Features

Tanaman Pisang Tanduk untuk Kesejahteraan Jemaah Musala

Senin, 17 April 2017 11:20 WIB Penulis: Akhmad Safuan

Tumpukan benih tanaman pisang tanduk yang dibagikan kepada kelompok Jemaah mushola di Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. -- MI/Akhmad Safuan

CUACA di Jalur pantura, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah cukup terasa menyengat, suhu tercatat mencapai 31 derajat celcius. Namun denyut aktivitas warga tidak kunjung berhenti, kendaraan yang melintas dari arah barat (Semarang) maupun dari arah timur (Surabaya) hilir mudik tiada henti dan beberapa truk bertonase besar terlihat parkir di bahu jalan.

Di tengah-tengah suara deru mesin kendaraan dan debu yang beterbangan di jalur pantura, suasana Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang yang berjarak sekitar 34 kilometer dari Kota Rembang terlihat tenang.

Penduduk desa tersebut hari ini tambak berbahagia karena PT Semen Indonesia kembali mengeluarkan program baru untuk menggerakan roda perekonomian warga setempat.

Areal ladang dan lahan warga Desa Timbrangan yang terlihat tandus karena bertahun-tahun tidak tersentuh dan belum dikembang, mulai digarap untuk memberikan hasil yang maksimal hingga roda ekonomi berputar dan harapan masa depan warga dapat semakin jelas terlihat bersamaan mulainya produksi semen di Rembang yang dalam waktu dekat akan dilakukan.

Ribuan batang tanaman pisang tanduk yang sebelumnya tidak pernah tumbuh di desa itu dibagikan kepada ratusan Jemaah lima musala yakni Musala At-Taqwa, Al-Amin, Barokatul Falah, Al-Iklas dan Al-Hikmah untuk dibudidayakan dan dikembangkan.

Ribuan batang tanaman pisang tanduk itu diharapkan menjadi penggerak baru roda perekonomian warga sekitar pabrik yang tidak terserap langsung di pabrik semen yang baru berdiri tersebut.

Pemilihan budidaya pisang tanduk untuk warga jemaah masjid di Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem, Rembang ini cukup tepat. Selain merupakan tanaman pisang yang cukup khas dengan buah yang berkuran besar dan rasa yang nikmat seperti madu, pisang tanduk juga bernilai ekomomi cukup tinggi karena selain harga yang cukup mnahal di pasaran, juga dapat menghasilkan buah dalam usia relatif muda sekitrar 110 - 120 hari dan mampu hidup di lahan dengan kandungan tanah liat.

Budidaya tanaman pisang tanduk yang merupakan hasil kerja sama penduduk dengan Laskar Brotoseno dan Yayasan WALI ini, dibagi dalam setiap kelompok yang terdiri dari 30 orang. Setiap kelompok mendapatkan tanaman sebanyak 1.000 batang pohon yang rata-rata dengan tinbggi 1,5 meter untuk ditanam di lahan mereka. Setelah mulai panen, perekonomian warga diharapkan berangsur-angsur terdongkrak karena hasil yang maksimal.

"Kalau sudah panen, harga pisang tanduk ini cukup mahal yakni Rp2.000 per biji, bahkan di beberapa daerah di Jateng ini tanaman pisang tanduk dapat tumbuh di sekitar Pegunungan Muria, Pati dan Tulis, Batang," kata Mujayin, 45, seorang warga.

Tidak hanya memperoleh hasil panen yang akan meningkatkan ekonomi warga, lanjut Mujayin, sesuai kesepakatan para jemaah yang menerima benih tanaman pisang tanduk, juga dapat sekaligus beramal karena satu tanaman hasil panen nantinya akan diamalkan di musala.

"Kami berterima kasih kepada PT Semen Indonesia dan Laskar Brotoseno atas perhatian terhadap peningkatan kesejahteraan kami," imbuhnya.

Kepala Depaetemen CSR Semen Indonesia Wahjudi Heru mengatakan dalam menggerakkan roda ekonomi warga di sekitar pabrik kal ini PT Semen Indonesia (Persero) Tbk meluncurkan program pendampingan pemberdayaan potensi umat berbasis jemaah musala.

Program ini, demikian Wahjudi Heru, untuk mewujudkan kemandirian bagi warga desa seputar pabrik yang tidak terserap langsung bekerja di pabrik.

"Ini upaya kami untuk mendorong terciptanya keadilan dalam pemerataan ekonomi bagi warga desa seputar pabrik," tambahnya.

Program ini, lanjut Wahjidi Heru, tidsak semata mendampingi Jemaah musala seputar penanamana pisang tanduk, tetapi juga telah disiapkan pembeli siaga yang akan membeli hasil panen para Jemaah, sehingga secara perhitungan cukup menguntungkan.

"Tidak hanya di sini, tetapi di desa-desa lain seputar pabrik juga akan dilakukan hal yang sama," ujarnya.

Pimpinan Laskar Brotoseno Akhmad Akhid pemilihan varitas tanaman pisang tanduk ini mempunyai filosofi yang tinggi, yakni pohon pisang tidak akan mati sebelum tumbuh tunas yang baru. Demikian musala sebagai basis gerakan dakwah, proses kaderisasi menjadi tanggung jawab setiap umat. (OL-5)

Komentar