MI Muda

Banyak Bisnis, Banyak Berbagi

Ahad, 23 April 2017 03:01 WIB Penulis: Gregorius Gelino/M-1

Dok. Pribadi

Umur baru 21 tahun, tapi tiga lini bisnis digeber sekaligus. Lebih istimewa lagi, dia juga intens berbagi pengalaman.

KETIKA rumah dan aset keluarga dilalap si jago merah, orangtuanya bekerja keras, hampir tidak pernah libur. Rico Huang pun terlecut bisa mandiri. Kini total 30 karyawan membantunya dan keputusan untuk berhenti kuliah diambilnya agar fokusnya tak terganggu. Simak wawancara Muda dengan Rico Huang!

Ceritain dong awal kamu berwirausaha?

Gue berwirausaha sejak SMA, coba jualan karena enggak ada uang jajan dari orangtua. Kondisi keluarga memang prihatin, rumah kebakaran, nyokap sakit.

Awalnya, usahanya enggak terkonsep, cuma jualan, dapat pemasukan, itu sudah bikin senang dan merasa cukup. Namun, gue mulai serius sejak lulus SMA. Setelah sempat kuliah di Binus hingga semester 2, gue keluar karena bisnis berantakan dan merasa yakin dengan pilihan buat berbisnis. Tadinya ingin mengembangkan bisnis dengan mengikuti workshop, tapi ternyata tarifnya lebih mahal daripada biaya kuliah, jadi gue belajar autodidak.

Saat SMA, gue jualan nasi uduk buatan ibu di sekolah, tapi disuruh berhenti karena bikin sepi kantin, soalnya teman-teman jadinya jajan sama gue. Pernah juga jualan mi ayam.

Akhirnya ganti jualan aksesori ponsel. Gue sempat dipanggil sama kepala SMA untuk presentasi soal kredit ponsel yang gue jalankan.

Gue lanjutin bisnis ini sampai lulus SMA, tapi secara online karena keterbatasan modal. Dari situ gue belajar bisnis online.

Belajar bisnis online dari mana?

Gue awalnya coba-coba sendiri, tapi ketemu Kaskus dan coba jualan di Forum Jual Beli. Dari Kaskus, gue menulis di blog, awalnya karena emang suka menulis, tapi lama-lama teman yang baca blog, nyaranin untuk ikut kelas bisnis online. Nah dari situ, gue coba deketi orang-orang yang sudah jago soal bisnis online, jadi lebih cepat paham karena banyak teman untuk sharing.

Agenda ke depan?

Gue termotivasi untuk membantu orang mulai bisnis online. Karena di luar banyak orang yang terlilit utang, enggak punya penghasilan, mau kerja tapi pendidikan kurang. Nah karena itu gue coba membantu mereka untuk mulai bisnis online sebagai solusi.

Medium bisnis online kamu?

Awalnya dari Twitter, tapi di Indonesia sekarang, traffic-nya mulai turun. Akhirnya gue pindah ke Instagram. Jadi sekarang gue fokus di Instagram, Facebook, dan website sendiri.

Gimana perkembangan terkini bisnis kamu?

Dari mi ayam, nasi uduk, hingga jualan kaus polos, kaus branded, aksesori ponsel, perlengkapan rumah tangga, kini aku fokus ke Dropshipaja.com, Alona.co.id, Buatcasing.com.

Jelasin dong soal Alona!

Alona ini untuk para pemula di bidang bisnis online, juga orang yang sudah mulai bisnis online dan ingin meningkatkan penjualan serta omzetnya.

Pembelajarannya selama setahun tapi gue buka kelas ini sebulan sekali. Kami enggak tatap muka, belajar dari video dan artikel. Kami mengerjakan tugas juga secara online, pernah juga kopdar untuk ketemu di daerah supaya makin dekat. Biaya ikut Alona ini Rp1 juta.

Aku juga mendirikan komunitas bisnis online yang berisi anak muda atau orang tua yang berjiwa muda, dalam grup Facebook Bisnis Anak Muda, member-nya sekitar 60 ribu, sehari bisa nambah 500 orang.

Di grupnya, ada dua konten bisnis yang di-share tiap hari. BAM lintas usia dan negara, paling muda ada anak kelas 4 SD dan paling tua, 55 tahun.

BAM berdiri 2009, tapi baru serius 2012, maksudnya sudah terkonsep materinya, kopdar, seminar online. Kalau dulu, cuma kumpul-kumpul doang. Jadi, di BAM, buka pendaftaran, biasanya ada 200-300 orang yang daftar. Di kelas, ada 12 level pembelajaran bisnis online, mulai cari supplier, jualan di media sosial, bikin website, bikin video di Youtube, sampai titik punya reseller dan karyawan.

