MI Muda

Belajar dari para Pengupas Kerang

Ahad, 23 April 2017 04:01 WIB Penulis: Lukas Gilang Pamungkas/M-1

MI/Duta

DI ujung utara Jakarta, ada keluarga-keluarga dengan kisah muram. Namun, sambil mengupas kerang, mereka optimistis dan mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan.

Belajar tentang kerja keras dan ketulusan, berempati dengan warga yang hidup di pemukiman padat dengan aroma anyir yang tercium sepanjang hari. Itulah yang saya alami selama tiga hari dua malam, tinggal di kawasan yang kerap disebut Kampung Pinggir Laut di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Saya menginap, berinteraksi juga berupaya berkontribusi buat mereka. Saya belajar tentang nilai hidup kesederhanaan, bersyukur, dan rendah hati.

Kampung ini terbilang kumuh, sampah berserakan disudut gang dengan bau amis tercium di setiap jalan. Rumah-rumah belum bisa disebut layak huni karena masih semi permanen. Di sana pula, bangkai kapal-kapal besar dihancurkan agar besi-besinya bisa dijual. Kendati begitu, kehidupan sosial di sana masih baik, masyarakat ramah dan hangat, termasuk pada saya.

Lebih suka cari uang

Sayangnya, setelah keliling dan menginap, saya menemukan masih banyak anak usia 3-17 tahun yang putus sekolah. Alasannya tidak ada biaya.

Namun, biarawati yang bertugas di situ menjelaskan fakta lain. "Bukan karena tidak ada uang, melainkan sudah dikenalkan uang oleh orang tuanya sehingga ketika sudah mendapatkan uang mereka malas pergi ke sekolah, lebih baik mencari uang," kata biarawati tersebut.

Jika disimpulkan, masyarakat belum terlalu menomorsatukan pendidikan, asalkan bisa baca, tulis, perkalian, pangkat, pengurangan dan pertambahan sudah dibilang cukup. padahal, ini masih di \DKI Jakarta, lo!

Untuk mencari nafkah, mereka menjadi petugas keamanan, penyanyi dangdut, hingga menjadi buruh kupas kerang dan buruh gunting ikan. Setiap hasil kupas kerang untuk per kg-nya dihargai Rp4.000 dan untuk hasil gunting ikan Rp20 ribu-Rp25 ribu/kg-nya, bergantung pada jenis ikan asin yang diguntingnya.

Istimewanya, kehidupan religius sangat tinggi. Anak-anak mengikuti pelajaran membaca Alquran setiap sore. Hasilnya, nilai-nilai kehidupan dan kesopansantunan masih terjaga. Warga terbiasa mengucap salam, menunduk, atau menyapa.

Sesuai kemampuan

Pada Kamis (19/1), saya dan kawan-kawan turun dari bus yang mengangkut 86 orang, berangkat dari sekolah pukul 08.00. Selama perjalanan, ada yang berprasangka baik pun buruk.

Kurang lebih setelah 2 jam perjalanan, kami tiba dan dibagi dalam regu untuk ditempatkan berbagai daerah. Setiap orang tinggal di rumah yang berbeda serta setiap regu yang masing-masing berisikan 25 orang, disebar di Cilincing dan cukup jauh, tidak berdampingan.

Regu pertama ditempatkan di lingkungan paling bau, paling susah, dan bisa dibilang hanya orang-orang kuat dan memiliki fisik yang bagus ditempatkan di sana. Mereka ditempatkan di kawasan pengupas kerang dan segala profesi nelayan.

Regu kedua menempati Kampung Sawah, tempatnya jauh dari, tidak terlalu bau laut, tapi banyak kafe-kafe malam. Warganya bekerja sebagai pedagang, sopir mikrolet, pasukan oranye hingga ternak ikan bandeng. Selanjutnya, regu ketiga ditempatkan di daerah Sekolah Bambu dan tempat pembuangan sampah. Warganya mayoritas pemulung dan pemilah barang bekas.

Saya dan Eric ternyata ditempatkan pada regu pertama karena dianggap termasuk siswa yang tidak mudah jijik, memiliki fisik serta kesehatan yang bagus.

Rumah kerang

Kami diantar ke tempat bertuliskan 'Rumah Kerang', tempat para biarawati melayani masyarakat sekitar Cilincing. Di sana, para ibu rumah tangga mengikuti pelatihan kerajinan tangan, anak-anak kursus pelajaran secara gratis, posyandu dan cek kesehatan lainnya. Sebanyak 25 siswa disebar ke berbagai rumah. Saya mendapatkan nomor 18 tinggal bersama Ibu Novi yang ternyata meminta dipanggil mimi, plesetan dari kata mommy dalam bahasa Inggris.

