Polkam dan HAM

Sempat Ada Ketegangan di TPS 17 Petamburan

Rabu, 19 April 2017 11:40 WIB Penulis: Ilham Wibowo

ANTARA

KETEGANGAN sempat terjadi di tempat pemungutan suara (TPS) tempat pemimpin FPI Rizieq Shihab menyoblos di Petambura, Jakarta Pusat. Ada pemilih yang hanya berbekal KTP kedaluarsa akhirnya gagal menyoblos meski namanya tercantum dalam DPT.

Kejadian berawal dari saksi pasangan Anies-Sandi yang memprotes petugas Kelompok Pemilihan Suara (KPPS) 17 yang membolehkan pemilih tersebut mendapatkan surat suara. Saksi Anies-Sandi menyebut KTP yang dibawa warga pemilih itu sudah dua tahun melewati batas perpanjangan dan bukan KTP elektronik. Mereka menilai hak untuk memilih orang itu diragukan.

Tetapi petugas KPPS punya pandangan lain. Mereka berkeyakinan siapa pun yang nama pemilih yang tercantum dalam DPT berhak melakukan pencoblosan.

Suasana semakin ricuh saat sejumlah warga yang mengaku dari RW 04 Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat kemudian ikut melakuan protes serupa. Sejumlah warga lantas mengusir kehadiran pemilih yang hanya berbekal KTP tersebut.

"Anda dibayar berapa, bilang saja berapa? Enak saja bisa leluasa milih ke TPS. Pulang sana," protes seorang warga di TPS 17 Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu 19 April 2017.

Ketua PPS Petamburan Wiwin yang berada di TPS 17 lantas mencoba menengahi. Namun, warga yang protes tetap meyakini penilaian untuk mengusir pemilih yang membawa KTP tersebut sesuai dengan ketentuan KPU.

Wiwin berpandangan, semestinya warga tersebut diperbolehkan memilih. "Kalau nama pemilih sudah ada di DPT, dia berhak menyoblos. Soal KTP kedaluarsa itu berurusan dengan kelurahan," ujar Wiwin

Upaya menengahi warga pemilih yang dilakukan oleh Wiwin sebagai perwakilan KPU pun kandas. Wiwin dan warga pemilih yang gagal menyoblos itu akhirnya mesti dievakuasi lantaran dikhawatirkan mendapatkan intimidasi yang lebih besar. (MTVN/X-12)

Komentar