PIGURA

Mereformasi Kayangan

Ahad, 16 April 2017 18:00 WIB Penulis: Ono Sarwono

PADA suatu sore yang mendung, Semar duduk bersila di atas lincak bertikar mendong di teras depan rumahnya di Dusun Karang Kadempel. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecut. Tangan kanannya menepuk-nepuk paha. Secangkir teh tubruk di depannya dibiarkan dingin.

Tiga anaknya, Gareng, Petruk, dan Bagong, paham bapaknya pasti sedang gundah. Mereka tidak ingin mengganggu. Biasanya, pada waktunya nanti, Semar pasti akan bercerita sendiri.

Namun, kali ini, cukup lama Semar puasa ngomong. Petruk lalu memberanikan diri mengawali bicara. Ia meminta maaf bila sebagai anak tidak bisa membuat orangtua bahagia. Gareng dan Bagong pun senada, memohon ampun karena selama ini sering mengecewakan.

Tidak ingin anak-anaknya melantur, Semar dengan suara datar menjelaskan kegelisahannya. Dirinya lagi memikirkan perilaku para elite Amarta yang sudah kehilangan jati diri. Semakin ke sini kian banyak yang edan, kalau tidak ikut edan tidak kebagian.
Korupsi atau nyolong bukan lagi dianggap perbuatan serong. Tidak ada lagi sendi-sendi negara yang kalis dari jamahan perilaku kiri. Para elite saling berpacu menguber pemenuhan kebutuhan masing-masing.

Semar tidak ingin kerusakan mental dan jiwa elite menjadi-jadi. Oleh karena itu, sebagai pamong ia berniat mereformasi kahyangan. Ini langkah mulia agar Amarta tidak terjerembap ke jurang jahanam.

Pusaka hilang

Esok harinya, Semar mengutus Petruk untuk menghadap Raja Amarta Prabu Yudistira. Pesannya, meminjam pusaka negara Amarta, yaitu jimat kalimasada, tombak kalawelang, dan payung tunggulnaga.

Secara kebetulan, ketika Petruk tiba, di istana sedang ada pertemuan keluarga inti Pandawa (Yudistira, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa). Hadir pula paranpara mereka, Kresna. Mereka sedang membicarakan sikon kebangsaan yang dirasakan kian suram.

Setelah dipersilakan bicara apa keperluannya datang tanpa diundang, Petruk matur jujur dirinya diutus bapaknya untuk meminjam tiga pusaka Amarta. Pusaka itu akan digunakan mereformasi kayangan.

Kresna menghardik Petruk. Ia sebut Semar ngayawara (ngawur). Derajat gedibal (jelata) tapi ingin mereformasi kahyangan. Itu lancang dan sembrono. Kayangan merupakan tempat para dewa yang memiliki hak prerogatif mengatur marcapada seisinya. Kresna meminta Yudistira mengusir Petruk.

Terjadilah perdebatan sengit antara Petruk dan Kresna. Malah Petruk bersumpah tidak akan pulang bila tidak membawa tiga pusaka. Yudistira lalu menengahi dan meminta Petruk sebaiknya menunggu di alun-alun.

Tidak lama kemudian, Kresna dan Arjuna pamit. Keduanya lalu melaporkan rencana Semar tersebut ke penguasa Kayangan Jonggring Saloka Batara Manikmaya. Sementara itu, Yudistira, atas saran Sadewa, menuju gedong tempat penyimpanan pusaka. Menurut Sadewa, bila pusaka masih ada, berarti Semar keliru, tapi bila tidak ada artinya Semar benar.

Yudistira mendapati gedong kosong. Lalu ia bersama-sama ketiga adiknya, Werkudara, Nakula, dan Sadewa buru-buru menuju Karang Kadempel. Petruk yang semula menunggu kabar di alun-alun ditemani Antasena, pun bergegas kembali ke Karang Kadempel.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Kresna bersama Arjuna sampai di kayangan dan diterima Manikmaya. Kresna melaporkan Semar yang ingin mereformasi kahyangan. Manikmaya gusar dan meminta Bethari Durga dengan bala Kayangan Setragandamayit menggagalkan rencana Semar.

Diserbu siluman

Dikisahkan, keluarga Pandawa minus Arjuna sudah berkumpul di rumah Semar. Yudistira menyampaikan kabar bahwa tiga pusaka Amarta lenyap dari tempatnya. Terkait dengan itu pula, Yudistira meminta penjelasan tentang niat Semar mereformasi kayangan.

Saat Semar bersiap bersabda, mendadak Petruk menghadap melaporkan ada sejumlah pasukan yang terdiri dari para buta tanpa identitas sedang mengepung Karang Kadempel. Mereka bermaksud membumihanguskan rumah Semar dan sekitarnya.

Mendengar itu, Werkudara menjangkah keluar rumah dan langsung menghadang para perusuh. Anak-anaknya, Antareja, Gathotkaca, dan Antasena serta keponakannya, Abimanyu (anak Arjuna), tidak ketinggalan berjibaku mengusir bala tentara siluman tersebut. Namun, usaha mereka sia-sia. Setiap disirnakan, mereka hidup kembali begitu seterusnya.

Akhirnya Semar sendiri yang memberesi. Dengan senjatanya, kentut, Semar mengobrak-abrik barisan berduwak (buta). Para dedengkotnya pun tunggang langgang. Durga yang menyamar sebagai yaksa dilucuti. Semua dapat diringkus dan mereka minta maaf atas perbuatannya. Setelah kondisi aman, Semar memanggil semua momongannya, Pandawa dan putra-putranya, untuk berkumpul bersama. Ia lalu menjelaskan apa yang ia maksud dengan mereformasi kahyangan.

Kahyangan yang ia maksud ialah 'kayangannya' (mental dan kejiwaan) para elite Amarta. Menurutnya, negara yang kian jauh dari keadilan, kemakmuran, dan ketenteraman ini akibat elitenya telah kehilangan jati dirinya. Semua asyik membereskan kebutuhan masing-masing.

Bermoral dan amanah

Kehilangan jati diri itulah yang disimbolkan dengan hilangnya pusaka Amarta dari tempatnya. Pusaka jimat kalimasada merupakan lambang akan sucinya jiwa dan rohani. Inilah 'pegangan' bangsa Amarta untuk selalu ingat kepada yang Maha Esa. Pusaka ini pula tanda terjaganya moralitas.

Kemudian tombak kalawelang melambangkan akan ketajaman atau kepekaan hati dan nurani. Kehilangan pusaka ini berarti telah sirnanya budi, moral, dan etika. Wataknya bebal dan tidak tahu malu. Tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, mana halal dan mana haram.

Sementara itu, payung tunggulnaga sebagai lambang pengayom. Hilangnya pusaka ini berarti elite sudah tidak lagi memiliki jiwa kepemimpinan. Tabiat mereka selalu memikirkan dirinya sendiri. Dengan kata lain, jabatan dan kekuasaannya untuk mengayomi nafsu sendiri.

Makna Semar, yang sejatinya dewa mangejawantah, mereformasi kahyangan ini ialah membangun kembali mental dan jiwa para elite Amarta sehingga kembali ke jati dirinya. Bangsa yang memiliki dan membumikan nilai-nilai tiga pusaka ampuh tersebut demi kemakmuran rakyat.

Dalam konteks kebangsaan, cerita Semar mereformasi kayangan tersebut merupakan sindiran rakyat kepada para elite agar tidak nunjang palang (berbuat seenaknya sendiri), tapi yang memiliki moral, bernurani, dan amanah. (M-4)

Komentar