Polkam dan HAM

Setya Novanto Dapat Jatah 7%

Jum'at, 21 April 2017 07:13 WIB Penulis: Erandhi Hutomo Saputra

Dua terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Sugiharto (kanan) dan Irman (kiri) menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (20/4). -- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

TEMAN dekat Andi Narogong sekaligus ketua tim pemenangan proyek KTP-E Johanes Richard Tanjaya menyebut ada jatah sebesar 7% dari nilai proyek KTP-E untuk Setya Novanto. Hal itu diungkapkannya saat menjadi saksi untuk dua terdakwa, mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman dan mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Kemendagri Sugiharto.

Diketahui, nilai proyek KTP-E mencapai Rp5,9 triliun sehingga 7% dari nilai itu mencapai Rp413 miliar. Johanes menyampaikan fakta persidangan itu saat jaksa KPK Abdul Basir bertanya soal jatah proyek KTP-E untuk DPR.

“Apa pernah dapat info dari Bobby (anggota tim pemenangan KTP-E), SN Group dapat 7%?” tanya jaksa Basir di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

“Saat itu Bobby pernah sampaikan ke kami memang ada 7% untuk DPR,” jawab Johanes. “Yang Anda tahu SN itu siapa?” timpal jaksa. “Mau tidak mau ya Setya Novanto,” ucap Johanes.

Dalam sidang itu juga hadir Bobby dan ketua panitia pengadaan KTP-E Kemendagri Drajat Wisnu Setyawan. Konfirmasi aliran dana ke Setya Novanto terhadap Johanes itu dilakukan jaksa setelah mendengar ke­saksian Bobby. Bobby bercerita pernah berbincang dengan Direktur PT Murakabi Sejahtera Irvan Hendra Pambudi Cahyo, yang merupakan keponakan Setya Novanto bahwa biaya untuk KTP-E sangat besar.

“Waktu itu ngobrol santai dengan Irvan. Dia (Irvan) sempat bicara biayanya (KTP-E) gede banget, terus saya tanya, ‘Lha berapa besar toh?’ ‘Dia (Irvan) bilang 7%,” aku Bobby.

“Dia (Irvan) bilang buat Senayan tapi itu ngobrol santai saja,” imbuhnya.

Orang dekat Gamawan
Dalam sidang itu, Johanes juga mengungkapkan fakta bahwa salah satu pemenang proyek KTP-E, yakni Direktur PT Sandipala Arthaputra Paulus Tannos, yang merupakan orang dekat mantan Mendagri Gamawan Fauzi. Hal itu ia ketahui saat Paulus memperkenalkan diri di Ruko Fatmawati, tempat tim pemenangan bekerja. Ia mendapat informasi Paulus menyediakan Rp2 triliun untuk proyek KTP-E.

Tidak ingin hanya mendapat konfirmasi dari Johanes, jaksa Basir juga bertanya kepada Bobby. Saat itu Bobby melihat Paulus kerap datang ke Ruko Fatmawati mengendarai mobil mewah dan mendapat informasi dari tim Fatmawati bahwa Paulus merupakan orangnya Menteri (Gamawan). Keistimewaan Paulus juga diungkapkan adik Gamawan, Hendra, saat Bobby bertemu dengan Hendra di kediaman Hendra. Saat itu terkait dengan proyek KTP-E Hendra berpesan agar tim Fatmawati mengikuti ‘rambut putih’, yakni Paulus Tannos.

“Disampaikan Hendra, sudah pokoknya ikutin ‘rambut putih’ (Paulus Tannos), ke mana dia (Paulus) pergi dia pemenangnya,” ungkap Bobby lagi.

Bobby mengaku terpaksa bertanya kepada Hendra karena saat itu adik Gamawan lainnya, Azmin Aulia, enggan berbicara saat dimintai arahan terkait dengan proyek KTP-E. Keengganan Azmin untuk berbicara proyek KTP-E juga diamini Johanes. Menurutnya, Azmin lebih banyak tersenyum saat dimintai pendapat.

Saat ditanya apakah Johanes mendapat uang dari Andi dalam usaha pemenangan proyek KTP-E, Johanes menampik. Sebelum proses lelang ia telah mengundurkan diri karena tidak sepaham dengan Andi mengenai kualitas PNRI yang diusahakan sebagai pemenang. Ia menilai PNRI tidak layak menjadi pemenang tender proyek KTP-E. Meski demikian, anak buahnya di tim Fatmawati mendapat upah Rp5 juta setiap bulan selama setahun. (P-3)

Komentar