MI Anak

Anak Sekolah juga Bisa Berbisnis

Ahad, 23 April 2017 02:15 WIB Penulis: Suryani Wandari

MI/Duta

Pagi itu anak-anak berangkat ke sekolah bersepeda. Namun, ada yang berbeda, di setang sepeda seorang siswa, tergantung tas dipenuhi makanan ringan.

Setelah memasuki lingkungan sekolah, Kamis(20/4), teman-temannya memburu makanan yang ia bawa, lalu membayarnya dengan uang pas Rp2.000. Axzila Indah Nurviani, Kelas 5 SDN Kampung Bambu III, Tangerang, Banten.

Axzila mengaku sangat senang melayani pembeli. "Senang saja gitu, apalagi bisa dapat penghasilan sendiri," katanya sambil tersenyum.

Ya benar, dengan berdagang tentu kita akan mendapatkan keuntungan dan berpenghasilan ya Sobat Medi. Apalagi, jika modal yang digunakan berasal dari uang sakumu.

Rupanya bukan hanya Axzila yang senang berdagang, ada teman lain yang tentunya punya cerita unik menjajakan makanan atau barang lainnya. Yuk cari tahu kisah mereka!

Berbisnis memang bukan hanya milik orang dewasa. Semua orang bisa menggelutinya apa pun latar belakang keluarganya, pendidikan ekonomi, baik dari kalangan mampu maupun tidak mampu, muda atau dewasa, termasuk kalian.

Hal ini disebabkan tingkat perkonomian di Indonesia semakin baik. Jika biasanya orang berdagang karena terimpit persoalan ekonomi, hingga ada yang mencap anak yang berdagang apalagi sambil sekolah dipandang sebagai tidak mampu, ternyata tak semua pebisnis belia melakukannya karena terpaksa.

Berjalan tiga tahun

Axzila yang akrab dipanggil Indah memulai usahanya dengan camilan cokelat yang diberi gagang, seharga Rp2.500-an. "Ibu membeli bahannya dan membuat di rumah. Selain enak karena sesuai selera juga lebih sehat dibanding jajanan lainnya," kata Indah.

Sudah hampir tiga tahun Indah berdagang di sekolah. Ia pun telah mengalami masa yang menyenangkan, ketika jualannya laris, pun sebaliknya.

Selain cokelat, Indah juga pernah berdagang makaroni hingga popcorn. Selama enam bulan belakangan, Indah fokus menjual popcorn buatannya sendiri dengan tiga varian rasa, original, manis, dan pedas, seharga Rp2.000.

Buat beli hewan kurban

Medi juga berbincang dengan Kinar Naila Fauziah, siswa Kelas 6, SDIT Ummul Quro, Bogor, Jawa Barat. Kinar mencoba berbisnis sejak kelas 3 SD dan keterusan hingga sekarang. "Awalnya memang coba-coba, tapi lama- kelamaan senang juga. Apalagi saat itu aku pernah melihat anak-anak berebut beli bola-bola cokelat daganganku," kata Kinar yang menjual camilan buatan ibunya seperti martabak mini dan bola-bola cokelat serta mainan dan barang-barang yang sedang tren di kalangan anak seusianya.

"Aku biasanya jualan barang ngikutin tren, seperti gelang, anting buat anak perempuan, gantungan kunci, hingga stiker dengan harga yang beragam," kata Kinar yang menabung untung yang diperolehnya dan menggunakan sebagian untuk membeli buku dan berpatungan membeli hewan kurban.

Jualan online

Lain lagi ceritanya dengan Nazeeya Safa Melindra, Kelas 7 SMP Madania, Bogor, Jawa Barat, yang memproduksi sendiri Zamilk, hasil olahan susu UHT yang diberi rasa teh hijau, tiramisu, hingga stroberi.

"Bahan bakunya aku cari sendiri di supermarket, ditambahkan berbagai perasa dan diproduksi sendiri di rumah. Aku memang mencari bahan yang sering dikonsumsi orang dan sehat, jadinya aku pilih susu," kata Zeey yang mengemas Zamilk dalam kemasan botol plastik.

Zeey kini mengembangkan usahanya dengan bisnis online dan mulai keteteran karena orderan yang membeludak. Bermodal Rp500 ribu yang diperoleh dari urunan tabungan serta bantuan orangtuanya, Zeey bisa meraih omzet atau jumlah penjualan Rp2 juta setiap bulan. (Suryani Wandari/M-1)

Komentar