Ekonomi

Kepesertaan Dana Pensiun masih Rendah

Jum'at, 21 April 2017 04:45 WIB Penulis: (Try/E-1)

MI/Ramdani

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat kepesertaan pekerja formal untuk mengikuti program dana pensiun masih rendah. Hanya sekitar 21% pekerja formal yang telah mengikuti program dana pensiun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2016, jumlah pekerja formal di Indonesia mencapai 50,2 juta dan pekerja informal 68,2 juta. Jumlah pekerja formal yang tercatat sebagai peserta program pensiun di BPJS Ketenagakerjaan, PT Taspen, atau PT Asabri, per 31 Desember 2016, hanya 17,81 juta.

“Dengan demikian, baru sekitar 21% pekerja formal yang telah terlindungi program pensiun,” ujar komisioner OJK Bidang Industri Keuangan Nonbank, Firdaus Djaelani, pada peluncuran Pension Day 2017, di Jakarta, Kamis (20/4). Direktur Umum dan SDM BPJS Ketenagakerjaan Naufal Mahfudz mengatakan di tahun ini masih ada 19 BUMN yang belum ikut program jaminan pensiun BPJS Ketenagakerjaan.

“Di 2015 ada sekitar 40 BUMN, kemudian di 2016 turun menjadi 30 BUMN. Mudah-mudahan tahun depan semua sudah ikut,” ujar Naufal. Direktur Utama PT Taspen Tbk Iqbal Latanro mengatakan moratorium PNS menyebabkan jumlah pekerja aktif semakin berkurang. Keberadaan dana pensiun penting karena umumnya para pensiunan mengambil fasilitas kredit. “Semua bank punya program kredit pensiun. Data kami menunjukkan 70% dari pensiunan PNS mengambil kredit pensiun sehingga sebagian kewajiban harus dibayar dari gaji pensiun,” jelas Iqbal.

“Saat ini Taspen memiliki peserta aktif 43 juta orang, jumlah peserta pensiun 2,5 juta, dan jumlah pensiun bertambah,” ujarnya. Direktur Utama PT Asabri Sonny Widjaja memberikan catatan bahwa 90% pekerja Indonesia tidak siap untuk pensiun. “Ternyata biaya hidup setelah pensiun tidak turun secara signifikan, masih 94%, sementara kebutuhan hidup tidak bisa diturunkan. Banyak pensiunan TNI Polri terlena sehingga mereka tidak siap pensiun,” tukas Sonny. (Try/E-1)

Komentar