Khazanah

Ikon Modernitas Seni Lukis Kaca di Jawa

Ahad, 16 April 2017 14:15 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

BAGI sebagian orang, pemandangan rumah dengan hiasan kaca bergambar di ruang tamu tentu tidak aneh. Tidak seperti lazimnya kaca yang difungsikan sebagai jendela tembus pandang, kaca ini justru diletakkan di ruang tamu. Kaca berbingkai itu digantung menempel pada dinding tembok pembatas rumah. Kadang pula, gambar kaca itu diletakkan di atas pintu masuk utama.

Ingatan itu merujuk pada zaman dulu. Kenangan kala menghabiskan masa kecil dalam suasana di sebuah kampung di pelosok Pulau Jawa. Tak banyak yang tahu, untuk apa kaca bergambar itu diletakkan di atas pintu. Sampai kemarin pun ketidaktahuan itu masih mengendap, belum menemui titik jawab sampai kemarin ketika peneliti asal Prancis Jerome Samuel memberikan ceramah tentang lukisan kaca bertajuk Reverse Glass Painting in Java: A Popular Passion in 19th and 20th Centuries di Institut Prancis di Indonesia (IFI) Jakarta (12/3), barulah kami paham itu lukisan yang memakai kaca sebagai medium. Sama seperti lukisan lain yang memakai medium berbeda, seperti kertas, kayu, kulit, dan seng. Para seniman atau perajin sering menggunakan unsur dan teknik yang sama, atau setidaknya mirip.

Menurut Jerome, lukisan kaca termasuk karya seni dekoratif. Seni itu populer di kalangan masyarakat Jawa pada abad ke-19 dan ke-20. Lukisan kaca diperkenalkan pelukis Eropa dan Tiongkok pada pertengahan abad ke-19. Lukisan itu juga menjadi ikon modernitas percampuran antara gaya Jawa, Eropa, Tiongkok, dan Islam. Bahkan, pada masa penjajahan, lukisan kaca diminati tak hanya dari pribumi, tapi juga kalangan Tiongkok dan Arab.

Meski dapat digolongkan pada seni dekoratif, lukisan kaca tersebut punya fungsi dan tema bermacam-macam. Di antaranya sebagai penanda status sosial, penanda identitas, ikatan spiritual, bahkan tolak balak. Sebagai contoh di Cirebon, terdapat sebuah rumah yang berada tidak jauh dari lokasi Keraton Kanoman Cirebon. Hal itu sekaligus menjadi tanda bahwa sang empu rumah masih termasuk kerabat keraton. "Ini tidak sekedar hiasan, tapi menunjukkan sesuatu tentang yang punya," terang peneliti sekaligus Direktur Pusat Studi Asia Tenggara di Prancis (CNRS-EHESS-INALCO).

Jerome juga mencontohkan sebuah gambar yang diambil dari sebuah rumah yang terletak tak jauh dari keraton Kasepuhan Cirebon. Terdapat sebuah pintu yang memajang lukisan kaca bertuliskan kaligrafi huruf arab. Di atasnya terdapat gambar bernama serabat yang dipakai untuk penolak balak. "Gambar kaca dulu tidak jarang digunakan sebagai penolak balak," lanjutnya.

Berbagai tema

Selain itu, seni luki kaca punya beragam tema. Sebagian besar tema dapat lukisan berkisah tentang zaman penjajahan, gaya hidup masyarakat Hindia Belanda, teknik modern, politik, dan sejarah. Meski demikian, menurut Jerome, tema yang paling umum ialah gambar wayang. Gambar tersebut biasanya berupa tokoh tunggal seperti Werkudara ataupun Arjuna. Namun, tidak jarang juga gambar berpasangan antar tokoh wayang. "Sekitar 30%-40% lukisan kaca yang saya kumpulkan dalam database saya ialah gambar wayang. Jadi tema yang paling umum ialah gambar wayang," terang peneliti yang sudah 15 tahun berkutat dengan seni kulit kaca.

Selain itu, tema yang umum ialah tema Islam. Tema ini biasanya berupa gambar burak, kaligrafi, dan masjid. Tema tersebut memang berlaku hampir di seluruh dunia Islam. Namun, ada yang unik dan membedakannya dengan gambar yang ada di Indonesia, yakni serapan dan akulturasi dengan budaya lokal. Misalnya, binatang burak digambarkan dengan muka yang sangat jawa, memakai kain batik, dan mempunyai taji.

"Di sini kita melihat burak dengan muka yang sangat Jawa, Indonesia. Bukan Arab, sudah jelas. Lihat matanya, hidungnya pesek sedikit," terangnya sembari menunjuk gambar burak.
Gambar masjid pun mengalami perpaduan. Masjidilharam di Mekah yang digambarkan mempunyai pagar, halaman dan gapura, padahal aslinya tidak. Itu menunjukkan perpaduan antara gaya Jawa dan masjid. "Jadi ini menunjukkan percampuran antara Masjidilharam di Tanah Suci dengan sejumlah makam yang terdapat di Jawa," lanjutnya.

Lukisan kaca yang saat ini terkenal berasal dari Cirebon. Namun, tidak menutup kemungkinan lukisan kaca juga terdapat di daerah lain. Berdasarkan sejarah, lukisan kaca ditemukan di Bali, Aceh, dan Sumatra Barat. Memang cukup sulit menentukan periodisasi perkembangan seni lukis kaca. Namun, berdasarkan perubahan tema garap lukisan kaca, dapat digolongkan menjadi beberapa periode. Periode pertama bermula dari dua atau tiga dasawarsa terakhir abad ke-19 sampai pascakemerdekaan.

Pada periode ini terdapat beberapa yang menandai perubahan tema, yakni perbedaan gambar masjid sebelum dan setelah kemerdekaan. Sebelum era kemerdekaan, gambar masjid yang paling populer ialah masjid Demak karena masjid itu merupakan tujuan ziarah. Namun, setelah kemerdekaan, gambar yang paling umum dan paling disukai ialah gambar Masjid Syuhada karena modern dan merujuk perang kemerdekaan. "Mungkin kalau kita cari periode. Salah satu titik yang paling penting ialah 1940-an, zaman Jepang dan perang kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka terjadi beberapa perubahan," ujar Jerome.

Perkembangan seni lukisan kaca merebak hingga 1970-an. Setelah itu hanya wilayah tertentu seperti Cirebon yang masih memelihara keberadaan seni tersebut. Setelah periode itu, seni lukis kaca yang dibuat masuk pada periode revitalisasi. "Kemudian yang terakhir akhir atau masa jaya lukisan kaca pada 1970-an. Semua yang dilukis setelah era 1970-an bisa digolongkan sebagai seni lukisan kaca yang revitalisasi," pungkasnya. (M-2)

Komentar