Selama perjalanan ke rumah, ia menceritakan lokasi rumahnya yang dekat pantai, pekerjaannya sebagai buruh kupas kerang dan buruh gunting ikan asin. "Jika orang pertama kali datang, pasti merasa tempat itu sangat kotor dan bau amis dari limbah kerang," kata Mimi.

Sesampainya di rumah, saya disambut baik oleh Pak Jaka, suami Mimi yang berusia 54 tahun, anak perempuannya yang paling besar, Novi, 20, dan sudah memiliki anak berusia 1,5 tahun, Juis. Ada pula anak paling kecil, Meidah, 12, yang masih SD serta sang cucu, Dimas, 12, yang putus sekolah.

Mereka memperkenalkan diri sambil terus mengupas kerang. Rumah mereka berlantai semen dengan tripleks untuk memisahkan antarruangan. Di dalam rumah itu terdapat enam ruangan yang saling menyatu, mulai ruang tamu, ruang tengah, dapur, kamar tidur, musala, serta WC. Namun, WC itu pun tak berfungsi karena permukaan tanahnya turun. Luas rumah itu kurang lebih 10 x 7 m, menampung enam orang. Pantai di sana kotor. Beberapa rumah warga bahkan membuang kotoran langsung ke laut. Namun, semuanya kontras dengan wajah dan tata krama masyarakat yang ramah.

Belajar berkontribusi

Hari pertama, saya langsung bertugas mengupas kerang. Ketika itu kira-kira pukul 12.00, matahari sangat terik, tapi karena ada angin laut dan saya mengupas kerang di teras, suasana begitu nyaman dan teduh. Mimi ternyata menyangka saya telah kuliah. Ia menanyakan mengapa siswa SMA boleh berambut panjang, saya langsung menjelaskan peraturan istimewa di sekolah saya.

Waktu terus berjalan hingga pukul 13.30, Meidah dan Dimas pulang ke rumah sehabis bermain. Mereka langsung menyalami saya. Mimi bercerita tentang Dimas yang yatim piatu. Ibundanya meninggal ketika menjadi TKI di Arab Saudi dan ayahnya menyusul berselang 3,5 bulan kemudian.

Mimi mengaku Dimas belum bersekolah karena belum memiliki akta kelahiran. "Belum sempat mengurus karena sulit dan ribet," kata Mimi.

Tak cuma tentang Dimas, drama lain yang menguras emosi ialah kondisi keluarga Mimi.

Ketika kupasan kerang habis, Mimi menyuguhkan makan siang, yakni mi instan kuah tanpa telur, nasi, dan kerang hijau rebus.

Setelah itu, saya melanjutkan menggunting ikan asin yang mereka sebut ikan beseng, ikan laut biasa dan ukurannya seperti bibit ikan, tapi diasinkan lalu digunting menyerupai ikan teri. Di pasar, ikan gunting beseng disebut ikan teri kw.

Kini, giliran abah yang bercerita kenangannya tentang kampung halamannya, Subang, Jawa Barat. "Saya lebih senang hidup di kampung karena gemar bercocok tanam dan berternak. Saya bisa lo panen 18 karung beras, padahal warga biasanya hanya 10 karung," kata Abah.

Buat Meidah dan Dimas, saya berbagi ilmu, membantu Meidah mengerjakan PR matematika serta mengajari Dimas menghafal perkalian 1 hingga 10. Ternyata, jawaban Meidah masih salah 3 dari 5 soal yang saya berikan. Jadi saya harus mengajarinya hingga mengerti. Dimas pun belum kunjung hafal, kini giliran Fauzan yang dipanggil Ipin, karena wajahnya mirip karakter film animasi Upin-Ipin.

Di situ saya merasa kewalahan. Tak lama saya mengundang dua teman untuk membantu. Karena tak kunjung hafal, setelah 1 jam saya akhirnya menemukan cara agar Ipin mudah menghafal dengan menyanyikan abjad ABCD! Bahkan hingga sebelum saya pulang, Ipin masih meminta diajari dengan berbahasa Inggris!

Malam pun berakhir dengan perasaan haru, prihatin, sedih, dengan suara ombak kecil ditemani keheningan yang mendamaikan! (M-1)

Lukas Gilang Pamungkas

Kelas XIC

SMA Pangudi Luhur Jakarta

Komentar