Ekonomi

Ada 91 Laporan Investasi Bodong Masuk ke OJK

Jum'at, 21 April 2017 17:19 WIB Penulis: Fathia Nurul Haq

Ilustrasi

SEJAK diluncurkan pertengahan tahun lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerima 91 laporan diduga investasi bodong memalui portal daringnya Investor Alert Portal. Namun baru 19 laporan yang sudah ditindaklanjuti hingga penghentian kegiatan.

"Jadi saat Agustus kita launching baru 40 jumlahnya, sekarang per akhir Maret sudah 91 laporan, dan kemarin yang sudah dihentikan satgas sudah 19 kegiatan," ucap Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Kusumaningtuti S Soetiono di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (21/4).

Titu menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dihentikan oleh OJK memiliki skema yang beragam, umunya serupa multilevel marjeting dengan skema piramida. Adapun para pihak yang turut bekerja sama dalam menghentikan operasi oknum penyedia investasi bodong antara Kemenkominfo serta Kementerian Koperasi dan UKM).

Meski sudah dihentikan kegiatannya, menurut Titu belum semua lembaga investasi bodong sudah resmi ditutup. "Tapi saya berharap masyarakat sebisa mungkin tidak bertransaksi dengan mereka, ada Pandawa (Koperasi penyelenggara investasi bodong) juga di list itu," sambung Titu.

Titu menegaskan 91 laporan yang masuk bukan berarti ada 91 lembaga pula yang harus ditindak. Laporan mengenai lembaga yang sama kerap diterima OJK. Namun, tidak menutup kemungkinan jumlah lembaga yang terpaksa harus dihentikan kegiatannya oleh OJK akan bertambah.

Selain mengandalkan OJK dengan Satgas Waspada Investasi yang dibentuknya, Titu juga berharal masyarakat bisa memiliki kesadaran pribadi untuk tidak terjebak investasi bodong.

"Satu aja yang paling mudah di ingat adalah begitu imbal hasilnya di atas rata-rata pasar yang ditawarkan, yang normal, itu harus hati-hati. Rata-rata misalnya berpedoman pada yield saham yg selama berapa tahun terkahir enggak ada yang di atas 25% selama setahun," tekan Titu.

Masyarakat, lanjutnya, juga harus menyadari pelaku investasi bodong bukan hanya berada di kota besar dam menyasar kelompok yang kurang terliterasi. "Penyebarannya merata kok," pungkasnya. (X-12)

Komentar