Wirausaha

Dari Tegal Terbang ke Paris

Ahad, 23 April 2017 04:15 WIB Penulis: Rio/M-1

DOK. IE-OSH BATIK

Buat merealisasikan desain dalam helaian batik, Ethy Mayoshi, sang pendiri batik gobang Jakarta, memiliki workshop di Tegal, Jawa Tengah, yang memproduksi 500 lembar batik tulis setiap bulannya. Buat memenuhi order yang lebih massal, ia pun menghasilkan batik cap juga kain cetak bermotif batik dengan jumlah 100-200 setiap harinya.

"Kalau untuk harga, yang batik tulis itu sekitar Rp350 ribu sampai dengan Rp2,5 juta. Sedangkan yang batik cap dan cetak, berkisar di harga Rp150 ribu sampai Rp250 ribu," jelas Ethy.

Tak hanya berkutat di dalam negeri, Ethy juga melebarkan sayap Gobang hingga luar negeri. "Bukan semata mengincar sisi bisnis, tapi memperkenalkan batik pada dunia internasional.

"Sejak 2010, perjalanan Ethy membawa batik telah meliputi sembilan negara. Beberapa perjalanan itu didapatnya sebagai hasil undangan kedutaan besar Indonesia di tiap-tiap masing negara.

"Undangan pertama kali didapat dari KBRI di Belanda, Prancis, dan Jerman untuk mengikuti rangkaian acara PT Telkom Indonesia. Saya diminta memperkenalkan dan mengikuti berbagai acara."

Selain tiga negara itu, Ethy kerap menerima undangan dari Jepang, Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Lebanon. "Di sana, saya tak pernah mengincar pembeli atau menjual produk dalam jumlah yang besar. Yang paling penting, orang asing itu tahu batik, itu saja sudah cukup. Jika mereka ingin mengadakan acara menggunakan batik, mereka akan mencari kita," tutur Ethy.

Pelatihan batik

Kecintaan Ethy terhadap batik juga memacunya menyelenggarakan pelatihan di instansi-instansi pemerintahan serta workshop membatik di rumah. Berlokasi di Srengseng, Jakarta Barat, Ethy membuka rumahnya untuk masyarakat yang ingin mencoba membatik, mulai menggambar hingga menyunting. Jika pun dirinya sedang tidak ada di rumah, Ethy selalu meminta pekerja batik yang ada di rumahnya untuk mendampingi pengunjung yang ingin mencoba membatik.

Salah satunya Eva Kartika Sari yang siang itu datang bersama anak dan istrinya untuk mencoba membatik. "Kalau saya, sudah tiga kali sama yang ini, kalau anak saya baru pertama kali," tutur Eva ketika berbincang dengan Media Indonesia.

Menurut Eva yang memang penyuka serta senang mengoleksi batik, membuat batik, khususnya batik tulis, sangatlah susah serta membutuhkan ketelitian luar biasa. Oleh sebab itu, masyarakat jangan kerap menilai sebuah batik tulis dari harganya saja. "Membuat satu helai batik tulis itu luar biasa sulit, karena pembuatnya harus sabar, teliti serta butuh waktu lama. Oleh karena itu jangan kaget kalau mendengar harga batik tulis itu mahal, apalagi yang motif dan coraknya unik," jelas Eva.

Eva yang juga mengajak anak perempuannya belajar membatik itu berharap agar masyarakat Indonesia mau menghargai karya seni batik dengan setidaknya memiliki satu batik tulis di lemari bajunya. Jika tidak seperti itu, budaya seperti ini sangatlah mudah diklaim dan direbut negara lain. "Kalau setiap orang punya satu saja batik tulis di lemarinya, kan indah sekali itu karena budaya batik kita akan semakin kuat dan diakui dunia luar," pungkasnya.

Komentar