Features

Kerasnya Adu Domba di Bogor

Rabu, 19 April 2017 11:19 WIB Penulis: Ricky Julian

MI/Ricky Julian

TEMBANG rancak khas Sunda dan tarian Jaipong mengiringi kerasnya bunyi benturan yang terjadi ketika tanduk domba garut saling beradu.

Para penonton pun bersorak menyemangati domba-domba Garut yang sedang beradu jantan di tengah arena kontes, di lapangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor, Jawa Barat, Minggu (9/4). Semakin keras bunyi benturan tanduk, semakin keras pula sorak sorai penonton di sekeliling arena.

Sementara itu, di dalam arena, sang pawang domba sibuk memberikan isyarat pada dombanya untuk melangkah mundur mengambil ancang-ancang sebelum menanduk kembali domba lawannya.

Ketika beradu, terkadang salah satu domba terpelanting karena kalah kuat. Seketika itu wasit yang memimpin jalannya kontes meniup peluit tanda dihentikannya pertarungan untuk sementara. Ia sekaligus memberikan waktu bagi pawang untuk mengecek kondisi kesehatan domba.

Pawang pun dengan cekatan memberikan pijatan-pijatan di bagian punggung, leher hingga kaki domba.

"Setiap lima pukulan (beradu), wasit akan menghentikan pertarungan," ujar Ragel Reakara, Ketua Umum DPC Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Bogor Raya di sudut arena.

Ragel menjelaskan, kontes seni adu domba Garut terdiri dari empat ronde. Di setiap ronde domba akan beradu sebanyak lima kali. Artinya, mereka akan beradu tanduk sebanyak 20 kali dalam sekali tarung.

Di arena kontes, selain wasit ada tiga juri yang memantau jalannya pertarungan. Merekalah yang berhak menentukan domba pemenang. "Ketiga juri yang menentukan pemenangnya. Mereka menilai berdasarkan teknik pukulan, mental bertarung, bentuk tanduk serta kesehatan domba," kata Ragel.

Kontes adu kuat domba Garut layaknya pertarungan dalam olahraga tinju. Domba-domba yang akan bertarung diklasifikasikan berdasarkan bobotnya. Kelas A misalnya, hanya untuk domba Garut berbobot lebih dari 75 kg. Kelas B untuk bobot 65-75 kg, dan kelas C untuk bobot kurang dari 65 kg. Jika ada perbedaan, bobot maksimal hanya lima kilo gram.

Adu Cakep
Selain adu kekuatan, dalam ajang tersebut juga diselenggarakan kontes patok yang menitikberatkan pada penampilan domba. Ada empat kategori dalam kontes patok, yakni Raja Petet, Raja Kasep, Raja Pedaging, dan Ratu Bibit.

Untuk kategori Raja Petet, juri akan memilih domba mana yang berusia remaja namun berpotensi menjadi pejantan yang menghasilkan daging berkualitas. Raja Pejantan, tim juri akan memilih domba berbadan kekar, bertanduk bagus, berbulu halus dan memiliki kondisi kesehatan prima dengan syarat berusia maksimal dua tahun dengan ompong empat.

Dalam kategori Raja Pedaging, domba 'bahenol' dengan bobot terberat lah yang menjadi pemenangnya. Adapun untuk Ratu Bibit, yang dinilai ialah domba betina yang mampu menghasilkan anakan berkualitas dan berpotensi memiliki daging yang baik.

Penyelengaraan kontes seni domba garut tidak hanya untuk melestarikan budaya asli Jawa Barat. Namun juga menjadi wadah silaturahmi dan 'lapak dagang' bagi para peternak serta penggemar domba-kambing.

Ketika domba-domba bertarung di dalam arena, di luar arena harga-harga domba yang saling beradu. Hasil pertarungan di dalam arena akan menentukan harga jual domba garut di luar arena.

"Tentunya, domba yang sudah memiliki sertifikat dan piala kemenangan akan menjadi tinggi nilai jualnya dibandingkan sebelum domba itu bertarung dan menang," jelas Ragel.

Harga jual domba pemenang bahkan bisa menembus angka ratusan juta rupiah. "Ada yang tembus Rp230 juta," bisik Ragel seusai pagelaran kontes tersebut meski enggan menunjukkan domba mana yang dimaksud. (X-12)

Mau tahu kerasnya adu domba garut klik link video ini

Komentar