BIDASAN BAHASA

Memandang Sebelah Mata

Ahad, 23 April 2017 00:30 WIB Penulis: Riko alfonso/Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia

Ilustrasi/Wordpress.com

Ketika saya sedang berkumpul dengan kawan-kawan beberapa waktu yang lalu, salah seorang kawan saya melontarkan wacana yang cukup menarik. Dia mempersoalkan mengenai istilah ‘memandang sebelah mata’. Menurut dia, istilah yang sering kita anggap memiliki arti ‘meremehkan’ itu tidak tepat diwujudkan dengan aktivitas memandang sebelah mata.

Menurutnya, orang yang menggunakan sebelah mata itu biasanya sedang melakukan sebuah aktivitas yang serius, penuh konsentrasi, dan fokus terhadap suatu objek.

Misalnya, kegiatan memanah, berburu, atau saat membetul­kan jam tangan. Jadi, menurutnya, istilah ‘memandang sebelah mata’ itu bukan berarti meremehkan, melainkan serius memperhatikan sesuatu.

Reaksi kawan-kawan yang lain berbeda, ada yang setuju ada pula yang tidak. Saya sendiri pada saat itu hanya melontarkan gurauan, jika saat bertemu dengan perempuan cantik nan menggoda, penyanyi A Rafiq malah memandang dengan sebelah mata, tentu tak akan pernah tercipta lagu Pandangan Pertama yang masyhur itu.

Akan tetapi, saat ditanya serius oleh kawan saya, saya pun berpendapat bahwa sebenarnya istilah tersebut tidaklah keliru. Istilah yang diciptakan sejak turun-temurun oleh nenek moyang kita ini tentulah memiliki makna yang sangat dalam dan merupakan hasil pengalaman bertahun-tahun.

Masalah aktivitas yang menggunakan mata sebelah, tidak selamanya pula dilakukan dengan penuh konsentrasi. Ada juga yang dilakukan dengan santai atau selintas saja. Ya, misalnya saat sedang mengintip.

Berlepas sejenak dari wacana yang dibicarakan tadi, menurut saya yang menarik untuk diperhatikan ialah ternyata banyak juga kata yang diciptakan orangtua kita dulu hanya dari aktivitas yang dilakukan sepasang mata. Mulai berdasarkan arah, jarak, waktu, hingga alat bantu yang dipakai, muncullah kata-kata yang spesifik tentang mata, misalnya melirik, memandang, menatap, memperhatikan, membidik, dan memantau.

Almarhum Profesor Liberty Sihombing, dosen mata pelajaran semantik saat saya kuliah dulu, pernah mengatakan tidak mungkin nenek moyang kita menciptakan dua kata berbeda yang memiliki arti yang sama. Pasti di antara keduanya memiliki perbedaan yang spesifik meski hanya sedikit. Kata melirik terkait dengan arah pandangan mata ke kiri atau ke kanan. Memandang biasanya menggunakan jarak yang tetap. Menatap membutuhkan waktu lama untuk melihat secara saksama. Memperhatikan itu melihat lebih lama lagi dan lebih teliti. Membidik itu melihat dengan konsentrasi penuh terhadap suatu target, bahkan memerlukan alat bantu untuk lebih fokus dalam melihat.

Kembali kepada wacana ‘memandang dengan sebelah mata’ yang dibicarakan kawan saya tadi. Sebenarnya yang dianggap kawan saya menggunakan sebelah mata dan memerlukan konsentrasi serta fokus yang penuh itu, kata yang tepat dipakai ialah membidik, bukan melihat. Jadi, dari sini sudah terlihat ada sebuah kesalahpahaman dalam memaknai sebuah istilah.

Istilah ‘jangan memandang dengan sebelah mata’ itu memang sudah tepat. Memandang segala sesuatu dengan sebelah mata tentu tidak sempurna. Diperlukan satu mata lagi untuk menjadikan pandangan kita menjadi lebih jelas dan jernih agar langkah yang kita ambil menjadi tepat dan jauh dari kesan meremehkan dan sombong.

Komentar