Surat Pembaca

Kandidat Menang tidak Jemawa

Sabtu, 22 April 2017 11:00 WIB Penulis: Robby Adhitya robbyhumas@gmail.com

MI/ROMMY PUJIANTO

PEMILIHAN kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta putaran kedua baru saja usai.

Namun, euforianya sampai saat ini masih kita rasakan. Utamanya di media sosial.

Yah, inilah kata sebagian orang pilkada rasa pilpres.

Seluruh mata dan telinga dari Sabang hingga Merauke tertuju pada kontestasi pesta demokrasi Ibu Kota negara ini.

Hasilnya, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno berhasil mengungguli pasangan petahana Basuki-Djarot dalam hitung cepat sejumlah lembaga survei.

Reaksi setiap kandidat menarik untuk dilihat.

Keduanya menunjukkan sikap budaya Timur yang berkaitan erat dengan Indonesia, santun, toleransi, dan saling menghargai.

Menang tak jemawa, kalah pun tak mencela.

Anies Baswedan dalam unggahan di akun Instagram-nya mengatakan, "Pagi ini menemui Pak @basukibtp di Balai Kota. Dengan pertemuan ini, kami mengirimkan pesan kepada semua, khususnya kepada pendukung untuk menjaga persatuan. Kami tidak ingin menengok ke belakang terlalu lama. Mari kita #MajuBersama!."

Sosok kesatria sejati ditunjukkan mantan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia periode 2014-2016 ini.

Melalui kicauan singkat itu, Anies mengisyaratkan tidak ada pertikaian hingga perang isu SARA di antara keduanya yang selama ini banyak beredar menjadi konsumsi publik.

Ia juga tak ingin masyarakat Indonesia terlalu lama menjadi manusia baper dengan menengok yang sudah berlalu. Ia pun mengajak untuk menjaga persatuan dengan melangkah melaju bersama.

Basuki pun mengucapkan terima kasih atas kesempatan dirinya memimpin warga Jakarta.

Tidak ada sindiran atau kalimat benci yang diutarakan. Sikap ini menunjukkan keberlapangan dada dengan kondisi yang ada.

"Terima kasih kepada seluruh warga Jakarta. Pengalaman saya dan Pak @djarotsaifulhidayat melayani warga Jakarta adalah pengalaman yang sangat berharga. Izinkan kami untuk melanjutkan pekerjaan di sisa waktu yang ada. Doakan kami agar tidak pernah lelah mengabdi dan melayani Indonesia."

Well, begitulah sepenggal cerita pesta lima tahunan dari kota yang dulunya dijuluki Batavia ini.

Terima kasih kepada kedua kandidat yang telah mengajari kami semua proses demokrasi yang damai dan sejuk.

Demokrasi yang aman dan sejahtera, demokrasi yang dewasa.

Demokrasi yang bisa menjadi percontohan provinsi lain bahkan belahan negara lainnya.

Jayalah negeriku, Indonesia!

Komentar