Humaniora

Malaysia Jamin Kebebasan Pers

Kamis, 20 April 2017 17:42 WIB Penulis: Ade Alawi/Laporan dari Kuala Lumpur, Malaysia

AFP / MOHD RASFAN

PERDANA Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Rajak menjamin kebebasan pers di negeri jiran. Dia mengaku risau dengan banyak berita bohong di media sosial dan sejumlah media tentang Malaysia.

"Saya berharap kepada wartawan, editor, dan penerbit untuk memberikan informasi akurat, terlebih hal ini merupakan sebuah kewajiban, " pinta Najib dihadapan 300 peserta dari 24 negara dalam sambutannya pada gala dinner perhelatan WAN IFRA di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (19/4) malam.

Menurut Najib, berita bohong itu disampaikan oleh mantan pemimpin (eks PM Mahathir Muhammad) yang mengatakan bahwa Malaysia sudah bangkrut dan menjadi negara gagal.

Tudingan itu, kata dia, tidak benar. Pasalnya, sejumlah negara berbondong-bondong berinvestasi di Malaysia, seperti Tiongkok, Arab Saudi, dan India.

Investasi tersebut, lanjutnya, akan membuka ribuan lapangan kerja, alih ketrampilan dan bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Malaysia. "Saya tanya kepada Anda, apakah itu yang disebut negara gagal," tanya Najib.

Bila informasi tidak benar menjadi arus besar dan diyakini sebagai sebuah fakta, Najib mengatakan bahwa itu sebagai kanker dalam jurnalisme. "Dampaknya akan sangat serius," tandasnya.

Dikatakan, Pemerintahan Malaysia selalu membuka diri dan memberikan warganya serta pers untuk merjuangkan hak-haknya.

"Anda lihat pers kami, mereka bisa mengeritik pemerintah, menteri-menteri, dan para pejabat kami setiap hari," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Najib didapuk untuk memberikan medali kepada pemenang sejumlah kategori kepada pers yang menyabet penghargaan bergengsi Asia Media Award.

Tampak memeriahkan acara penampilan beberapa kebudayaan Malaysia. Hadir Presiden Editor Sedunia WAN IFRA Marcelo Rech.

Gelaran WAN IFRA yang berlangsung empat tahunan ini kali ini mengusung tema Memperkuat Media Cetak di Era Digital.

Acara dilaksanakan selama tiga hari. Peserta mengikuti sesi kelas master yang mengeksplorasi format konten seperti yang dilakukan The Guardian, Inggris, Google dan penggunaan Big Data.

Selanjutnya sesi konferensi yang banyak mengupas terobosan media cetak yang tidak sekedar bertahan, melainkan mendulang laba, seperti The Inquirer. Media yang berbasis di Filipina ini, selain merombak desainnya perwajahan lebih eksploratif dan berani, juga mengadu peruntungan dengan menyuguhkan lima platform pada tahun lalu, yakni media cetak, online, tablet, ponsel pintar, dan jam tangan pintar.

"Langkah spektakuler ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan zaman dan generasi yang berbeda. The Inquirer ingin menciptakan everiwhereness," ujar Charmaine Bautista Pamintuan, Senior Vice President, Group Head for Marketing Inquirer Group of Companies, Filipina.

Selain aspek penguatan inovasi visual, konten, newsroom, bisnis, manajemen, juga tentang rebuilding trust in news (membangun kembali kepercayaan dalam berita).

"Membangun kredibilitas media sebuah keniscayaan, apalagi di tengah merebaknya berita palsu. Jurnalis harus memverifikasi dan mengungkap kebenaran," kata Steven Gan, Editor in Chief & Co Founder Malaysiakini, media online terbesar di negeri jiran. Perhelatan WAN IFRA ditutup Kamis (20/4). (OL-5)

Komentar