Polkam dan HAM

Teror Cermin Beratnya Melawan Korupsi

Jum'at, 21 April 2017 07:12 WIB Penulis: Cah/P-4

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang -- MI/Rommy Pujianto

WAKIL Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang kembali angkat bicara soal kasus yang menimpa penyidik Novel Baswedan. Berkaca pada kasus Novel, pemberantasan korupsi di Indonesia memiliki tantangan yang berat. “Mudah-mudahan ini jadi pembelajaran buat kita semua bahwa memberantas korupsi itu memang enggak sederhana,” kata Saut di Gedung KPK, Jakarta, seperti dilaporkan Metrotvnews.com, kemarin.

Tak sedikit hambatan ditemui KPK sebagai lembaga atau serangan ke petugas komisi antirasywah yang tengah bekerja, baik itu penyidik, penyelidik, ataupun jaksa.

Serangan dan teror tak jarang diterima mereka yang bekerja. Salah satunya kasus serangan dengan air keras ke penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Saut pun menyampaikan kondisi terkini dari Novel. Secara umum, pihak dokter melaporkan Novel sudah mulai mengalami kemajuan meski relatif lambat. “Kemajuannya ada, tetapi sedikit lambat, ya. Harapannya ada kemajuan dari titik putih yang mengambang,” jelasnya.

Sebelumnya, sudah ada empat kali upaya untuk mencelakakan Novel Baswedan. Pertama, pada 2011 Novel pernah menjadi sasaran tabrak lari. Namun, saat itu selamat karena yang ditabrak ialah rekannya, Dwi Samayo, yang juga penyidik KPK. Kedua, pada pertengahan 2016, Novel ditabrak sebuah mobil ketika sedang mengendarai sepeda motor. Kala itu Novel sedang mengusut dua perkara korupsi besar.

Juru bicara KPK Febri Diansyah menyampaikan kondisi terkini Novel. Menurut Febri, mata kanan penyidik senior KPK tersebut berangsur pulih dan kini dapat membaca tulisan, sedangkan penglihatan mata kirinya masih kabur. “Sampai hari ini terdapat perkembangan yang cukup baik. Mata kanannya mengalami perkembangan signifikan, telah dapat membaca tulisan seukuran judul surat kabar, dan mengenali wajah. Namun, mata kiri masih kabur,” kata Febri Diansyah di Jakarta, kemarin, mengenai Novel yang sedang dirawat di Singapore National Eye Centre (SNEC).

Sementara itu, pihak kepolisian belum juga mengungkap pelaku teror kepada Novel meskipun sudah lebih dari sepuluh hari. Karopenmas Mabes Polri Brigadir Jenderal Rikwanto menyatakan pihaknya ingin memeriksa Novel untuk menambah keterangan. Namun, karena yang bersangkutan masih berada di Singapura, hal itu tidak bisa dilakukan. (Cah/P-4)

Komentar