Features

Ketika Pulau Penjara Jadi Penyelamat Uang Negara

Senin, 17 April 2017 10:54 WIB Penulis: Liliek Dharmawan

Situasi Dermaga Sodong, Pulau Nusakambangan Cilacap, Jawa Tengah yang merupakan pintu masuk ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Pulau Nusakambangan. Kini LP Batu di Pulau Nusakambangan kini menjadi tempat sandera bagi penunggak pajak. -- LILIEK DHARMAWAN

MESKI bukanlah seorang narapidana, tetapi pihak Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) memperlakukan sama terhadap seorang wajib pajak yang disandera di LP Batu.

Sandera itu menempati sebuah sel isolasi.

Padahal biasanya, sel isolasi diperuntukkan bagi para napi yang bakal menjalani eksekusi atau mereka yang terkena persoalan. Sehingga letak el isolasi terpisah dengan kamar sel umum di LP setempat.

Begitulah yang harus dialami oleh Hs, seorang pengemplang pajak senilai Rp6,5 miliar asal Bandung, Jawa Barat.

Sesungguhnya, dia telah terkena penyanderaan sejak 9 Mei 2016 silam dan dimasukkan ke LP Kebon Waru, Bandung. Namun demikian, setelah 6 bulan masa awal penyanderaan, ternyata masih saja ia tidak mau melunasi kewajiban pajaknya. Masa penyanderaaannya pun kembali diperpanjang.

Setelah beberapa bulan berjalan, yang bersangkutan tetap belum melunasinya. Akhirnya, pada Kamis (30/4) lalu, Drektorat Jendera Pajak (DJP) Jawa Barat (Jabar) I menjebloskan Hs ke LP Batu, Nusakambangan.

"Meski telah menjalani penyanderaan sejak 9 Mei tahun lalu di LP Kebon Waru, Bandung ternyata masih belum mempan. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk memindahkan ke LP Batu, Nusakambangan. Kami melakukan itu semata-mata untuk menyelamatkan uang negara yang cukup besar, karena utang pajaknya mencapai Rp6,5 miliar. Kami berharap setelah masuk ke LP Nusakambangan, akan jera dan segera melunasi utang pajaknya," ungkap Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) DJP Jabar I Yoyok Satiotomo.

Sebetulnya, sebelum sampai penyanderaan, Kanwil DJP Jabar I telah melakukan berbagai macam proses agar yang bersangkutan mengembalikan utang pajaknya.

"Awalnya adalah peringatan. Namun setelah berkali-kali peringatan tidak dihiraukan, penyanderaan menjadi alternatif terakhir agar wajib pajak mau mengembalikan uang negara tersebut. Penyanderaan sebenarnya tidak gampang, apalagi harus sampai ke Menteri Keuangan (Menkeu). Prosesnya pun cukup panjang," ujarnya.

Sejauh ini, sudah beberapa wajib pajak yang mendekam di LP Batu, Nusakambangan. Mereka hanya bertahan beberapa hari saja.

Misalnya saja, Rs, seorang pengusaha asal Nusa Tenggara Barat (NTB) hanya bertahan sekitar 10 hari saja. Dia menghuni sebuah sel isolasi yang sebelumnya merupakan tempat mendekamnya raja narkoba Freddy Budiman sebelum dieksekusi mati.

Sebelumnya, Rs juga sempat menjalani penyanderaan di LP Mataram selama 11 bulan karena mengemplang pajak senilai Rp4,7 miliar.

Ternyata, selama 11 bulan disandera di LP Mataram, dia masih tetap bisa ditengok tiap harinya dan tetap dapat berhubungan dengan keluarga dengan mudah. Kondisi tersebut membuat ia masih enggan melunasi utang pajaknya tersebut.

Namun, begitu masuk ke LP Batu, Nusakambangan, wajib pajak tersebut merasakan betapa suasana sungguh berbeda dengan LP Mataram. Ternyata hanya dalam waktu sekitar 10 hari, dia dikeluarkan dari LP Batu karena telah melunasi.

Waktu itu, karena masih ada amnesti pajak, pajak yang seharusnya dibayar Rp4,7 milliar mendapat pengampunan, sehingga hanya membayar Rp3,1 miliar. Pembayaran dilakukan oleh keluarganya lewat bank di NTB.

