Humaniora

Malaysia Jamin Kebebasan Pers

Jum'at, 21 April 2017 04:34 WIB Penulis: Ade Alawi

AFP PHOTO / Money SHARMA

PERDANA Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Razak menjamin kebebasan pers di negeri jiran. Dia mengaku risau dengan banyak berita bohong di media sosial dan sejumlah media tentang Malaysia. Demikian dilaporkan wartawan Media Indonesia Ade Alawi dari Kuala Lumpur, Malaysia. "Saya berharap wartawan, editor, dan penerbit memberikan informasi akurat, terlebih hal ini merupakan sebuah kewajiban," pinta Najib di hadapan 300 peserta dari 24 negara dalam sambutannya pada gala dinner perhelatan World Association of Newspapers and News Publishers (Wan Ifra) di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (19/4) malam.

Menurut Najib, berita bohong itu disampaikan mantan pemimpin (eks PM Mahathir Muhammad) yang mengatakan Malaysia sudah bangkrut dan menjadi negara gagal. Tudingan itu, kata dia, tidak benar karena sejumlah negara berbondong-bondong berinvestasi di Malaysia, seperti Tiongkok, Arab Saudi, dan India. Investasi tersebut, lanjutnya, akan membuka ribuan lapangan pekerjaan, alih keterampilan, dan bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Malaysia. "Saya tanya kepada Anda, apa-kah itu yang disebut negara gagal?" tanya Najib.

Bila informasi tidak benar menjadi arus besar dan diyakini sebagai sebuah fakta, Najib mengatakan itu merupakan kanker dalam dunia jurnalistik. "Dampaknya akan sangat serius," tandasnya. Ia mengatakan Pemerintah Malaysia selalu membuka diri dan memberikan hak kepada warga serta pers untuk memperjuangkan hak-hak. "Anda lihat pers kami, mereka bisa mengkritik pemerintah, menteri-menteri, dan para pejabat kami setiap hari," jelasnya. Pada kesempatan itu, Najib didapuk untuk memberikan medali kepada pemenang sejumlah kategori kepada pers yang menyabet penghargaan bergengsi Asia Media Award.

Cetak era digital
Beberapa kebudayaan Malaysia tampak memeriahkan acara tersebut. Presiden Editor Sedunia WAN IFRA, Marcelo Rech, juga hadir. Gelaran WAN IFRA yang berlangsung empat tahunan itu kali ini mengusung tema Memperkuat media cetak di era digital. Acara dilaksanakan pada 18-20 April. Peserta mengikuti sesi kelas master yang mengeksplorasi format konten, seperti yang dilakukan The Guardian, Google, dan penggunaan Big Data. Selanjutnya, sesi konferensi banyak mengupas terobosan media cetak yang tidak sekadar bertahan, tetapi juga mendulang laba, seperti the Inquirer.

Media yang berbasis di Filipina itu, selain merombak desain perwajahan menjadi lebih eksploratif dan berani, mengadu peruntung-an dengan menyuguhkan lima platform pada tahun lalu, yakni media cetak, daring, tablet, ponsel pintar, dan arloji pintar. "Langkah spektakuler ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan zaman dan generasi yang berbeda. The Inquirer ingin menciptakan everywhereness," ujar Charmaine Bautista Pamintuan, Senior Vice President, Group Head for Marketing Inquirer Group of Companies, Filipina.

Selain aspek penguatan inovasi visual, konten, newsroom, bisnis, manajemen, rebuilding trust in news (membangun kembali kepercayaan dalam berita) juga dibahas. "Membangun kredibilitas media sebuah keniscayaan, apalagi di tengah, apalagi di tengah merebaknya berita palsu. Jurnalis harus memverifikasi dan mengungkap kebenaran," kata Steven Gan, Editor in Chief & Cofounder Malaysiakini, media daring terbesar di negeri jiran.

(H-1)

Komentar