Nusantara

Bangkitnya para Kartini di Lima Desa

Jum'at, 21 April 2017 06:21 WIB Penulis: Akhmad Safuan/X-7

Guru SMA Negeri I Lasem, Johar Tutik, menunjukkan batik-batik di butik miliknya di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (20/4). -- MI/Akhmad Safuan

PERINGATAN Hari Kartini terasa luar biasa bagi warga Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, karena di situlah anak kelima Bupati Jepara RM AA Sosroningrat itu meneruskan perjuangan emansipasi. Sebuah perjuangan lewat ide dan tulisan untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang masa itu jauh tertinggal di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Bagi perempuan Rembang, perjuangan emansipasi Kartini kini menjadi kenyataan dan membangkitkan mereka dari keterpurukan. Setelah pabrik semen berdiri di wilayah tersebut, program pelatihan tata boga, tata rias, salon kecantikan, dan kegiatan karya lainnya di lima desa di sekitar pabrik berhasil mendidik mereka menjadi perempuan yang tangguh sekaligus membangkitkan ekonomi keluarga.

Sebelum ada pabrik semen, para perempuan di Desa Kadiworo, Desa Kajar, Desa Timbrangan, Desa Tegaldowo, dan Desa Pasucan lebih banyak berdiam diri di rumah menunggu para suami pulang dari ladang tumpangsari di lahan milik PT Perhutani. Kini, mereka dapat berkarya dan berdaya dari hasil pelatihan yang diberikan PT Semen Indonesia di Rembang.

Rame, 46, dari Desa Pasucen, Kecamatan Gunem, Rembang, misalnya, sebelum ada pabrik semen, hari-harinya diisi dengan mengasuh satu anak, memasak, dan menonton televisi atau bercengkerama dengan tetangga sembari menunggu suaminya yang berprofesi sebagi sopir pulang sepekan sekali.

Setelah mengikuti pelatihan tata boga, Rame dapat membantu meningkatkan kehidupan ekonomi keluarganya.

“Saat pabrik mulai dibangun, saya nekat berdagang makanan di sekitar proyek, saya melihat kesempatan itu,” kata dia.

Berbekal modal Rp3 juta, Rame mendirikan warung di dekat pintu gerbang proyek. Kini Rame bersama rekan-rekannya sesama perempuan dari lima desa berjualan di dalam kompleks pabrik untuk melayani kebutuhan makan dan minum sekitar 6.000 karyawan.

“Saya kaget, omzet dari berdagang cukup besar, Rp2 juta per hari. Jika tidak dilatih memasak oleh pabrik semen, saya belum tentu berpikir untuk berwirausaha rumah makan,” ujar Rame sembari memainkan gelang emasnya.

Selain membeli perhiasan, ia juga mampu membangun rumah dan bahkan membeli dua mobil.

Hal yang sama dialami Tri Wahyuni, 50, dari Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang. Sejak berdagang makanan di sekitar pabrik, kehidupannya mulai membaik. “Modal awal Rp500 ribu, tetapi sekarang ini omzet mencapai Rp2 juta per hari, bahkan pernah mencapai Rp7 juta per hari,” tambahnya.

Di sisi lain, para perempuan lainnya yang mengikuti pelatihan tata rias dan salon, kini berani membuka usaha tata rias pengantin di desa mereka ataupun di tempat-tempat lain di Rembang.

Johar Tutik, misalnya, guru di salah satu SMA, saat ini telah memiliki butik Batik Lasem Najwa dengan 50 pegawai. (Akhmad Safuan/X-7)

Komentar