Sebetulnya, pertama kali LP Batu, Nusakambangan digunakan untuk penyanderaan dilakukan oleh Kanwil DJP Jateng II dan Kantor Pajak Pratama (KPP) Cilacap.

Pada Desember 2016 silam, seorang wajib pajak asal Cilacap berinisial Bd disandera di LP Batu Nusakambangan yang mengemplang pajak senilai Rp839 juta. Ternyata, hanya dalam waktu sekitar 10 hari, dia juga langsung melunasi.

Mengapa dua wajib pajak itu hanya sebentar di LP Batu, Nusakambangan?

"Saya juga tidak tahu mengapa. Namun, barangkali di LP Batu Nusakambangan itu suasananya jauh berbeda dengan LP di luar Nusakambangan," kata Kepala LP Batu Nusakambangan Abdul Aris.

Apalagi, di LP Batu sebetulnya kan merupakan tempat para napi kelas kakap. Ada kasus terorisme, narkoba, pembunuhan dan lainnya.

"Ya meski para sandera pajak ditempatkan di sel isolasi yang selnya berbeda dengan para napi, tetap saja para sandera kaget dengan suasananya," ungkap Aris.

Dikatakan oleh Aris, sel isolasi tersebut berukuran 1,5 x 2,5 meter. Letaknya terpisah dengan sel-sel umum lainnya. Sel isolasi yang berada di LP Batu, ada sebanyak 16 kamar.

Untuk pelayanannya, wajib pajak yang disandera itu tidak memperoleh pelayanan berbeda dengan napi umum lainnya. Misalnya, soal makan, tentu tidak akan berbeda menunya dengan napi lainnya.

"Apalagi jika akan ada yang membesuk membutuhkan waktu dan tidak setiap hari dapat membesuk. Sebab, sudah ada jadwal tertentu jika akan menengok. Saya kira inilah mengapa wajib pajak tidak terlalu lama mendekam di LP Batu," ungkapnya.

Menurutnya, pihaknya telah meneken kerja sama dengan Kantor Wilayah Ditjen Pajak Jabar dan Jateng, sehingga LP di Nusakambangan siap untuk menerima wajib pajak yang disandera.

Selain di LP Batu, ada juga LP Besi dan LP Pasir Putih yang memiliki sel isolasi. Jadi, para sandera wajib pajak akan ditempatkan di sel isolasi dan bukan sel umum yang ditempati para napi.

Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cilacap Sri Sutitiningsih mengungkapkan awal mulai pihaknya memilih LP Batu, Nusakambangan setelah pihaknya melakukan permbicaraan dengan kantor lainnya di Jateng.

"Setelah melakukan penjajakan, akhirnya pilihan jatuh pada LP Batu, Nusakambangan. Sebab, dengan menjadikan LP Nusakambangan sebagai tempat penyanderaan, maka akan ampuh untuk proses penjeraan. Terbukti, sudah ada dua wajib pajak yang akhirnya mau membayari tunggakan pajaknya. Nilainya mencapai miliaran," ungkapnya.

Menurut Sri, bukan saja mereka masuk ke LP Batu, Nusakambangan yang akhirnya sadar dan mau melunasi tunggakan pajaknya. Tetapi, ternyata mereka yang baru mendengar akan dimasukkan ke Pulau Nusakambangan juga ciut nyalinya.

"Banyak lho para pengusaha yang ciut nyalinya setelah mendengar mau dimasukkan ke Pulau Nusakambangan. Ada cerita dari para pengusaha di Solo, Sukoharjo dan Purbalingga yang nilainya miliaran, akhirnya membayar sebelum disandera. Bahkan, pengusaha besar asal Jakarta yang menunggak pajak hingga Rp2,5 triliun dan asal Bangka dengan nilai Rp25 miliar, akhirnya juga melunasi," ulasnya.

Bayangkan, berapa banyak uang negara yang berhasil diselamatkan hanya karena takut masuk ke Nusakambangan.

Penyanderaan di LP Nusakambangan sesungguhnya merupakan alternatif paling akhir, setelah berkali-kali wajib pajak diperingatkan supaya merampungkan tunggakannya.

Upaya penyanderaan dilakukan untuk meraup uang negara yang dikemplang oleh wajib pajak. Pulau penjara pun menjadi pilihan sebagai penjera. (OL-5)

Komentar