Nusantara

Jokowi: Tren Peredaran Narkoba Masih Sulit Diturunkan

Jum'at, 21 April 2017 13:39 WIB Penulis: Widjajadi

ANTARA

PRESIDEN Joko Widodo mengingatkan genarasi muda untuk selalu waspada dan ikut memerangi peredaran narkoba. Diakui Kepala Negara, hingga saat ini tren peredaran narkoba di Indonesia masih sangat sulit untuk diturunkan, kendati sudah ada 18 bandar narkoba dihukum dan dieksekusi mati.

Satu-satunya cara yang dikehendaki pemerintah, semua harus ikut melakukan perlawanan total terhadap peredaran narkoba. " Saya ingin mengingatkan dan mengajak semuanya, agar memagari diri, sekolah, keluarga, lingkungan kampung dan kota untuk tidak dimasuki narkoba. Sekali lagi, tidak mungkin pemerintah sendiri, tetapi semua untuk berani mengatakan tidak pada narkoba," imbuh Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana ketika mengawali pesannya di dalam sosialisasi bahaya narkoba yang diikuti ribuan pelajar SMP, SMA dan SMK se-Surakarta di GOR Manahan, Jumat (21/4).

Pada kesempatan tersebut Presiden Jokowi mengajak seluruh generasi muda untuk bahu-membahu bersama pemerintah memerangi narkoba, sebab korban mati karena narkoba tiap hari di Tanah Air sudah membuat miris. "Saya hanya ingin titip, titip saja. Sampai saat ini 40 - 50 generasi muda kita setiap hari mati karena narkoba," tukas Presiden.

Pada sosialisasi antinarkoba itu, Presiden Jokowi memberikan sejumlah hadiah sepeda pelajar yang bisa menjawab pertanyaan seputar bahaya narkoba. Satu lagi Presiden Jokowi mengajukan pertanyaan tentang kebangsaan terhadap seorang pelajar, yang kemudian juga
diberikan hadiah sepeda.

Dalam sosialisasi tentang bahaya narkoba di kota Surakarta ini, Iriana Joko Widodo mengajak Ibu Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla dan ibu-ibu yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja ( ASE Kerja). Mereka dengan penuh semangat mengajak para generasi muda berperang melawan narkoba.

Sementara itu, Dirresnarkoba Polda Jateng, Kombes pol Krisno Halomoan Siregar mengingatkan kepada para generasi muda betapa merusak dan cepatnya peredaran narkoba di tengah masyarakat. Pelajar SMA merupakan pasar paling potensial untuk peredaran narkoba berbagai jenis.

" Di kota Surakarta ini, angka pengguna narkoba lebih tinggi dibandingkan kota Semarang yang merupakan kota provinsi. Karena itu, harus diwaspadai dan dilawan. Jangan sekali-kali mencoba-coba, karena bisa ketagihan," ujar Krisno sembari mengajak ribuan pelajar yang hadir
untuk meneriakkan yel-yel antinarkoba.(OL-3 )

Komentar