Internasional

Oposisi Terus Tekan Maduro

Jum'at, 21 April 2017 00:20 WIB Penulis: Indah Hoesin

AFP PHOTO / CARLOS BECERRA

SEBANYAK dua orang tewas dalam demonstrasi besar-besaran yang melanda Caracas, Venezuela, Rabu (19/4) waktu setempat. Tentara di luar Caracas juga dilaporkan tewas dibunuh. Peristiwa itu membuat jumlah korban tewas akibat krisis politik di Venezuela mencapai delapan orang dalam waktu satu bulan. Kepala Rumah Sakit Caracas, Amadeo Leiva, mengatakan salah satu korban tewas ialah remaja 17 tahun. Remaja itu ditembak kelompok bersenjata yang menggunakan sepeda motor. Mereka juga melemparkan tabung gas air mata ke kerumunan demonstran.

Sementara itu, korban tewas lainnya ialah perempuan berusia 23 tahun, Paola Ramirez, yang ditembak di bagian kepala di Kota San Cristobal. Sebelumnya, pihak berwenang melaporkan lima orang tewas, termasuk anak laki-laki berusia 13 tahun, dalam demonstrasi yang telah digelar pada awal bulan untuk menuntut Presiden Nicolas Maduro muncur. Meskipun baru mengalami kekerasan, kelompok oposisi menunjukkan tekad mereka untuk terus menekan Maduro dengan menyerukan demonstrasi baru, Kamis (20/4).

"Kemarin, di waktu yang sama kita memanggil seluruh rakyat Venezuela untuk memobilisasi mereka," ujar pemimpin senior oposisi, Henrique Capriles, dalam sebuah konferensi pers. "Hari ini ada jutaan orang, besok bahkan lebih banyak daripada kami yang akan keluar," tambahnya. Oposisi menuding Maduro telah membiarkan pasukan negara dan gerombolan penjahat bersenjata untuk menekan demonstran. Kerusuhan terus berlanjut hingga malam. Dilaporkan, penjarahan di sejumlah toko roti, supermarket, dan pusat makanan di Caracas Barat terjadi. Maduro balik menuding pemimpin oposisi di parlemen, Julio Borges, dan Wakil Presiden Tareck el Aissami sebagai penyebab kerusuhan terjadi.

Kecaman dunia
Di lain pihak, Amerika Serikat (AS) pada Rabu (19/4) melalui Menteri Luar Negeri (Menlu), Rex Tillerson, menyampaikan keprihatinan atas pelanggaran konstitusi yang dilakukan pemerintahan Maduro dengan tidak membiarkan oposisi bersuara. "Kami prihatin pemerintahan Maduro telah melanggar konstitusi mereka dan tidak membiarkan oposisi bersuara atau membiarkan mereka (oposisi) mengatur dengan cara yang mengekspresikan pandangan rakyat Venezuela," ujar Tillerson. "Ya, kami prihatin dengan situasi itu, kami mengamatinya dengan saksama," tambahnya.

Tillerson juga mengatakan AS telah bekerja sama dengan Organisasi Negara-Negara Amerika untuk mengungkapkan keprihatinan tersebut ke Venezuela. Menlu Venezuela, Delcy Rodriguez, melalui media sosial Twitter, mengatakan negaranya 'menolak' pernyataan Tillerson dengan menyebut itu merupakan 'intervensionisme sistematis'. Sebelumnya, 11 negara Amerika Latin, termasuk Brasil, Meksiko, dan Cile, pada Senin (17/4), telah mengeluarkan pernyataan yang mengutuk jatuhnya korban tewas dalam demonstrasi dan mendesak pasukan keamanan Venezuela untuk menahan diri.

Tidak hanya krisis politik yang menyebabkan kerusuhan berujung kekerasan, ratusan ribu penduduk juga kekurangan makanan dan menuntut pemilihan umum (pemilu) untuk mencari pengganti Maduro segera digelar. Sebuah survei yang dilakukan Venebarometro bahkan mengatakan 7 dari 10 orang Venezuela setuju Maduro mundur sebelum masa jabatannya berakhir pada 2019. Sementara itu, pada Rabu (19/4), Maduro mengaku bersedia menghadapi lawan-lawannya melalui pemilihan umum (pemilu). (AFP/Ihs/I-1)

Komentar