Humaniora

Kesenjangan Menganga di Dunia Kerja

Jum'at, 21 April 2017 07:52 WIB Penulis: Ghani Nurcahyadi

Master Card

MESKI partisipasi perempuan Indonesia dalam pendidikan tingkat lanjut menunjukkan peningkatan, hal itu ternyata belum sebanding dengan peluang perempuan Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan ataupun menempati posisi-posisi kepemimpinan dalam dunia kerja. Data yang dirilis Mastercard menunjukkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja cenderung stagnan.

Hal itu terungkap dalam survei Mastercard Index of Women’s Advancement (MIWA) 2017 yang dipublikasikan kemarin. Studi itu menyebutkan perempuan masih kesulitan dalam mencari pekerjaan tetap maupun berkontribusi terhadap perekonomian sebagai pengusaha, pimpinan perusahaan, maupun tokoh politik.

Indeks Women’s Advancement ke-11 itu mengukur tingkat sosial ekonomi perempuan di 19 negara Asia Pasifik dan terdiri dari tiga indikator utama yang berasal dari sub-indikator tambahan, yaitu kemampuan/capability (pendidikan menengah, pendidikan tinggi), pekerjaan/employment (partisipasi dalam lingkungan kerja, pekerjaan reguler), dan kepemimpinan/leadership (pemilik bisnis, pemimpin bisnis, pemimpin politik).

Skor dalam indeks ini menunjukkan proporsi perempuan terhadap setiap 100 laiki-laki. Skor 100 menunjukkan kesetaraan gender.

Dari studi tersebut diketahui ada kesenjangan besar dalam hal partisipasi perempuan di lingkungan kerja jika dibandingkan dengan laki-laki di Indonesia.

Hanya sekitar 51% dari perempuan Indonesia yang berpartisipasi dalam lingkungan kerja seperti memiliki pekerjaan tetap yang stabil, memainkan peranan dalam bidang politik, menjadi pengusaha, dan meraih posisi sebagai pimpinan perusahaan. Berbeda dengan laki-laki yang mencapai 83,7%.

Sebagian besar perempuan tersebut juga hanya bekerja di sektor informal yang tidak menyediakan hak khusus seperti asuransi kesehatan, rencana pensiun, maupun hak cuti berbayar.

Dalam hal kepemimpinan, hanya dua dari 10 perempuan Indonesia yang menjadi pemimpin dalam bisnis. Angka perbandingan tersebut semakin mencolok ketika menilik ranah politik. Hanya 17,1% perempuan Indonesia menjadi pemimpin dalam politik, sedangkan laki-laki mencapai 82,9%.

Meski demikian, Direktur PT Mastercard Indonesia, Tommy Singgih, menilai ada peningkatan peranan perempuan Indonesia dalam hal pendidikan, dunia usaha, dan kepemimpinan. “Kami melihat adanya kemajuan positif dari tahun ke tahun yang mengartikan bahwa perempuan terus berupaya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, dan senantiasa berusaha untuk mencapai kesetaraan gender, khususnya dalam dunia bisnis dan politik,” katanya.

Keterbukaan akses terhadap perekonomian, lanjut Tommy, akan membuka partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Hal itu mengingat masih ada perempuan yang tidak memiliki akses yang sama pada sejumlah kesempatan atau jaringan sosial jika dibandingkan dengan laki-laki.

Adapun kenaikan partisipasi perempuan Indonesia dalam pendidikan tingkat lanjut (33,2%) diakui Tommy, menjadi peluang perempuan Indonesia membuka akses tersebut. “Bertepatan dengan Hari Kartini ini kami berharap bahwa keteguhan para perempuan Indonesia untuk mengejar karier atau apa yang diinginkannya turut membuka peluang yang lebih besar bagi mereka dalam memperoleh pekerjaan tetap dan kehidupan yang lebih baik.” tandasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat Baiq Isvie Rupaedah menilai peringatan Hari Kartini 2017 harus menjadikan perempuan Indonesia berperan penting sebagai agen perubahan di segala bidang.

Sosok perempuan pertama yang menjabat Ketua DPRD Provinsi NTB ini menegaskan peringatan Hari Kartini yang setiap tahun dirayakan pada 21 April, sangat penting untuk kembali diingat dan menjadi contoh untuk perempuan Indonesia, agar terus meningkatkan kemampuannya di segala bidang, seperti pendidikan, politik, wirausaha, sosial, dan budaya, termasuk dalam kemandirian sehingga bisa sejajar dengan laki-laki.

“Kartini masa kini harus memiliki peranan penting sebagai agen perubahan. Meski ada hambatan, jangan lantas patah arang untuk terus maju,” ujarnya.

Untuk itulah, ia berharap peringatan Kartini tidak hanya dijadikan sebuah simbol atau seremonial semata, tetapi harus bisa dimaknai sebagai sebuah kebangkitan dan perubahan bagi perempuan di Indonesia untuk terus berkembang dan maju di segala bidang. (Ant/S-2)

Komentar