Jendela Buku

Kisah Cinta Segitiga Dua Budaya

Sabtu, 22 April 2017 02:15 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Seno

SALING kasih yang tercipta antardua insan manusia dengan perbedaan latar belakang menjadi awal mula kisah Pingkan dan Sarwono.

Harapan dan kepastian menjadi bumbu dari cerita yang dituangkan Sapardi Djoko Damono (SDD) pada novel pertamanya, Hujan Bulan Juni.

Keduanya dipertemukan dalam lingkungan Kampus UI. Sarwono merupakan dosen di prodi antropologi, sedangkan Pingkan merupakan asisten dosen di prodi sastra Jepang yang juga merupakan adik dari teman Sarwono, Toar.

Kisah cinta mereka tak biasa. Tak ada yang terlihat lebih mencintai.

Mereka memiliki gaya masing-masing yang lucu dan terkadang melankolis dengan celotehan sontoloyo Sarwono.

Harapan dan kasih kedua sejoli yang berbeda latar belakang etnik juga agama ini harus diakhiri dengan kesedihan Pingkan saat kembali ke Surakarta karena mendapati kabar laki-laki yang dikasihi terbaring di rumah sakit.

Seusai membaca novel Hujan Bulan Juni, ada sedikit ketidaksabaran dan menunggu kisah cinta Pingkan dan Sarwono berikutnya, tetapi ternyata SDD kembali menawarkan cerita romantis, tetapi tidak dramatis layaknya cinta pasangan masa kini.

Pingkan Melipat Jarak, novel kedua dari trilogi Hujan Bulan Juni, menampilkan kesedihan dan kondisi cinta segitiga yang ternyata menjadi salah satu penyebab jatuh sakitnya Sarwono akibat kepikiran perempuan keturunan Manado, Pingkan.

Pingkan sempat menyangkal, ketika Bu Hadi, ibu dari Sarwono, memanggilnya sebagai Galuh dan dipersilakan untuk masuk dan menginap di kamar Sarwono.

Namun, ia tak banyak berdebat, segara masuk ke kamar pria yang dikasihinya dan mendapati kertas berserakan berisikan tulisan tangan Sarwono.

Suara dua ekor cicak yang berkejaran dan menyatu dengan tik tok jam dinding membuat dirinya lamat-lamat seperti mendengar suara perempuan menyanyikan lagu September in the Rain.

Lagu yang biasa dinyanyikan Sarwono dengan nada jazz.

Pingkan kini paham alasan Bu Hadi memanggilnya Galuh karena dalam tulisan tangan Sarwono ia disebut sebagai Galuh yang kerap menyamar.

Sarwono mempertanyakan ke mana perginya Galuh selama ini, sedangkan Pingkan tetap berkukuh bahwa dirinya pergi untuk mencari Sarwono.

Percakapan itu tak terjadi di dunia nyata, itu terjadi dalam imajinasinya yang teramat kuat sehingga membuat pembaca seperti benar-benar merasakan adanya percakapan tersebut.

Di sisi lain, ada pria Jepang bernama Katsuo yang juga sama mencintai Pingkan, tapi ia tahu ia tak bisa membatalkan permintaan ibunya untuk menikahi perempuan Jepang.

Katsuo pun sempat meminta ibunya untuk membantu mengembalikan mabui Sarwono dan Pingkan, tapi sang ibu mengetahui maksud sejati anaknya agar tetap bisa bersama perempuan Indonesia yang dicintai Pingkan.

Hingga ketika sang ibu sedang melakukan ritual untuk membantu kedua teman anaknya tersebut, tetiba Katsuo teringat pada Noriko, perempuan Jepang yang dijodohkan ibunya.

Pingkan menyadarkan Katsuo, tapi pemuda Jepang itu tetap saja memanggil nama Noriko hingga mereka saling berpeluk erat seakan tak mau lagi terlepas.

Di bagian akhir, Pingkan pun menyetujui kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan mahasiswa Jepang yang menjadi tanggung jawabnya.

Ia mengatakan hal itu kepada kakaknya, Toar, dan tidak ada pembicaraan tentang Sarwono sedikit pun.

Saling mencari

Pingkan pun tidak menemui Sarwono untuk berpamitan.

Cukup Katsuo yang bertemu Ibu dan Bapak Hadi untuk mengatakan Pingkan akan melanjutkan studi ke Kyoto, Jepang.

Pada perjalanan menggunakan pesawat ke Kyoto, Pingkan melipat kertas-kertas kecil dan membuatnya menjadi origami.

Ada rasa iba saat membaca novel yang penuh dengan pilihan diksi menarik ini.

Sebegitu kuatnya kisah cinta mereka hingga keduanya terus saling mencari.

Pingkan kerap kali menyelami ingatannya bersama dengan Sarwono, pun dengan cerita ketika Sarwono bangun dari sakitnya dan bergegas keluar untuk mencari Pingkan sebagai bagian dari janji yang harus ditepati.

Sarwono pun ingat ucapan Pingkan ketika mereka berdua berada di taksi dalam perjalanan ke bandara.

Tanpa rasa sakit, jiwa kita kosong belaka. Larik tersebut diketahui milik Harvey Schimdt & Tom Jones.

Kentalnya dua budaya, Jawa dan Jepang, hadir sebagai dalam bagian kisah cinta segitiga membuat pembaca mengetahui sedikit banyak adanya persamaan budaya dari keduanya.

Baik Bu Hadi maupun Ibu Katsuo sama-sama memiliki usaha untuk mempertahankan kepercayaan terhadap leluhurnya, dan ada keyakinan akan dunia ruh.

Sesaji dan mantra, dua hal sarat budaya yang banyak tergambar dalam kisah tentang hilangnya mabui dua sejoli, Pingkan dan Sarwono.

Membaca buku ini memang tak semudah memahami novel pertama SDD, Hujan Bulan Juni, tetapi ketika sudah bisa menyelami, hasrat berhenti sebentar dari membaca sirna.

(M-2)

___________________________________

Judul: Pingkan Melipat Jarak

Penulis: Sapardi Djoko Damono

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 121 halaman

Terbit: Maret 2017

Komentar