KICK ANDY

Suarakan Kesetaraan dan Persatuan

Sabtu, 22 April 2017 02:30 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Sumaryanto

SADAR hidup dalam kemajemukan membuat Shinta Nuriyah tak lelah menyuarakan pentingnya cinta kasih dan saling menolong antarsesama.

Salah satu pegangannya untuk tetap mengasihi tanpa peduli suku, agama, maupun ras ialah penjelasan dalam kitab suci.

Manusia memang diciptakan berbeda-beda agar bisa saling menghargai.

Hiruk pikuk perihal keragaman dan persatuan mengembalikan banyak ingatan kepada Presiden Keempat Indonesia, (Alm) Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Meskipun ia telah wafat, nilai-nilai warisan Gus Dur akan pentingnya menghargai perbedaan rupanya tak ikut terkubur.

Shinta Nuriyah bersama dengan anak-anak perempuannya kini terus melanjutkan nilai-nilai keberagaman yang diwariskan Gus Dur.

Bahkan, Shinta menjadi salah satu pejuang kesetaraan perempuan.

Tidak sepatutnya perempuan diperlakukan semena-mena, salah satunya perihal poligami.

Shinta berkisah ketika Gus Dur disarankan untuk menikah lagi, dengan calon dan segala perlengkapan yang sudah disiapkan.

Namun, justru Gus Dur menolak dengan meminta izin pergi ke kamar mandi dan langsung menuju mobil untuk bergegas pergi.

Shinta dan Gus Dur sepakat poligami tidak boleh dilakukan, tetapi karena dibaca secara tekstual, kondisi tersebut justru diperbolehkan.

Padahal, kata Shinta, ada banyak persyaratan yang berat dan tidak dilihat.

Harus hidup rukun

Yuni Shara yang sempat hadir di haul Gus Dur datang menghibur Shinta Nuriyah. Ia menyanyikan lagu kesukaan Shinta Fatwa Pujangga.

Lagu itu memberikan kenangan bagi Shinta tentang proses pertemuannya dengan Gus Dur hingga pernikahan.

"Kita harus belajar memahami banyak watak supaya bisa berdamai dengan banyak hal," ujar Yuni mengutip pernyataan Shinta.

Pernyataan itu singkat tapi relevan.

Kondisi bangsa yang kini semangat menghargai perbedaannya semakin mengendur.

Shinta tak takut dikatakan kontroversial dengan berbuka puasa di kediaman umat lain.

Ia ingin menunjukkan manusia harus hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk.

"Kalau enggak mau rukun, mau hidup di mana?" ucapnya.

Ucapannya tegas dan tidak menggebu-gebu dalam menanggapi sikap pro kontra yang sudah dialaminya sejak masih bersama Gus Dur.

Namun, rupanya sempat tebesit kekhawatiran dan kesedihan akan tanggapan-tanggapan negatif tersebut, apalagi ketika mendapati suaminya dilengserkan dari jabatan presiden.

Sakit hati dan kesal, begitu gambaran perasaan Shinta.

Namun, ia dan Gus Dur kembali pada keyakinannya dan keikhlasan menerima apa yang telah digariskan Sang Pencipta.

"Jabatan itu amanah, kita tidak pernah meminta, tetapi diberi. Jadi, kalau Allah mau ambil lagi, harus kita berikan dengan ikhlas."

Ketegasan dan keikhlasan Shinta dalam menerima apa yang terjadi pada hidupnya rupanya sudah dibangun sejak kecil.

Perempuan yang kini duduk di kursi roda lantaran kecelakaan di Tol Cikampek ini tak pernah merasa menyesal atas apa yang menimpanya.

Salah satu budayawan, Mohamad Sobary, mengatakan Shinta menjadi benteng yang kukuh bagi Gus Dur.

Hal tersebut tidak dibangun Shinta sejak menyandang gelar istri presiden, justru sudah sejak kecil.

