Humaniora

Era Digital Membuka Peluang Karier Perempuan

Jum'at, 21 April 2017 07:52 WIB Penulis: Indriyani Astuti

Perempuan memperlihatkan ketergantungan lebih besar pada teknologi digital untuk mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. -- ANTARA FOTO/Eric Ireng

TEKNOLOGI sangat membantu, saya bisa kerja tanpa harus datang ke kantor. Rapat bisa melalui aplikasi Skype dan setiap hari saya bisa memantau berapa penjualan saya dengan dashboard,” kata pendiri Berrykitchen, perusahaan kate­ring dengan jasa layanan berbasis daring, Cynthia Tenggara di Jakarta, kemarin.

Tanpa teknologi, kata Cynthia, dirinya sulit bertahan sebagai CEO sekaligus ibu rumah tangga.

Hal senada diutarakan oleh Veronika Linardi yang merupakan pendiri serta CEO dari situs Qerja.com. Menurutnya, perempuan dapat memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kapasitas mereka dalam bekerja. Seperti diketahui, Qerja.com merupakan laman yang dapat mendukung para profesional untuk meningkatkan karier. Laman itu memuat atrikel-artikel terkait dengan pengetahuan karier, gaji, dan pengalaman para profesional.

Era digital dapat menjadi peluang bagi kaum hawa dalam mengembangkan karier dan mencari tambahan pendapatan. Hal tersebut dibuktikan dengan bermunculannya perusahaan rintisan (start up) baru yang didirikan dan dikelola oleh womenpreneur atau pengusaha perempuan.

Menurut riset yang dilakukan oleh perusahaan jasa profesional global dalam layanan konsultasi, digital, teknologi dan operasi, yakni Accenture, perempuan dianggap lebih mampu memanfaatkan kemajuan teknologi digital untuk pekerjaan yang multitasking jika dibandingkan pria.

Alasannya, perempuan memperlihatkan ketergantungan lebih besar pada teknologi digital untuk mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Riset itu dilakukan Accenture di 29 negara, salah satunya Indonesia. Negara-negara tersebut terdiri atas 18 negara berkembang dan 11 negara maju dengan jumlah responden mencapai 900 orang, yakni 250 perempuan karier, 250 pria berkarier, 400 orang belum bekerja.

“Agar perempuan tidak kalah bersaing dengan pria di dunia pekerjaan, kemahiran digital memang dibutuhkan. Akan tetapi, tidak hanya itu, tetapi juga harus didukung dengan strategi karier dan memanfaatkan teknologi secara tepat untuk menyeimbangi kemampuan laki-laki,” ujar perwakilan Accenture Indonesia, Chitrawati Suganda.

Chitra menerangkan riset itu juga mengidentifikasi faktor yang menyebabkan perempuan kalah bersaing di dunia pekerjaan jika dibandingkan pria.

Menurut dia, ada sejumlah faktor yang berpengaruh, yaitu pilihan program studi ketika mahasiswa. Perempuan di Indonesia cenderung memilih program yang disuka, sementara pria lebih memilih program studi yang dapat memberi penghasilan tinggi.

Selain itu, 58% pria yang ingin karier mereka meningkat memilih punya mentor di kantor, sedangkan perempuan tidak melakukan hal itu.

Jangan sekadar tren
CEO McKinsey Indonesia, Phillia Wibowo, menyarankan kaum perempuan yang terjun ke dunia digital agar memahami benar bidang yang digeluti, tidak sekadar mengikuti tren.

“Kalau berbicara tentang digital, kita harus pikirkan dulu apakah benar-benar ada dampaknya atau kita sebenarnya hanya mengikuti arus saja,” ujar Phillia dalam acara Peringatan Kebangkitan Perempuan Indonesia menjelang Hari Kartini yang diselenggarakan Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM, di Yogyakarta, kemarin. Seperti dikutip dari siaran pers UGM, acara tersebut juga dihadiri oleh CEO Telkomsel, Ririek Adriansyah.

Ia menilai perempuan memiliki kapasitas dan potensi yang besar untuk berperan dalam perekonomian dan pembangunan, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal karena faktor lingkungan dan keterbatasan lain.

Ia menilai teknologi memberikan peluang untuk mendukung usaha pemberdayaan perempuan, khususnya untuk membuka ruang dan kesempatan dalam mengembangkan kemampuan dan potensi mereka dalam bidang-bidang yang mereka geluti.

Karena itu, ia berharap masyarakat mulai menempatkan perempuan sebagai individu yang memiliki potensi yang besar, bukan sekadar sebagai pihak yang harus dilindungi.

“Ketika kalian berkampanye tentang kesetaraan gender, berkampanyelah bahwa ini ialah hal yang baik untuk produktivitas dan pertumbuhan, bukan hanya berkampanye karena ini sesuatu yang baik. Kita harus membuka kesempatan agar potensi yang dimiliki oleh para perempuan ini dapat disalurkan dan memunculkan kontribusi penting,” kata Phillia. (S-1)

Komentar