti sekolah karena perkawinan itu. Nurul aktif dalam kelompok anak di desanya, yaitu Desa Padang, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kelompok ini mengampanyekan pencegahan perkawinan anak berdasarkan pengalaman ibunya.

"Kebetulan aku juga ikut di kelompok anak di desa. Di situ aku sharing ke teman-teman. Ternyata teman-temanku di sana mereka punya tetangga atau yang teman seumuran yang ternyata menikah di usia anak," paparnya.

Nurul pun sempat membuat survei pada 2007-2012. Ia menemukan ada 31 anak yang menikah di usia antara 13-18 tahun. "Jadi, hasil survei itu ditemukan bahwa dari 31 orang, 3 dari 4 anak yang menikah itu ternyata mengaku mengalami kesulitan untuk mengasuh anaknya dan masih bergantung pada orangtua karena belum memiliki pekerjaan tetap," lanjut Nurul.

Survei yang dilakukannya tahun 2013-2015 tercatat angka perkawinan anak di desanya menurun menjadi hanya 10 anak dan survei yang sama pada 2016 hasilnya yang semakin menurun, yaitu hanya 2 orang yang menikah usia anak dan disebabkan hamil di luar nikah.

"Aku senang sekali karena ternyata hal-hal kecil yang dilakukan itu bisa berdampak besar dan aku akan terus semangat melanjutkan, bahkan sekarang pemerintah di desa sudah sepakat dan mendukung kampanye kita dan mereka tidak mau menikahkan anak yang di bawah 19 tahun," imbuhnya.

Duta

Selain Nurul, ada Nanda Rizka, Duta Generasi Berencana (Genre) Indonesia Tahun 2015 yang berjuang menyosialisasikan program-program Genre, yaitu remaja yang tidak menikah di usia anak, tidak berhubungan seksual di luar nikah, dan tidak menggunakan narkoba dan zat adiktif lainnya.

"Tugas utamanya duta ialah sosialisasi program ketahanan remaja. Selain sosialisasi, kita juga advokasi. Peran ini ada 2, yaitu pendidik dan konselor sebaya. Sebagai pendidik, kami memberi informasi yang komprehensif, sedangkan untuk konselingnya jadi konselor sebaya untuk teman-teman. Saya selama menjadi duta itu menangani 3 teman yang hamil dan aborsi. Secara akademis saya bukan anak kesehatan, tetapi karena pernah dilatih, saya bisa kasih rujukan dan menemani teman yang hamil dan mau aborsi itu ke puskesmas dan rumah sakit supaya dapat pembinaan," jelas Nanda saat dihubungi Media Indonesia (20/4).

Mahasiswi semester 6 jurusan hubungan internasional di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta mengaku kesulitan berhadapan dengan remaja yang seksual aktif. "Yang sulit ialah mengajak mereka yang seksual aktif. Saya di lapangan juga berinteraksi dengan beberapa organisasi dan NGO-NGO yang mereka sebagian besar pro dengan mereka yang seksual aktif," imbuhnya.

Namun, tidak mematahkannya untuk aktif memberikan pendampingan. Melibatkan mereka dalam kegiatan Genre. "Banyak teman yang tadinya pasien saya yang semakin lama saya ajak di kegiatan di rural area, mereka akhirnya melihat kondisi di lapangan, dan lama-kelamaan mereka mulai sadar. Jadi partner saya sekarang itu banyak yang dulu merupakan mantan pasien saya," pungkas Nanda. Riz/M-4

Komentar