Kami punya forum, juga grup di setiap kota, tiap ada materi baru, kita langsung upload ke website Alona. Nah, nanti dibagi ke grup dan forum biar distribusi ilmunya lancar.

Soal casing ponsel?

Di sini gue punya mesin untuk memproduksi casing ponsel dengan desain personal, bisa produksi satuan. Biasanya pakai foto keluarga, sama pasangan, atau momen tertentu.

Gue jualnya enggak ke konsumen langsung, tapi ke reseller yang enggak mau repot punya produk, tapi ingin punya bisnis.

Untuk harga, tiap casing gue kasi harga Rp60 ribu, tapi reseller bisa jual lebih mahal. Tiap bulan gua bisa jual ribuan casing.

Kalau soal Dropshipaja.com?

Ini bisnis yang mempertemukan produsen dengan reseller. Karena banyak produsen yang punya produk bagus tapi enggak tahu cara memasarkannya, di sisi lain banyak orang jago jualan, tapi belum punya produk.

Gue mempertemukan mereka, produsen kasih barang ke gue dan nanti kalau ada order, gue bakal kasih pembayaran barangnya ke produsen.

Reseller daftar ke gue dengan biaya Rp150 ribu, dia dapat akses produk, pembelajaran bisnis online, dan punya komunitas untuk saling bantu.

Produsen titip barang ke gue, nanti kalau laku, gue bayar ke mereka. Biasanya gue dapat 20% sampe 50%, bahkan gue dapet 100%, tapi kalau 100% paling barang yang murah, Rp30 ribuan lah. Nah kalau barang yang mahal gue paling dapet 20% atau 30%.

Sudah punya kantor dan karyawan?

Sekarang total ada 30 karyawan, kantor ada di Jakarta dan Tangerang, sedangkan reseller ada 3.500-an, mayoritas di Indonesia, tapi ada juga dari Prancis, Malaysia, dan Hong Kong. Namun, mereka memasarkan untuk Indonesia juga. Kami rencananya mau mengembangkan pasar Indonesia. Kalau sudah kuat baru kita ekspansi ke luar.

Suka dukanya berbisnis?

Sukanya, punya penghasilan sendiri, ketemu banyak teman yang sukses tapi tetap rendah hati, bisa belajar dari mereka, dan bantu banyak orang.

Kalau dukanya, gue pernah rugi di Instagram sampai Rp100 juta karena mesin produksi casing ponsel rusak. Gue juga pernah ditipu karyawan, pas masih kuliah semester 1, dia ambil barang dan uang.

Dari situ gue sadar harus bikin sistem dan belajar, bisnis ini mendewasakan gue.

Aku juga memutuskan fokus di bisnis agar tak terbagi antara bisnis dan kuliah.

Kamu menulis buku juga, ya?

Ada tiga buku yang terbit, pertama Nomor Galau, diterbitkan sama Gramedia, tapi buku kedua dan ketiga gua cetak sendiri dan terbit sendiri, Jago Jualan di Instagram, dan Dropship Mastery.

Motivasi pertama karena banyak orang mau bikin usaha online tapi enggak tahu caranya. Dari situ, banyak yang minta gue bikin tutorial, nah jadilah gue menulis buku.

Buku ini isinya ringkasan cara jualan di Instagram, dari dapetin follower, dapetin orderan, nah dari situ ternyata banyak yang antusias. Total tiga buku gue kejual sampai 15 ribuan.

Gue berharap anak muda hidupnya makin jelas karena banyak yang hidupnya belum terkonsep, juga banyak orang langsung praktekin. Karena banyak buku bisnis berisi teori, gue bikin yang teknis supaya banyak yang langsung praktik. Alhasil sekarang banyak yang merasakan manfaatnya, bisa dapat penghasilan sendiri.

Ada rencana untuk buku keempat?

Saat ini belum ada sih, tapi nanti kalau banyak yang request, bisalah dikerjain.

Moto kamu dalam bisnis?

Lebih baik kehilangan masa muda daripada kehilangan masa depan, jangan sampai menunda-nunda hal yang bisa membuat kita besar.

Contohnya baru mikirin bagaimana masuk dunia kerja saat semester akhir, bukannya semester awal.

Padahal, kalau mau setting goal, minimal lima tahun kita sudah harus mikirin. Memang kalau di usia muda kita melakukan kerja keras, capeknya berasa, jenuh banget, dan boring-nya super.

Akan tetapi, kalau kita nikmati semua itu, ujung-ujungnya kita bakal terbiasa dan sudah terbiasa, suksesnya itu pasti ngikutin! (M-1)

Gregorius Gelino

Universitas Bina Nusantara

Komentar