Ekonomi

Kredit Meningkat, Likuiditas Ketat

Jum'at, 21 April 2017 06:15 WIB Penulis: Fathia Nurul Haq

ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY

SEJUMLAH bank nasional mencatatkan pertumbuhan kredit yang baik pada kuartal pertama tahun ini. Kredit pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan kredit pemilik-an rumah (KPR) masih jadi andalan pertumbuhan kredit bagi industri perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, misalnya, mencatatkan pertumbuhan kredit kuartal pertama 2017 sebesar Rp653,1 triliun atau naik 16,4% dari akhir Maret 2016 yakni Rp561,1 triliun. Sebanyak 72,1% dari total portofolio itu tersalur pada sektor UMKM. Dirut BRI Suprajarto mengatakan sektor UMKM masih jadi primadona penyaluran kredit tahun ini. "Kami akan pertahankan tingkat persentasenya 73% (untuk mikro) berbanding 27% (untuk korporasi). Ya, syukur-syukur kalau korporasinya bisa kita tekan," katanya pada jumpa pers kinerja triwulanan di Sentra BRI I, Jakarta, Kamis (20/4).

Selain masif menerima kredit, segmen mikro memiliki rasio kredit macet lebih rendah ketimbang kredit macet secara keseluruhan. Kredit macet atau non-performing loan (NPL) mikro hingga akhir Maret tercatat hanya 1,35% gross, turun dari Maret 2016 yang sebesar 2,22%. Sama halnya dengan BRI, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim mampu meningkatkan pertumbuhan kredit meski lambat sebesar Rp29,29 triliun atau tumbuh 3,62% dari tahun lalu. Corporate Secretary Bank Jatim Ferdian Timur mengatakan pertumbuhan terjadi pada kredit program modal kerja yang dimiliki Bank Jatim. Pundi Kencana dan Laguna sebagai kredit modal kerja masing-masing tumbuh 10,13% (yoy) dan 106,50 % (yoy).

Adapun Kredit Si Umi atau Siklus Mikro Kecil untuk Usaha Mikro tumbuh 902,15% (yoy). Pertumbuhan kredit juga dialami PT Bank Central Asia Tbk. Pada kuartal I 2017, outstanding kredit BCA tercatat Rp409 triliun, atau tumbuh 9,4% ketimbang posisi sama tahun sebelumnya. Kemudian, KPR naik 10,4% (yoy) menjadi Rp66,1 triliun, kredit komersial dan UKM naik 1,7% (yoy) menjadi Rp144,7 triliun, dan kredit korporasi meningkat 17,9% (yoy) menjadi Rp152,6 triliun. Selanjutnya, kredit konsumer tumbuh 9,4% (yoy) menjadi Rp111,7 triliun yang didukung pertumbuhan di semua produk, serta kredit kendaraan bermotor meningkat 7,3% (yoy) menjadi Rp35,1 triliun.

"Adapun di akhir Maret 2017, outstanding kartu kredit tercatat Rp10,5 triliun, tumbuh 10,7% (yoy)," kata Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja saat paparan kinerja perusahaan, kamis (20/4). Jahja menambahkan, pada 2017 penyaluran kredit diprediksi membaik. Itu ditopang dari membaiknya beberapa sektor kunci seperti pertambangan, perkebunan, dan komoditas. Meski begitu, perbankan mesti berhati-hati dan tidak terlalu agresif menya-lurkan kredit kepada industri karena ada potensi terjadi likuiditas ketat apalagi pascaperiode amnesti pajak.

Tetap 4,75%
Seusai mengikuti Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) di Jakarta, kemarin, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara menyampaikan BI mencatat laju pertumbuhan penyaluran kredit oleh industri perbankan akan terus membaik seiring dengan pulihnya perekonomian. "Februari 2017 kredit tumbuh 8,6%, atau lebih baik daripada Januari 2016 yang sebesar 8,3%," ungkap Tirta. RDG BI pun memutuskan untuk menahan BI 7-Day reverse repo rate pada angka 4,75% berikut lending dan deposit facility masing-masing 5,5% dan 4%. (Try/Arv/E-3)

Komentar