Wirausaha

Ketika Batik Jadi Penanda Nusantara

Ahad, 23 April 2017 04:35 WIB Penulis: Fario Untung

MI/Ramdani

Ketika batik jadi salah satu identitas Indonesia, tiap provinsi dan kota butuh ikon dan budaya diabadikan dalam kain. Batik gobang hadir mengisi kebutuhan itu.

Jarinya sibuk melukis di atas kanvas kecil putih. Tak jarang matanya memandang ke arah teras rumah untuk mencari inspirasi. Warna merah, biru, dan putih terlihat jelas.

Setelah dilihat detail, gambar tersebut merupakan sebuah ondel-ondel, salah satu ikon budaya Betawi. Sosok itulah yang sedang digambar Ethy Mayoshi. Ethy, sapaan akrabnya, pengusaha batik yang lebih senang dipanggil seniman batik. Ia fokus pada batik tulis sehingga karyanya berciri khas, bahkan diklaim tidak akan ditemui di perajin lainnya.

"Saya pernah membuat batik tulis bermotif gereja katedral, ondel-ondel, Trans-Jakarta, Gedung DPR/MPR, tari Betawi, Lenong dan yang terbaru MRT," kata Ethy.

Lebih detailnya soal Ibu Kota, lulusan fakultas manajemen ini juga kerap membuat batik dengan ciri khas tiap-tiap wilayah Jakarta. Jakarta Selatan ia buatkan corak buah rambutan dan burung gelatik, Jakarta Barat bercorak bunga anggrek dan ikan cupang, Jakarta Utara bermotif burung raja udang dan Jakarta Timur bermotif bambu.

"Karena bagi saya, membuat batik itu tidak sekedar membuat begitu saja, melainkan harus ada seninya. Membuat batik dimulai dari menggambar motif, menyunting hingga mewarnai, semua itu ada seninya dan tidak bisa sembarang," tutur Ethy, sang pendiri batik gobang Jakarta itu.

Satu dekade

Ethy fokus berbisnis batik dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya pada 2008. "Awalnya, kebetulan ada teman saya datang dari Malaysia dan meminta dibelikan batik, lalu saya carilah batik di Tanah Abang, Senayan dan tempat lainnya, jadi cuma beli lalu dijual ke teman saya itu," kenang Ethy.

Setelah itu, secara perlahan muncul ketertarikan akan bisnis batik. Ia memulainya dengan membuat beberapa helai batik tulis dan diperkenalkannya ke kantor Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tak disangka, dari hasil karyanya yang menggambarkan ikon budaya Bogor dan Jawa Barat itu, ia beroleh pesanan langsung dari Netty Prasetiyani, istri Gubernur Jawa, Ahmad Heryawan. "Mungkin itulah awalnya saya terjun langsung ke bisnis dan menjadi seniman batik sampai sekarang ini. Saat itu saya sangat bangga, masih banyak masyarakat yang menghargai karya batik tulis," tutur Ethy.

Berawal dari Kemenpar

Setelah merintis pasar di kantor-kantor pemerintah, pada 2009 ia diperkenalkan staf di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk memperkenalkan batik tulisnya ke pejabat-pejabat di kantor itu. Setelah ada beberapa pesanan, ia pun mulai diperkenalkan ke kantor pemerintahan lain. "Kalau dibilang awal saya bisa masuk ke kantor pemerintahan itu ya di kantor Pemda Bogor. Setelah itu saya ada kenalan di Kantor Direktorat Jenderal Imigrasi dan baru ke Kemenpar itu," jelas Ethy.

Sejak itulah, Ethy beroleh jaringan ke Dirjen Pajak, DPR, Samsat Jakarta, Pemprov dan Pemkot Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta beberapa Kedutaan Besar RI di negeri tetangga.

Selain itu, Ethy kerap mendapat pesanan dari (PNS) seluruh DKI Jakarta, kecuali Jakarta Pusat. "Saya biasanya diminta membuatkan motif berbeda untuk setiap wilayah Jakarta. Intinya yang menjadi ciri khas masing-masing wilayah saja," papar Ethy. Meski sudah banjir orrderan, Ethy tetap menyempatkan waktu untuk terus menggambar dan melukis. Bahkan motif batik tulisnya pun, ia buat tak semata berdasar permintaan pasar.

"Bagi saya urusan laku atau tidak laku itu belakangan, tapi semua itu saya lakukan karena hobi saya memang menggambar dan membuat batik," tegasnya. (M-1)

Komentar