Nusantara

Bangkitlah Perempuan di Pedesaan

Jum'at, 21 April 2017 11:13 WIB Penulis: Akhmad Safuan

Berbekal pelatihan tata boga dari PT Semen Indonesia, Ibu Rame berdagang makanan di sekitar proyek. -- MI/Achmad Safuan

PERINGATAN Hari Kartini terasa luar biasa bagi warga Kabupaten Rembang, Jawa Tengah karena di sinilah RA Kartini meneruskan perjuangan emansipasinya untuk mengangkat derajat para perempuan Indonesia yang masa itu masih jauh tertinggal melalui berbagai kegiatan pendidikan, sosial dan ekonomi.

Berdirinya pabrik semen di Rembang, menjadi anugerah tersendiri bagi perempuan Rembang khususnya di sekitar pabrik, karena perjuangan emansipasi Kartini yang sebelumnya hanya terdengar di telinga masyarakat pedesaan, kini menjadi kenyataan dan mampu membangkitkan mereka dari keterpurukan.

Tidak hanya warga pada umumnya, khusus bagi perempuan Rembang, pabrik semen melalui berbagai program kegiatan pelatihan di lima desa sekitar pabrik seperti tata boga, tata rias, salon kecantikan dan kegiatan karya lainnya telah berhasil mendidik perempuan-perempuan di sana menjadi berdaya dan tangguh, sekaligus juga membangkitkan ekonomi keluarga.

Jika sebelumnya perempuan pedesaaan sekitar pabrik seperti Desa Kadiworo, Desa Kajar, Desa Timbrangan, Desa Tegaldowo dan Desa Pasucan lebih banyak berdiam diri di rumah menunggu para suami yang bekerja atau hanya mengerjakan ladang tumpangsari di lahan milik PT Perhutani, kini mereka telah dapat berkarya dan berdaya dari hasil pelatihan yang diberikan PT Semen Indonesia di Rembang.

Rame, 46, perempuan dari Desa Pasucen, Kecamatan Gunem, Rembang hanyalah perempuan sederhana yang tinggal di pedesaan itu, sebelum ada pabrik semen hari-harinya hanya diisi dengan mengasuh satu anak dan menonton televisi atau bercengkrama dengan tetangga sembari menunggu suami pulang kerja sepekan sekali sebagai sopir di luar kota.

Hari-harinya semakin suntuk setelah anak semata wayangnya beranjak dewasa dan selesai sekolah, tiada kegiatan apapun selain hanya memasak untuk dirinya sendiri dan selebihnya waktu digunakan tanpa kegiatan yang jelas, namun setelah mulainya dibangun pabrik dua tahun lalu, sepercik kecerahan mulai terlihat.

PT Semen Indonesia jauh sebelum mendirikan pabrik di Rembang, mengajak para perempuan di pedesaan untuk berlatih keterampilan terutama tata boga, meskipun sebelumnya targetnya hanya dapat memasak aneka makanan dan jajanan untuk keluarga dan kesehatan, namun bekal ketrampilan ini ternyata berguna untuk meningkatkan kehidupan ekonomi warga.

“Saat pabrik semen memulai pembangunan, berbekal pelatihan tata boga saya nekat berdagang makanan di sekitar proyek, awalnya suami tidak memperbolehkah tapi saya melihat kesempatan itu,” kata Rame.

Berbekal tabungan sisa uang belanja dari suami Rp3 juta, Rame mendirikan warung sederhana tidak jauh dari pintu gerbang proyek pabrik semen, dengan dibantu anak kesibukannya beralih dari sebelumnya hanya menunggu suami, kini berkutat di warung dari mulai belanja bahan makanan hingga memasak serta melayani pembeli.

Perjalanan sang waktu karena ramenya warung yang dibangun dengan empat tiang kayu serta penataan para pedagang yang dilakukan oleh PT Semen dengan memberikan tempat di dalam komplek pabrik, Rame bersama perempuan lain dari lima desa sekitar pabrik terus melayani karyawan dan tenaga kerja yang saat itu mencapai 6 ribu orang.

