Hiburan

Utamakan Kualitas Suara

Ahad, 23 April 2017 01:30 WIB Penulis: Thalatie K Yani

MI/Atet Dwi Pramadia

Tayangan pencarian bakat musik dangdut tidak hanya berhasil menunjukkan kualitas suara sang penyanyi, tetapi juga mengubah karakter penyanyi itu.

'DANGDUT Suara Gendang, Rasa Ingin Berdendang'. POTONGAN lagu Terajana karya Rhoma Irama itu menjadi alasan munculnya istilah dangdut di Indonesia. Musik yang mulanya bergenre melayu itu perlahan memiliki identitas sendiri dengan instrumen khas yang terdiri atas gendang, suling, dan gitar.

Dangdut bisa dibilang merupakan musik orang Indonesia. Bukan hanya eksis di negeri sendiri, beberapa penyanyi dangdut, seperti Ayu Ting- Ting, Cita Citata, apalagi 'Raja Dangdut' Rhoma Irama, sudah melalang buana di jagat musik dunia. Mereka tidak semata ada di berbagai acara syukuran masyarakat Indonesia, tapi juga berbagai media massa, baik dari radio, internet, maupun televisi. Hiburan musik dangdut di televisi memang bukan hal yang baru di Indonesia. Orang-orang yang tumbuh di era 1980-an pasti ingat dengan salah satu program TVRI, yaitu Musik Minggu Ini.

Bukan hanya televisi pemerintah, televisi swasta juga kerap menayangkan program-program dangdut. Sebut saja acara Kuis Dankdut, Digoda, Kondang In, hingga KDI yang sudah melejitkan beberapa nama, seperti Nassar dan Siti KDI. Sempat surut beberapa tahun terakhir, kini acara dangdut mulai digemari lagi di Indonesia, apalagi sejak melejitnya salah satu ajang pencarian bakat, seperti D'Academy yang ditayangkan di Indosiar. Tak main-main, acara yang ditayangkan saat prime time selama lebih dari 5 jam setiap hari itu sudah melahirkan berbagai bakat baru, mulai dalam negeri hingga tingkat Asia. Tidak mengherankan jika pada musim pertama dan kedua, acara ini menempati peringkat pertama rating televisi. Beberapa penghargaan juga mereka raih. Sebut saja nominasi Pencarian Bakat dan Reality Show dari Panasonic Gobel Award 2015 dan nominasi Program Prime Time Nondrama Terpopuler dari Indonesia Television Award 2016. Acara yang tayang sejak Februari 2014 ini memang banyak menuai pro dan kontra, mulai jam tayangnya yang dinilai kelewat panjang hingga banyaknya konten-konten yang dianggap di luar konteks, bahkan menyimpang. Menurut pengamat dangdut, Andre Yahya, acara ini memiliki nilai negatif dan nilai positif.

"Mereka itu sudah sangat berpartisipasi untuk mengembalikan semangat dangdut dengan kualitas suara, penjiwaan, dan juga makna dari sebuah lagu menjadi penilaian utama," ujar Andre. Andre yang saat itu ditemui di Radio Muara, Jakarta, Kamis (20/4), memaparkan semangat perubahan dan perbaikan stigma dangdut melalui ajang pencarian bakat itu harus sudah naik level.

"Sudah perbaikan karakternya, sekarang saatnya mengeluarkan karya-karya baru pengganti Bang Oma supaya dangdut tetap bersinar dikemudian hari."

Standar baru

Anggapan dangdut sebagai musik menengah ke bawah tampaknya tidak benar. Ivan Gunawan yang sudah menduduki kursi panas sebagai juri di D'Academy selama 4 musim berturut-turut menyatakan dangdut itu sudah mampu masuk ke acara-acara di hotel bintang lima. Artinya, penikmat dangdut kini juga terdiri atas masyarakat menengah ke atas. Peningkatan standar bagi dunia dangdut pun terasa dari segi tata panggung dan komposisi lagu. Untuk band pengiring saja, D'Academy memanggil D'Band untuk bisa meracik komposisi lagu yang megah meski sering kali lagu-lagu yang dibawakan ialah lagu lawas. Ika, gadis yang berhasil masuk 5 besar di ajang pencarian bakat itu, mengaku, meski dirinya sudah sering mondar-mandir di panggung hiburan, saat berada di sana, ia merasa mendapatkan tantangan baru.

"Semenjak berada di kompetisi itu aku jadi terbiasa untuk bekerja dengan tim mulai dari make-up dan dress-up, latihan vokal secara serius, hingga menentukan aksi panggung. Pokoknya harus perfect dari atas sampai bawah supaya bisa menghibur penonton." Andre menambahkan standarstandar profesional itu akan menjadi sangat baik untuk perkembangan dangdut Indonesia jika berhasil melahirkan karya-karya baru dengan sentuhan modern, tetapi tetap memiliki unsur khas dangdut, yaitu gendang, suling, dan gitar.

"Akan lebih mantap lagi kalau bisa melahirkan grup-grup dangdut. Sudah terlalu banyak penyanyi solo yang muncul. Kalau Soneta sudah tidak ada, siapa penerusnya?" ujar Andre sembari menyuruput kopinya.

Karakter

Ivan Gunawan lebih memfokuskan segi penampilan. Menurut Igun, begitu ia sering disapa, "Dangdut itu penikmatnya berasal dari berbagai kalangan. Makanya penyanyi nya harus memantaskan diri untuk dinikmati berbagai kalangan.

" Sejak musim pertama, d'Academy, lanjut Igun, mampu mengubah pola pikir para pegiat dangdut, yaitu dangdut itu tidak harus tidak senonoh atau terbuka. Sejalan dengan peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) penampilan di atas panggung apalagi ditayangkan di media massa, dangdut harus sesuai dengan adat ketimuran. Artinya, pakaian yang terlalu terbuka, gerak an yang terlalu eksotis, ataupun perkataan yang tidak baik sebaiknya ditinggalkan.

"Untungnya, karena mereka baru akan menetas mereka bisa dibentuk sedemikian rupa, toh yang penting itu kan suaranya, pakaian dan aksesori itu cuma unsur tambahan," tutup Ivan Gunawan saat ditemui seusai peragaan busana sekaligus peluncuran merek hijabnya di Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (21/4). (*/M-1)

Komentar