Ekonomi

Posisi Saham yang Terkait Pilkada Hanya Sentimen Sesaat

Jum'at, 21 April 2017 13:45 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

ANTARA

TERPILIHNYA pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di Pilkada DKI Jakarta diduga ikut mendongkrak popularitas saham yang terafiliasi dengan mereka, seperti Saratoga Investama (SRTG), dan Adaro Energy (ADRO). Terpantau sejak menjelang pemilihan putaran kedua, saham di dua perusahaan yang kepemilikannya itu masih ada kaitannya dengan Sandiaga Uno tersebut merangkak naik.

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk per Jumat (21/4) sempat tergelincir pada level 3.600 saat istirahat siang. Sebelumnya saham dibuka pada level 3.650 dan kemungkinan akan tersupport pada sampai level 3.720. Dibanding bulan lalu, indeks saham mereka memang meningkat cukup signifikan dari level 3.290.

Kenaikan yang bertahap mulai terlihat sejak April dengan puncak tertinggi di awal pekan yang mencapai 3.650 pada Rabu (5/4) silam. Aksi jual terlihat pada sepekan sebelum masa pemilihan dimana indeks SRTG sempat turun hingga level 3.500 sebelum akhirnya naik kembali.

Sedangkan pada saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dibuka melemah 20 poin pada level 1.820 setelah pada Kamis sore (20/4) ditutup di level 1.840. Meski tidak tenggelam, indeks saham mereka kini terlihat kembali melandai setelah sempat melejit di awal April yang menyentuh level 1.930 pada Selasa (4/4) silam. Puncak ini berasal dari kenaikan sebesar 180 poin dari ketenggelaman indeks pada akhir Maret di level 1.750 pada Jumat (31/3).

Hal sebaliknya terjadi pada saham PT Agung Pondomoro Land Tbk (APLN), yang pada periode sama yaitu awal April, justru turun pada level 212, dari akhir Maret di level 222. Saham mereka kembali memuncak satu hari sebelum Pilkada DKI Jakarta, menyentuh level 226 pada Selasa (18/4), dari level 218 pada Senin (17/4). Namun sayangnya kemudian terjun bebas pasca pemilihan Pilkada dengan level 210 pada Kamis (20/4).

Binaartha Sekuritas menyampaikan kondisi yang tampak jelas ini hanyalah bagian dari sentimen sesaat terkait pemenangan dan kekalahan calon Gubernur DKI Jakarta. Mayoritas sektor sebenarnya mengalami pelemahan.

“Adanya penguatan saham-saham yang terkait dengan kemenangan salah satu calon dan pelemahan pada saham-saham yang terkait dengan calon yang kalah, kami menekankan kondisi tersebut hanya sentimen sesaat karena persepsi sesaat pelaku pasar yang mencoba menghubung-hubungkan kondisi politik dengan pasar modal. Hampir mayoritas sektor mengalami pelemahan kecuali sektor aneka industri dan infrastruktur,” ujar analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada, Jumat (21/4).

Sementara untuk pergerakan IHSG yang terpantau yang dalam sebulan terakhir masih berpotensi melemah, dalam risetnya , Binaartha Sekuritas mengimbau untuk waspada pada kondisi dari sejumlah bursa saham global yang masih dalam teritori negatif dan dapat berimbas pada pergerakan IHSG nantinya.

Pada akhir minggu ketiga April IHSG berada pada level 5.630, 85 pada jeda pertama siang, dari saat pembukaan yang berada positif di 5.600,420 bila dibanding penutupan yaitu 5.595, 31. Namun bila dibandingkan awal minggu, yang sempat menyentuh level 5.680 pada Kamis (6/4), IHSG masih perlu diwaspadai.

“Kondisi tersebut telah terbukti pada perdagangan Kamis (20/4) pasca libur Pilkada DKI dimana laju IHSG cenderung melemah seiring dengan kondisi bursa saham global yang masih dalam teritori negatif. Jadi, sentimen dari hasil Pilkada DKI bukanlah satu-satunya sentimen yang membuat IHSG melemah karena kemenangan salah satu pasangan calon,” tekannya.

Belum meredanya kekhawatiran global terhadap potensi peningkatan tensi geopolitik membuat IHSG harus menerima kenyataan pahit dimana merasakan imbas pelemahannya. Pelaku pasar terlihat belum kembali mood positifnya dan lebih banyak masuk pada saham-saham second liner yang memiliki pergerakan jangka pendek untuk mendapatkan gain sesaat.

“Meski kami berharap pelemahan dapat mereda namun, tetap mewaspadai masih adanya potensi pelemahan seiring kondisi bursa saham global yang kurang baik,” tukas Reza. (OL-3)

Komentar