Salah satunya penerapan berpuasa yang masih dilakukan hingga saat ini.

Jika dahulu Shinta menerapkan puasa Daud, kini ia menerapkan puasa Idris.

Karena itu, kata Sobary, banyak hal-hal tidak baik yang diarahkan kepada Gus Dur menjadi salah alamat.

Saat ini banyak yang merindukan keberanian Gus Dur menyelamatkan orang-orang dari kehancuran, termasuk juga yang diperjuangkan Shinta akan hak-hak kaum minoritas.

Sebelum wafat, Gus Dur sempat berucap prihatin dan takut rakyat bercerai berai.

Pejuang masa depan keluarga

Shinta tak hanya dikenal sebagai aktivis baru-baru ini.

Sejak dulu perempuan yang selalu memotong rambut anak-anaknya dan Gus Dur ini pernah menjadi wartawan, penulis, dan ibu rumah tangga.

Jika kegigihan dan keikhlasan dalam memperjuangkan pendidikan dan perempuan sudah banyak diketahui khalayak,

Anita Wahid memaparkan kegigihan Shinta dalam memperjuangkan masa depan keluarga.

Jika banyak orang mengatakan enaknya menikah dengan cucu kiai besar, Anita tidak merasa demikian.

Sang ayah, kata Anita, menganggap uang yang didapat ialah uang mat, sehingga harus kembali lagi kepada umat.

Karena itu, sangat sedikit uang yang masuk ke kantong istri.

Untuk tetap bisa membantu perekonomian keluarga, saat tinggal di Jombang, Shinta membuat kacang goreng, mengemasnya ke dalam plastik, dan menitipkannya di warung-warung.

Membantu atau bahkan disebut sebagai tulang punggung keluarga juga dibenarkan Gus Dur melalui pesannya kepada Alissa Wahid. Ketika itu Alissa baru saja bertengkar dengan Shinta.

Gus Dur yang peka mengenali suara anaknya menanyakan sebab Alissa menangis.

Seusai diceritai, Gus Dur berpesan anak-anak bisa bersekolah karena Shinta yang menyekolahkan.

Shinta pun tak pernah menuntut apa-apa dari Gus Dur.

Ada satu pengalaman lucu. Karena tidak memiliki uang, Shinta mengajak anak-anaknya pergi ke toko baju dan disuruh memilih.

Akan tetapi, baju tersebut tidak dibelinya, tetapi Shinta yang menjahit sesuai dengan model pilihan putri-putrinya.

Pesan Shinta saat Alissa kuliah di Yogyakarta, belajarlah menjahit dan memotong rambut.

Kalau suamimu tidak punya uang, anak-anakmu tetap bisa menggunakan baju baru atau bisa membuka usaha potong rambut.

Sementara itu, Yenny Wahid merasakan dampak pembelaan yang dilakukan sang ibu terhadap hak-hak perempuan.

Jika tidak memiliki ibu yang kuat, mungkin ia dan saudara-saudaranya tidak akan semaju sekarang.

Terakhir, kesan disampaikan laki-laki yang kerap disebut pengawal Gus Dur, hingga anak angkat Gus Dur, Zastrow Al Ngatawi.

Ketika Shinta sakit karena kecelakaan yang membuatnya harus duduk di kursi roda, Gus Dur justru yang terlihat sangat risau.

Ia memikirkan istrinya yang selama ini aktif jalan ke mana-mana kini sakit dan menggunakan kursi roda.

Dari pengamatan Zastrow yang sudah mengenal Gus Dur sejak 1989, ujian suami itu ketika istri sakit dan ujian istri itu ketika suami tidak memiliki apa-apa.

Pembacaan puisi karya Inayah Wulandari, salah satu anak dari Gus Dur dan Shinta, menjadi penutup cerita perjuangan Shinta.

Lantunan doa untuk sang ibu dan ayah dibacakan dengan nada suara yang bergetar dari ketiga putri yang hadir.

(M-4)

Komentar