Seni

Peringatan 350 Tahun Traktat Breda, Hanafi Gelar Pameran Tunggal Jalur Rempah Maritim di New York

Senin, 17 April 2017 18:04 WIB Penulis: RO-Micom

MI/ATET DWI PRAMADIA

PADA awal abad ke-17, 350 tahun silam, Pulau Run (Rhun) yang sepi dan terpencil di Kepulauan Banda-Maluku, Indonesia telah menjadi persaingan dua imperium besar, VOC (Belanda) dan EIC (Inggris). Run memiliki harta rempah yang berharga yaitu pala (nutmeg). Biji tanaman Myristica fragrans itu nilainya bahkan lebih mahal dari emas.

Pala ialah kemewahan yang paling diidamkan di Eropa pada masa tersebut sebagai khasiat pengobatan dan perekonomian global. Untuk memilikinya, pala diperebutkan melalui ekspedisi pelayaran yang panjang hingga perebutan ruang melalui berbagai siasat peperangan.

Tanggal 24 Januari 1667, perjanjian Breda disepakati oleh Inggris dan Belanda. Run, diserahkan pada Belanda dan Inggris mendapatkan Pulau Manhattan, pulau tanpa rempah-rempah yang terletak di sebelah selatan ujung Sungai Hudson, satu dari lima kota yang membentuk New York yang dahulu bernama Nieuw Amsterdam.

Pertukaran itu kembali diperingati sebagai peristiwa bersejarah di New York. Konsulat Jendral Republik Indonesia-New York mengundang Hanafi untuk berpameran dalam peringatan 350 tahun Traktat Breda.

Pameran Hanafi berjuluk The Maritime Spice Road (Jalur Rempah Maritim) akan dibuka pada 23 April 2017 di Konjen RI-New York di 5 East 6th Street, New York, NY 10065 dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Hanafi akan memvisualkan pulau Run dalam karya-karya lukisan dan instalasi.

“Kapal-kapal kargo berdatangan melalui jalur rempah yang memanjang dari Asia ke Eropa. Kesibukan jalur rempah pada akhirnya mengubah peta politik dan perdagangan dunia,” tutur Hanafi menerangkan konsep pameran seperti dilansir keterangan resmi, Senin (17/4).

Riset menjadi titik pijak proses kreativitas Hanafi dalam berkarya. Tubuh yang mengalami Run untuk menangkap ruh demi pijakan karyanya ia lakukan dengan melakukan riset ke pulau Run dan Banda Neira pada awal April 2017.

Riset dilakukan bersama dengan Budi Kurniawan, filmmaker Aroma of Heaven juga dibantu para seniman dari Maluku. Kedatangannya di pulau Run dan Banda Neira disambut baik oleh masyarakat. Hasil risetnya melahirkan beberapa lukisan, sketsa dan video dokumenter.

“Bagaimana Pulau Run hari ini? Saya ingin mengatakan Indonesia di New York” tuturnya.

Pameran The Maritime Spice Road ialah pameran tahun kedua yang mengangkat tema rempah-rempah. Setelah pameran sebelumnya When the Portuguese and the Spanish left: Story of the Spices yang digelar 7-18 Mei 2016 di Institute of Hispanic of Houston- Texas USA.

Hingga saat ini, keraguan masih selalu memenuhi diri Hanafi. Sejarah yang panjang dari perebutan rempah di era kolonialisme apakah masih terus berlanjut?

Sesudah Indonesia merdeka kita tetap selalu 'meragukan' kolonialisme gaya baru. Baginya, 'kopi' menjadi komoditas yang diperebutkan saat ini dengan strategi yang baru.

Di kebun lain tanah Priangan – Jawa Barat, tanaman kopi mulai harum sampai ke New York. Tidak ada perang serupa rempah pala di kepulauan Banda. namun petani kopi sejak abad ke 18 menyebar dari Aceh sampai ujung Flores, masih juga berdiam dalam permainan harga.

“Barangkali kargo-kargo masih terus berlayar diam-diam dari pelabuhan Ende, mengangkut java coffee yang lezat, berlayar di jalur rempah yang sama dalam sepotong sejarah yang berbeda. Kargo-kargo tahu, ia sedang berlayar di laut yang sama,” ungkapnya.

Mari berlayar kembali di jalur rempah maritim. (OL-5)

Komentar