“Saya kaget, ternyata omset yang dicapai dari berdagang makanan ini cukup besar rata-rata Rp2 juta per hari, jika sebelumnya tidak dilatih memasak oleh pabrik semen saya belum tentu berfikir untuk berwirausaha rumah makan,” ujar Rame sembari memainkan gelang emasnya yang bergemericik.

Hasil keuntungan berdagang selain telah mampu membangun rumah, demikian Rame, juga membeli dua mobil yang kini parkir di garasi, bahkan dengan kemajuan ekonomi dari hasil berdagang ini berniat menarik suaminya pulang ke rumah dan tidak perlu lagi bekerja di luar kota. “Di sini kami sekarang lebih baik dan biar suami membantu saja di warung,” tambahnya.

Kartini lainnya yakni Tri Wahyuni,50, wabnita dari Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, setelah mengikuti pelatihan memasak yang diselenggarakan PT Semen Indonesia di Rembang, kini setelah berdagang makanan di sekitar pabrik kehidupannya mulai membaik, bahkan jauh lebih baik secara ekonomi dibanding sebelumnya.

“Awalnya saya hanya bermodal Rp500 ribu, tetapi sekarang ini omset mencapai Rp2 juta per hari, bahkan pernah mencapai Rp7 juta per hari,” kata Tri Wahyuni. Berdirinya pabrik semen, lanjut Tri Wahyuni, telah membangkitkan pandangan wanita di desa-desa, setelah mendapatkan berbagai pelatihan kini para wanita de desa berkarya, jika sebagian berdagang makanan dan membuka warung makan, namun sebagian yang tidak dapat meninggalkan rumah berkarya di rumah dengan memenuhi pesanan ketering atau sekedar membuat makanan jajanan yang juga banyak pemesan.

Sementara untuk perempuan yang mengikuti pelatihan keterampilan lain seperti tata rias dan salon, ujar Tri Wahyuni, kini mereka juga telah berani berkarya dengan membuka usaha tata rias pengantin dan mendirikan salon baik di desa mereka maupun di tempat-tempat lain di Rembang.

Hasil binaan PT Semen Indonesia tidak hanya pada perempuan-perempuan sekitar pabrik, tetapi di Rembang telah mencapai ratusan perempuan kini mempunyai berbagai usaha, seperti Johar Tutik, seorang guru di SMA Negeri 1 Lasem, Rembang tidak hanya sebagai pendidik, setelah mendapatkan pembinaan dan pinjaman lunak kini telah memiliki sebuah butik Batik Lasem yang tersebar di berbagai tempat dengan pegawai yang mencapai 50 orang.

Omset butik yang berdiri pada 2014 dan mulai mendapat pembinaan pabrik semen pada 2015 cukup terkenal di Lasem dengan nama “Najwa” cukup besar yakni Rp50 juta – Rp60 juta, bahkan jika ada pameran di beberapa kota msetnya dapat mencapai Rp200 juta.

“Bantuan dari PT Semen Indonesia cukup besar bagi kami, sehingga kita dapat berkembang seperti sekarang ini,” katanya.

Bangkitnya perempuan-perempuan pedesaan di sekitar pabrik Semen Rembang ini tidak lepas dari sosok Linda Setyawati, selain sebagai instruktur dan koordinator pemilik rumah makan “Rumah Nenek” ini dengan getol terus mendidik, membina, memberikan bekal ketrampilan bagi “Katini” di sekitar pabrik.

“Perempuan sekarang harus multifungsi, selain sebagai ibu rumah tangga juga harus bisa mencari nafkah untuk keluarga,” katanya. Kehadiran pabrik semen di Rembang ini, demikian Linda, memberikan arti yang luar biasa bagi perempuan di Rembang pada umumnya dan desa-desa sekitar pabrik, karena jika tahun-tahun sebelumnya mereka hanya berada di barisan belakang menunggu suami, kini mereka telah bangkit dengan karya nyata dan mempunyai penghasilan yang tidak kalah dengan para lelaki.

Setelah menerima berbagai pembekalan hidup, lanjut Linda Setyowati, perempuan-perempuan di sekitrar pabrik menjadi lebih memiliki cakrawala baru, tidak saja pengetahuan, ketrampilan tetapi juga lebih kritis terhadap kondisi yang terjadi di belahan luar desa mereka. (OL-3)

Komentar