WAWANCARA

Mengabdikan Diri untuk Geologi

Ahad, 23 April 2017 13:00 WIB Penulis:

MI/ARDI TERISTI HARDI

SEBAGAI peneliti geologi, Nugroho Imam Setiawan sering melakukan perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri dalam waktu lama. Alhasil, keluarga pun sering ditinggalkan. Menurut Nugroho, keluarganya, terutama sang istri, sudah sangat mengerti tentang konsekuensi profesinya. Pemahaman tentang profesi itu bahkan sudah terbangun sejak masa pacaran, yakni Nugroho sudah sering bepergian.

"Dia (sang istri) sudah paham. Saya memberi tahu kepada dia bahwa jadi istri seorang geologis itu mirip menjadi istri tentara, sering bertugas di tempat terpencil dan jarang pulang. Saya bilang kepada dia, kita menggunakan istilah no news is a good news. Kalau tidak ada kabar, justru itu kabar baik," kata pria yang menikah tahun 2010 ini.

Keharusan jauh dari rumah, menurut Nugroho, bahkan lebih berat saat masih bekerja di perusahaan tambang batu bara. Kala itu ia baru bisa pulang ke Yogyakarta setelah enam bulan di daerah tambang. Kini sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada, Nugroho mengaku intensitas bepergian sudah lebih berkurang.

Bagi Nugroho, menjadi dosen seperti sekarang merupakan hal yang dicita-citakannya. Walau gajinya tidak sebesar saat bekerja di pertambangan, ia mengaku memiliki passion yang lebih besar dengan menjadi dosen.

"Berbeda sekali (gaji di pertambangan dengan gaji dosen). Mungkin bisa sampai 10 kali lipat perbedaannya. Tapi, pada waktu itu saya tidak menemukan passion atau kebahagiaan ketika saya bekerja di sana (pertambangan batu bara)," kata dia.

Menurutnya, ilmu yang dimiliki saat bekerja di pertambangan seakan-akan berhenti. Pasalnya, dirinya hanya memikirkan satu tugas saja. Pada waktu itu, ia seperti si pengebor batu bara dengan pekerjaan yang itu-itu saja.

"Passion saya ternyata tidak di situ. Saya bosan kemudian memutuskan melanjutkan kuliah lagi dan bercita-cita menjadi dosen," kenang dia.

Dosen, kata Nugroho, menarik karena kehidupan dinamis. Setiap tahun ia akan menjumpai mahasiswa baru. Pekerjaan yang dilakukan pun tidak monoton karena ia juga bisa pergi melakukan penelitian ke tempat-tempat yang berbeda-beda.

"Itu yang tidak bisa digantikan dengan nilai uang. Misalnya, saya ke Antartika tidak menambah gaji atau uang di rekening saya, tetapi justru saya mengeluarkan uang pribadi banyak. Tapi, ekspedisi ke Antartika kalau diuangkan berapa ratus juta. Ini yang tidak bisa kita bandingkan bekerja di industri dengan menjadi dosen," kata dia. Tidak hanya menambah wawasan dan keilmuan, perjalanan penelitian juga semakin mempertebal sisi spiritualnya. Ia semakin bersyukur kepada Tuhan atas segala yang diciptakan di bumi ini. AT/M-3

Komentar