Jeda

Setop Perkawinan Anak

Ahad, 23 April 2017 06:33 WIB Penulis:

MENIKAH, memiliki anak, dan menua bersama pasangan menjadi impiannya saat beranjak dewasa. Sayangnya, impian itu harus ia rasakan lebih awal. Di usianya yang masih 17 tahun, Gadis (bukan nama sebenarnya) harus memainkan peran sebagai ibu. Kenikmatan sesaat dengan lawan jenis saat sekolah menengah atas (SMA) berujung malapetaka. Ia harus kehilangan kesempatan mendapatkan ijazah resmi dari sekolahnya karena harus dikeluarkan tepat satu minggu sebelum masa ujian nasional (UN).

Saat berbincang dengan Media Indonesia, Selasa (18/4), Gadis mengaku sempat ingin menggugurkan kandungannya, bahkan mengakhiri hidup karena tidak kuat akan tekanan sosial, terutama dari pihak laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dalam pernikahannya yang berusia sekitar satu tahun itu, ia tidak mendapatkan perlakuan layaknya istri.

"Saking dia (pihak laki-laki) tidak mau tanggung jawab, bahkan setelah menikah kami tidak pernah tidur sekamar meski tinggal serumah. Apalagi mengurus anaknya sama sekali tidak. Yang mengajukan cerai pun dia," ucap Gadis yang melanjutkan sekolahnya dengan kejar Paket C dan melanjutkan studinya di Bandung.

Kisah Gadis juga dialami beberapa anak lainnya di Indonesia. Penyebab perkawinan anak pun beragam, mulai kehamilan akibat seks bebas, masalah ekonomi, hingga tradisi. Padahal, perkawinan anak yang belum siap secara fisik dan mental bisa berdampak pada anak itu.

Pemerintah pun melalui Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan berbagai langkah pencegahan. Pembatasan usia pernikahan dalam Undang-Undang Perkawinan, pengenalan soal seksual, hingga sosialisasi pencegahan dengan tajuk Generasi Berencana (Genre) juga diterapkan. Dengan begitu, diharapkan, tingkat perkawinan anak dapat menurun. Riz/*/M-4

Komentar