Features

Lahan Reklamasi Semen Tuban, Tanam Jadi Tiga Kali Setahun

Sabtu, 22 April 2017 19:15 WIB Penulis: Abdus Syukur

Taselan tengah memasang pipa-pipa untuk mengalirkan air dari embung hasil reklamasi tambang PT Semen Gresik Pabrik Tuban, ke sawah miliknya, di Jawa Timur---MI/Abdus Syukur

BEBERAPA lonjoran pipa diusung oleh Taselan, 64, untuk dipindahkan ke bagian petak sawah miliknya yang terletak di Dusun Pompongan, Desa Semampir, Kecamatan Merak Urak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis (20/4). Selanjutnya, lonjoran pipa disambung kembali, untuk mengalirkan air ke petak lainnya.

Sementara, istrinya bersama sejumlah perempuan yang lain, tengah menanam benih di petak-petak yang sudah tergenang.

Dengan bibirnya yang selalu tersenyum menunjukkan kebahagian, Taselan mendatangi Media Indonesia yang mengambil gambarnya tengah beraktivitas. Seusai bersalaman dan berkenalan, Taselan dengan ramah menyampaikan kegembiraannya, karena sawahnya makin produktif.

“Dulu 1 tahun hanya bisa tanam padi satu kali. Sekarang dalam setahun bisa tanam tiga kali. Karena air melimpah dari embung lahan reklamasi bekas tambang pabrik semen itu (Semen Gresik Pabrik Tuban),” kata Taselan.

Dituturkan, dahulu lahan miliknya merupakan sawah tadah hujan dan hanya bisa ditanami padi, saat musim penghujan saja. Dengan masa tanam sekitar 110 hari, selanjutnya hanya tersisa sekali untuk ditanami dengan palawija berupa jagung.

Tapi untuk menanam jagung itupun, Taselan harus bekerja keras mengangkut air dari waduk yang masih terdapat sisa sedikit air ke lahannya. Jarak yang harus ditempuh dengan memikul air juga cukup lumayan, sekitar 1,5 kilometer (km).

“Itu cerita 15 tahun lalu, karena air dari musim hujan yang tersisa hanya cukup untuk tanam dan pemeliharaan, terpaksa harus mengangkutnya dari waduk kecil yang jauh. Tapi sekarang sudah tidak lagi, tinggal menyambung pipa-pipa saja, air ditarik dari embung langsung mengalir,” tutur Taselan.

Bukan hanya bisa menanam padi sebanyak tiga kali saja dalam setahun. Hasil panenan padi yang didapat Taselan, produktivitasnya juga sangat tinggi. Bahkan di atas rata-rata produktivitas padi nasional yang 6 ton/hektare (ha), yakni antara 10 ton hingga 11 ton/ha.

“Sawah saya, ukuran patoknya tergolong besar, seluas 400 are (4.000 meter2). Panenan yang terakhir kemarin dapat 4,5 ton lebih, hampir 5 ton. Karena airnya cukup dan kebutuhannya bisa saya sesuaikan sendiri," imbuh Taselan.

Saat asyik ngobrol itu, M Sholeh, 62, petani lainnya muncul dengan mengendarai motornya dan langsung ikut nimbrung. Dia menyampaikan hasil panen di dua petak lahan miliknya, berukuran 300 are dan 250 are.

“Total hasil panen untuk dua lahan saya itu, dapat sekitar 6 ton. Pokoknya saya dapat uang hasil penjualan panen itu Rp18 juta lebih. Sedangkan modal yang saya keluarkan Rp7 juta lebih sedikit, kurang dari Rp8 juta,” ucap Sholeh.

Gambaran kebahagian petani itu didapat sejak embung di lokasi reklamasi bekas tambang Semen Gresik (SG) Pabrik Tuban, airnya bisa disalurkan ke lahan pertanian di sekitarnya. Petani cukup menambah modal membeli pipa-pipa air yang bisa di bongkar pasang dan dipasang berpindah-pindah di lahannya.

Produktivitas padi di lahan pertanian sekitar embung cukup tinggi sekitar 10 ton hingga 11 ton per ha.

Luasan embung dari reklamasi lahan bekas tambang PT SG Pabrik Tuban itu totalnya sekitar 72 hektar, namun terbagi dalam beberapa embung. Selain membuat lahan pertanian irigasinya tercukupi, pepohonan juga nampak sangat rimbun. (OL-4)

Komentar